<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Elang Timur &#38; Figur Delapan</title>
	<atom:link href="http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com</link>
	<description>Kisah Sejati Tentang Perseteruan Ideologi Rahasia, Agama Dunia, dan Eksistensi Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Dec 2010 11:40:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Elang Timur &#38; Figur Delapan</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/osd.xml" title="Elang Timur &#38; Figur Delapan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jonggol Bagai Pohon Meranggas</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/jonggol-bagai-pohon-meranggas/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/jonggol-bagai-pohon-meranggas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 08:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 18 Pohon Meranggas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Setelah peristiwa kematian Mr. Pelican dan pecahnya botol yang dibawanya, kehidupan di Istana Jonggol tidak lagi sama seperti sebelumnya. Semua orang, termasuk raja dan ratu, menderita penyakit batuk berdahak darah yang seolah tak dapat disembuhkan. Penyakit ini tidak membunuh, namun membuat penderitanya kurang bersemangat dan lemas, seperti pohon yang meranggas. Berbagai dokter dan ahli medis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=184&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_185" class="wp-caption alignleft" style="width: 262px"><img class="size-medium wp-image-185" title="cough" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/cough.jpg?w=252&#038;h=300" alt="" width="252" height="300" /><p class="wp-caption-text">Batuk kelas berat melanda Jonggol</p></div>
<p>Setelah peristiwa kematian Mr. Pelican dan pecahnya botol yang dibawanya, kehidupan di Istana Jonggol tidak lagi sama seperti sebelumnya. Semua orang, termasuk raja dan ratu, menderita penyakit batuk berdahak darah yang seolah tak dapat disembuhkan.</p>
<p>Penyakit ini tidak membunuh, namun membuat penderitanya kurang bersemangat dan lemas, seperti pohon yang meranggas. Berbagai dokter dan ahli medis telah datang ke Jonggol untuk memberi pertolongan, namun selalu gagal. Bahkan, yang lebih menyedihkan, nyamuk-nyamuk ganas itu terus berkembang biak. Penyemprotan dengan insektisida telah dilakukan, namun tidak banyak membantu. Masyarakat di sekitar istana pun mengalami penyakit serupa dan mereka yang masih sehat memilih meninggalkan kawasan Jonggol.</p>
<p>Mereka tidak mengetahui bahwa penyakit itu muncul akibat konflik antara istana yang selama ini dijunjungnya melawan musuh-musuh yang ingin menghancurkannya. Bahkan, pemerintah Indonesia pun menganggap wabah ini sebagai hal yang tidak berkaitan dengan persoalan politik apa pun, melainkan hanya wabah yang bersifat alamiah.</p>
<p>Kematian Mr. Pelican dan penguburannya memang tidak pernah diketahui pihak luar mana pun, kecuali kalangan istana Jonggol yang sudah bersumpah setia untuk selalu menjaga nama baik istana, yang telah mengangkat derajat hidup seluruh warga di sekitarnya. Semua orang yang bekerja di istana menganggap penyakit ini sebagai sarana untuk menunjukkan pengorbanan mereka kepada raja dan keluarganya. Setiap hari mereka terbatuk dan mengeluarkan darah, namun tidak seorang pun di antara mereka yang mengeluh atau memaki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata setiap kali melihat raja atau permaisuri terbatuk…</p>
<p>Hingga pada suatu hari, penjaga gerbang istana berteriak-teriak, “Putri telah kembali! Putri telah kembali!”</p>
<p>Berlanjut ke Cerita 18a</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=184&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/jonggol-bagai-pohon-meranggas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/cough.jpg?w=252" medium="image">
			<media:title type="html">cough</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prahara Mr. Pelican</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/prahara-mr-pelican/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/prahara-mr-pelican/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 08:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 17 Mr. Pelican]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Mr. Pelican memacu mobilnya ke arah tenggara Jakarta. Bagaikan kesetanan, dia nyaris tidak pernah mengangkat kakinya dari pedal paling kanan. Dia menuju Istana Jonggol. Rupanya, dia berhasil lolos dari pantauan para pengawal raja karena keluar lewat pintu dan jalur lain di The Tower Kemayoran. Mr. Pelican merasa harus melakukan sesuatu yang efektif untuk meruntuhkan kerajaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=181&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_182" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-182" title="mosquito" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/mosquito.jpg?w=300&#038;h=222" alt="" width="300" height="222" /><p class="wp-caption-text">Nyamuk haus darah dan pembawa penyakit menyerang Jonggol</p></div>
<p>Mr. Pelican memacu mobilnya ke arah tenggara Jakarta. Bagaikan kesetanan, dia nyaris tidak pernah mengangkat kakinya dari pedal paling kanan. Dia menuju Istana Jonggol. Rupanya, dia berhasil lolos dari pantauan para pengawal raja karena keluar lewat pintu dan jalur lain di The Tower Kemayoran.</p>
<p>Mr. Pelican merasa harus melakukan sesuatu yang efektif untuk meruntuhkan kerajaan Jonggol. Setelah gagal menguasai pikiran dan jiwa Raja Jonggol, dia merasa sudah saatnya untuk menyerang dengan cara lain, sebuah cara yang kasar, namun mungkin efektif. Ah, dia tahu serangan ini sebenarnya tidak sepenuhnya efektif, karena ada seseorang yang sangat penting yang tidak akan terpengaruh, Putri Jonggol, yang hingga kini bahkan belum dapat ditemukan oleh orang-orang Mr. Pelican. Namun, dia memutuskan untuk tetap melakukannya, terlebih lagi setelah melihat keunggulan Raja Jonggol di meja bundar.</p>
<p>Di saku dalam jasnya, terdapat sebuah botol berukuran sedang. Mr. Pelican meraba dadanya untuk memastikan botol itu masih ada.</p>
<p>Tiba-tiba mobil diarahkannya mendekati sebuah gerbang yang sangat besar, gerbang Istana Jonggol. Para penjaga yang sudah mendapat kabar dari kepala pengawal bahwa ada kemungkinan masuknya penyusup yang lolos dari The Tower Kemayoran, segera bersiap-siap dengan senjatanya masing-masing. Namun, baru saja mereka akan bergerak menuju mobil, Mr. Pelican sudah melemparkan sesuatu ke arah gerbang dan timbul ledakan yang cukup besar. Gerbang besi itu bahkan terlempar cukup jauh. Mobil Mr. Pelican pun langsung menerobos masuk, sedangkan para penjaga tak sadarkan diri terkena ledakan.</p>
<p>Sementara itu, dari The Tower Kemayoran, Sang Raja dan ketujuh pengawalnya meluncur ke arah Jonggol. Mereka pun berpacu sekencang-kencangnya dengan sebuah Porsche Cayman SS dan Ferrari F101.</p>
<p>Sayangnya, Mr. Pelican telanjur masuk ke halaman istana, setelah memacu mobilnya di jalan lurus sepanjang tiga kilometer dari gerbang besar. Para petugas keamanan istana langsung menghadangnya dengan serentetan tembakan, tetapi ternyata Mr. Pelican cukup tangguh. Bahkan, petugas keamanan tidak sanggup menghadapi serangan balasan mantan agen rahasia ini.</p>
<p>Barulah ketika para pengawal raja menghadapinya, Mr. Pelican kewalahan. Namun, dia belum berhasil dibekuk karena berlindung di balik dinding sambil terus melancarkan tembakan dengan pistol otomatisnya yang seolah tak akan kehabisan peluru. Pada saat itulah, seorang pengawal raja berhasil mendekati posisi Mr. Pelican tanpa diketahuinya. Pengawal itu membawa sebuah tombak panjang, lalu melemparkannya ke arah Mr. Pelican. Tak bisa dicegah, tombak Pangeran Diponegoro itu menembus tubuh Mr. Pelican dari bahu belakang hingga ke depan.</p>
<p>Namun, sebelum terjatuh ke tanah, dia sempat mengambil botol dari saku jasnya dan melemparkannya ke udara, sambil berteriak, “Ini untuk rajamu dan semua orang di tempat ini! Kalian akan musnah!”</p>
<p>Para pengawal segera berlari dan melompat untuk menangkap botol itu agar tidak jatuh dan pecah. Naluri mereka mengatakan isi botol itu sangat berbahaya. Namun, terlambat, botol itu jatuh dan saat itu juga terbang ribuan serangga dari pecahan botol. Serangga-serangga itu langsung menyerang semua orang yang ada di sekitarnya. “Awas! Ada nyamuk-nyamuk ganas!” teriak para pengawal yang diikuti dengan gerakan lari berlindung ke dalam ruangan-ruangan yang ada di istana.</p>
<p>Namun, sayangnya, nyamuk-nyamuk beringas itu telanjur menyebar secara luas. Bahkan, kini mulai tak dapat dilihat karena tidak lagi bergerombol.</p>
<p>Jasad Mr. Pelican masih tergeletak di tanah ketika Raja Jonggol dan tujuh pengawalnya tiba. Raja segera memerintahkan para petugas istana untuk mengurus jenazah itu dan menguburkannya secara layak. Kemudian raja memasuki istana untuk menemui permaisurinya.</p>
<p>Berlanjut ke Cerita 18</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=181&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/prahara-mr-pelican/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/mosquito.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mosquito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembalasan dari Raja Jonggol</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/pembalasan-dari-raja-jonggol/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/pembalasan-dari-raja-jonggol/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 08:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 16 Pembalasan]]></category>
		<category><![CDATA[gajah mada]]></category>
		<category><![CDATA[Kemayoran]]></category>
		<category><![CDATA[Kujang]]></category>
		<category><![CDATA[Mandarin Oriental Bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[Menara Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[siliwangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Tiga hari setelah peristiwa di private restaurant di hotel Mandarin Oriental Bangkok, Sang Raja mendapat sepucuk surat yang isinya meminta agar dirinya menemui seseorang di sebuah private restaurant di The Tower Kemayoran, salah satu gedung tertinggi di dunia yang dibangun pada 2014-2018. Artinya, Sang Raja dan tujuh pengawalnya harus kembali ke Tanah Air. Harap dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=176&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_177" class="wp-caption alignleft" style="width: 229px"><img class="size-medium wp-image-177" title="Menara Jakarta - Jakarta Tower" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/menara-jakarta-jakarta-tower.jpg?w=219&#038;h=300" alt="" width="219" height="300" /><p class="wp-caption-text">The Tower Kemayoran</p></div>
<p>Tiga hari setelah peristiwa di private restaurant di hotel Mandarin Oriental Bangkok, Sang Raja mendapat sepucuk surat yang isinya meminta agar dirinya menemui seseorang di sebuah private restaurant di The Tower Kemayoran, salah satu gedung tertinggi di dunia yang dibangun pada 2014-2018. Artinya, Sang Raja dan tujuh pengawalnya harus kembali ke Tanah Air. <em>Harap dengan senang hati memenuhi undangan ini</em>. Demikian kalimat di akhir surat yang tanpa disertai identitas pengirim.</p>
<p>“Mereka mengundang kita lagi. Aku tak tahu apa yang kali ini mereka rencanakan. Tetapi, satu hal yang pasti, mereka percaya bahwa aku telah takluk. Aku menduga, mereka akan mulai mengendalikan diriku,” ujar Sang Raja.</p>
<p>“Apakah kita akan memenuhi undangan ini?” tanya kepala pengawal.</p>
<p>Raja terdiam. Lalu dia mulai berjalan ke sebuah meja di mana pusaka-pusaka Tanah Air diletakkan. Dia pun memegang benda-benda itu satu per satu.</p>
<p>“Mereka mengira telah menang, padahal sama sekali belum. Pertempuran yang sesungguhnya belumlah dimulai Ya, kita akan menemui mereka. Sudah saatnya untuk  menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya!” tutur Sang Raja.</p>
<p>***</p>
<p>Lagi-lagi ‘Figure of Eight’ duduk mengitari sebuah meja bundar. Apakah private restaurant ini, atau bahkan menara kebanggaan Indonesia ini, juga sudah dikuasai kelompok pria bule tua yang berjumlah delapan orang? Hmm, yang jelas, Sang Raja tidak mau kecolongan lagi. Dipasanglah sebuah detektor detak jantung di cincin kirinya, juga sebuah detektor gerak bola mata di jam tangannya. Kedua alat itu akan memberi peringatan kepada Sang Raja, berupa getaran, bila degup jantung orang-orang di dekatnya bertambah cepat atau bola matanya bergerak liar. Itu adalah tanda-tanda seseorang akan menyerang. Dengan demikian, Sang Raja akan siap melakukan antisipasi.</p>
<p>“Selamat datang, Teman,” Mr. Pelican menyapa Sang Raja yang baru saja mendekati meja bundar. Sama seperti pertemuan pertama, seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri menyambut tamunya.</p>
<p>“Terima kasih dan selamat siang,” jawab Sang Raja.</p>
<p>“Engkau kini adalah sahabat kami. Dan kami merasa senang mendapat teman seperti dirimu,” ujar Mr. Pelican yang kali ini memimpin rekan-rekannya, sedangkan Tuan Bangau lebih banyak diam dengan sikap berwibawanya.</p>
<p>“Aku juga senang mengenal kalian. Tetapi, untuk apa aku diundang ke sini?” ujar Sang Raja.</p>
<p>“Kita akan mulai melakukan beberapa pekerjaan di Indonesia. Dan karena engkau adalah tokoh di negeri ini, maka kami akan meminta pendapatmu,” jawab Mr. Pelican.</p>
<p>“Tentang apa?”</p>
<p>“Tentang bagaimana agar kita memiliki sahabat yang menjadi presiden di negeri ini. Maksud saya, tentang bagaimana membantumu agar dapat menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden.”</p>
<p>“Bukankah teman kita sudah banyak yang menjadi tokoh penting di negeri ini, misalnya menjadi menteri atau pimpinan perusaaan besar nasional?”</p>
<p>“Memang benar. Tetapi, kami memerlukan teman seorang presiden di sini, sebagaimana kami memilikinya di banyak negara lain.”</p>
<p>“Bagaimana cara kalian melakukan itu?”</p>
<p>“Tentu dengan cara yang terbaik. Kita akan mengikuti pola yang ada sekarang, sehingga memiliki legitimasi yang kuat. Tetapi, kami akan melakukan lobby internasional agar dirimu memiliki citra yang kuat di mata dunia. Bukankah di dalam negeri engkau akan mudah mendapat dukungan?”</p>
<p>Raja terdiam sesaat. Menghela napas pelan. Lalu berkata dengan mantap, “Benar. Tetapi, apakah kalian sudah sepakat dengan prinsip spiritualitas yang kami junjung tinggi?”</p>
<p>Mr. Pelican tersentak. Orang-orang lain di meja bundar pun tak kalah terkejut.<br />
“Maksudmu?” tukas Mr. Pelican.</p>
<p>“Maksudku, aku tidak dapat memimpin negeri ini hanya dengan rasionalitas semata. Kami memiliki spritualitas yang tidak dapat kami abaikan begitu saja.”</p>
<p>Serempak punggung anggota ‘Figure of Eight’ terlepas dari sandaran kursinya. Mereka merasakan ada yang kurang beres. “Mengapa darah ini gagal? Bukankah terhadap orang lain selalu berhasil? Apakah waktu itu kau sudah membaca kertasmu dengan benar?” cerocos Tuang Bangau diarahkan kepada Mr. Pelican.</p>
<p>Belum sempat Mr. Pelican menjawab, Tuan Bangau sudah mengeluarkan poci perak dari sakunya, membuka tutupnya, lalu mengguncang-guncangkannya, dan siap untuk menyiramkan isinya ke arah Sang Raja.</p>
<p>Bersamaan dengan tanda getar pada cincin dan jam tangannya, Sang Raja memasang topeng Gadjah Mada di wajahnya. Sedangkan tangan kirinya telah memegang gagang Kujang Prabu Siliwangi, dan tangan kanannya menggenggam tongkat komando patih Gadjah Mada. Sepersekian detik kemudian, darah kental melompat di udara dan mendarat di topeng yang menutupi wajah Sang Raja. Timbul suara desis seperti ular, lalu asap hitam tipis mengepul dari permukaan topeng.  Topeng yang selama berpuluh tahun diperebutkan klaim lokasi keberadaannya oleh pemda Bali dan Jawa Timur ini tampak mewakili ketenangan pemakainya.  Dan aura dari benda bersejarah itu, serta bunyi desis yang ditambah asap hitam di permukaannya, membuat para lelaki kulit putih itu terkesima.</p>
<p>Para lelaki tua bule masih duduk di tempatnya masing-masing. Wajah mereka seperti menanti sesuatu terjadi. Sejurus kemudian, di tengah kevakuman itu, Sang Raja menarik tongkat dari pinggang kanannya dan menunjuk satu per satu wajah ‘Figure of Eight’.  Sesaat setelah itu, mereka tampak kaku seperti patung.</p>
<p>Sayangnya, belum sempat giliran Mr. Pelican mendapat hipnotis, lelaki itu sudah meninggalkan ruangan dengan begitu cepat. Sang Raja memutuskan untuk membiarkan hal itu dengan asumsi para pengawalnya akan mengejar dan menangkapnya.</p>
<p>“Darah yang menempel di topeng ini adalah simbol kejahatan yang paling besar dalam sejarah manusia. Sebuah pengkhianatan terhadap cinta dan kasih sayang, meskipun kalian tidak menyadarinya. Dan kalian telah memanfaatkannya untuk tujuan yang egois. Mungkin ada niat baik bagi kemanusiaan di dalam pikiran kalian, tetapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya adalah juga sebuah kejahatan. Itulah mengapa kita memerlukan spiritualitas agar tidak tersesat di dalam tujuan yang menghalalkan cara. Itulah kompromi yang sempat kutanyakan pada kalian sebelumnya. Tetapi, kalian enggan berkompromi. Sekarang, aku minta, atas nama kebajikan yang diwariskan Tuhan ke dalam batin setiap manusia, jadilah kalian manusia yang menghayati rasa dan hati. Semua ucapanku akan selalu kalian ingat dan akan mengubah diri kalian…,” ujar Sang Raja sambil mengitari meja bundar dan menempelkan Kujang ke kepala setiap anggota ‘Figure of Eight’.</p>
<p>Berlanjut ke cerita 17</p>
<br /> Tagged: <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/gajah-mada/'>gajah mada</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/kemayoran/'>Kemayoran</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/kujang/'>Kujang</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/mandarin-oriental-bangkok/'>Mandarin Oriental Bangkok</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/menara-jakarta/'>Menara Jakarta</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/presiden/'>presiden</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/siliwangi/'>siliwangi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=176&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/pembalasan-dari-raja-jonggol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/menara-jakarta-jakarta-tower.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">Menara Jakarta - Jakarta Tower</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asal Usul &#8220;Darah Yesus&#8221;</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/asal-usul-darah-yesus/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/asal-usul-darah-yesus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 07:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 15 Penjelasan Asal Usul Darah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[“Apa yang sebenarnya terjadi di private restaurant itu, Sang Raja?” tanya kepala pengawal. “Kami melakukan perang pemikiran hingga akhirnya tidak dicapai kesepakatan. Mereka ingin agar kita bergabung dengan kelompoknya. Namun, karena aku menolak, mereka kemudian menggunakan cara lain. Dan apa yang mereka melakukan sebenarnya merupakan upaya pembunuhan mental yang sangat ampuh,” ujar Sang Raja. “Tetapi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=171&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_172" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/judas-iscariot_wa.jpg?w=300&#038;h=293" alt="" title="Judas-Iscariot_wa" width="300" height="293" class="size-medium wp-image-172" /><p class="wp-caption-text">Judas mencium Yesus, namun Yesus tahu akan terjadi penghianatan</p></div>“Apa yang sebenarnya terjadi di private restaurant itu, Sang Raja?” tanya kepala pengawal. </p>
<p>“Kami melakukan perang pemikiran hingga akhirnya tidak dicapai kesepakatan. Mereka ingin agar kita bergabung dengan kelompoknya. Namun, karena aku menolak, mereka kemudian menggunakan cara lain. Dan apa yang mereka melakukan sebenarnya merupakan upaya pembunuhan mental yang sangat ampuh,” ujar Sang Raja. </p>
<p>“Tetapi, mengapa itu tidak berhasil?”</p>
<p>“Mereka melakukan kesalahan fatal yang tidak disadari. Darah yang disiramkan kepadaku sesungguhnya bukan darah Yesus sebagaimana yang disebutkan lelaki yang tampak paling tua. Darah Yesus tidak pernah tertumpah. Yesus dijaga dengan baik oleh Tuhan. Ketika tentara Romawi yang menjajah Yerusalem mencari seorang pengkotbah yang dianggap telah merongrong kewibawaan Romawi, ada seorang murid Yesus yang berkhianat dan memberi tahu lokasi Yesus dan murid-muridnya berada. Namun, tentara Romawi tidak mengenal wajah Yesus. Jangan pernah membayangkan suasana di masa itu seperti sekarang di mana telah ada televisi atau surat kabar yang dapat menampilkan wajah seorang tokoh sehingga dikenal luas. Saat itu adalah masa kuno. Bahkan, malam  hari pun  begitu gelap karena cahaya listrik tentu belum ada. Dalam penggerebekan oleh tentara Romawi, Yesus diselamatkan oleh Tuhan dengan ketidakhadirannya di tempat dia biasa mengajar murid-muridnya. Justru si murid pengkhianat, yang muncul dalam suasana penggerebekan itu, dikira Yesus oleh tentara Romawi, karena wajahnya memang mirip dengan  Yesus. Murid-murid Yesus pun sempat menujuk dia ketika tentara Romawi  bertanya yang mana Yesus.  Ingat, pada masa itu, terlebih di malam hari, cahaya sangat minim.”</p>
<p>Para pengawal mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lalu Sang Raja melanjutkan, “Jadi,  yang ditangkap oleh tentara Romawi adalah si murid pengkhianat. Namanya, Judas Iskariot. Malam itu dia disiksa luar biasa, sehingga wajahnya rusak. Dan keesokan harinya dia diseret ke bukit yang bernama Golgota untuk disalib, setelah sebelumnya siksaannya ditambah. Orang-orang yang melihat peristiwa penyaliban menganggap orang yang disalib adalah Yesus yang selama ini hanya mereka dengar namanya. Bahkan, ibunda Yesus, yakni ibu Maria dan teman wanita Yesus, yakni Maria Magdalena, mengira orang yang disalib adalah Yesus, meski kemudian mengetahui kebenarannya. Dan pada saat Judas sudah terpancang di kayu salib, ada seorang yang bersimpati dan menampung darah yang menetes dari tubuhnya. Orang itu mengira itu adalah darah Yesus, pengkhotbah yang menyebarkan ajaran cinta kasih.”</p>
<p>“Jadi, darah yang disiramkan kepada Sang Raja adalah darah Judas?”</p>
<p>“Benar. Tetapi, aku tak mengira darah pengkhianat itu pun memiliki efek yang membuatku kehilangan kesadaran. Aku menduga, darah yang sudah berusia ribuan tahun itu telah mengandung racun, selain kekuatan kahat dari pemiliknya.”</p>
<p>“Terlepas dari soal dampak darah Judas yang sudah kita atasi, saya ingin tahu bagaimana nasib Yesus sendiri?” tanya kepala pengawal.</p>
<p>“Yesus mengetahui peristiwa penggerebekan dan penyaliban itu, termasuk kesalahan anggapan orang tentang dirinya yang dikira sudah mati di kayu salib. Dan dia memutuskan untuk tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa dirinya masih hidup. Namun, hasratnya untuk menyebarkan ajarannya masih terlalu kuat, sehingga sekitar tiga hari setelah terjadinya penyaliban atas Judas, dia muncul di muka umatnya. Tak pelak, hal ini mengundang anggapan bahwa Yesus bangkit dari kematiannya. Terlebih lagi, sebelum Yesus muncul, mayat Judas hilang dari tempat penyimpanannya. Sampai hari ini, hilangnya mayat ini terus menjadi misteri dan dibicarakan di berbagai kajian akademis arkeologi dan sejarah teologi di seluruh dunia. Ada yang berteori bahwa simpatisan Yesus, yang mengira itu mayat Yesus, telah mencurinya dan menguburkannya secara layak di tempat yang dianggap lebih pantas.”</p>
<p>Sang Raja melanjutkan, “Mendengar kabar kebangkitan Yesus, tentara Romawi kembali melakukan pencarian. Tetapi, pada saat itu, Yesus telah memutuskan untuk meninggalkan Yerusalem dan menyebarkan ajaran cinta kasihnya di tempat lain. Hingga saat ini, para arkeolog dan ahli sejarah belum dapat memastikan ke mana perginya Yesus. Ada yang menduga dia pergi ke daerah yang sekarang disebut Syiria dan ada pula yang menganggap Yesus menuju selatan Prancis. Namun, ajaran Yesus di Yerusalem justru semakin berkembang, bahkan kemudian Romawi sendiri tertarik dengan ajaran itu. Sedangkan di tempat barunya, Yesus kembali mendapatkan murid-murid. Perlu kalian ketahui pula, kepada murid-muridnya itu, Yesus mengungkapkan bahwa dia melihat suatu visi di masa depan, yakni akan adanya seorang guru dari tanah Arab yang akan menyebarkan ajaran yang mirip dengan ajarannya, bahkan menyempurnakannya. Guru itu ternyata adalah Muhammad SAW. Itulah mengapa di dalam sejarah Islam dikatakan bahwa suatu ketika di masa muda Muhammad ada pendeta Kristen yang berpesan kepada teman-teman Muhamad agar melindungi Muhammad karena dia memiliki pertanda khusus, yakni di saat matahari terik, awan-awan bergerak di atasnya sehingga melindungnya dari panas. Pendeta itu berpandangan demikian berdasarkan riwayat yang diceritakan leluhurnya, sejak ratusan tahun sebelumnya.”</p>
<p>“Beruntung Sang Raja selamat dari kekejian darah Judas&#8230;” cetus seorang pengawal.</p>
<p>“Ya, benar. Mentalku kini sudah pulih sama sekali. Tetapi, yang aku tidak mengerti, mengapa para lelaki tua di private restaurant itu yakin kalau darah Yesus dapat melumpuhkan mentalku? Aku justru berpikir sebaliknya, jika yang mengenai tubuhku adalah darah Yesus, maka efeknya justru akan baik bagiku. Agaknya mereka berpikir bahwa spiritualitas yang aku anut adalah oposisi dari spiritualitas yang disebarkan Yesus. Sungguh pikiran yang keliru dan dangkal. Mereka tidak tahu bahwa spiritualitas Yesus seirama dengan spiritualitas Muhammad, yakni sama-sama menjunjung cinta kasih.” </p>
<p>Berlanjut ke Cerita 16</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=171&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/asal-usul-darah-yesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/judas-iscariot_wa.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Judas-Iscariot_wa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesadaran Seorang Raja</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/kesadaran-seorang-raja/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/kesadaran-seorang-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 07:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 14 Kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[al aqsa]]></category>
		<category><![CDATA[Al Baqarah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[CCTV]]></category>
		<category><![CDATA[Conrad hotel]]></category>
		<category><![CDATA[Jonggol]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Abang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Melihat rajanya dilempari sesuatu dan tak sadarkan diri, kepala pengawal Jonggol yang memantau dari ruang CCTV sangat tersentak. Dalam sepersekian detik dia sempat terkesima, namun kemudian segera memerintahkan via komunikasi radio kepada enam anak buahnya yang sejak awal dimintanya menjaga di dekat private restaurant untuk mencegah siapa pun keluar dari ruangan itu. “Jangan biarkan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=165&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_167" class="wp-caption alignleft" style="width: 272px"><img class="size-medium wp-image-167" title="al_aqsa_mosque_dome" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/al_aqsa_mosque_dome.jpg?w=262&#038;h=300" alt="" width="262" height="300" /><p class="wp-caption-text">Masjid tempat Raja Jonggol mendapat inspirasi</p></div>
<p>Melihat rajanya dilempari sesuatu dan tak sadarkan diri, kepala pengawal Jonggol yang memantau dari ruang CCTV sangat tersentak. Dalam sepersekian detik dia sempat terkesima, namun kemudian segera memerintahkan via komunikasi radio kepada enam anak buahnya yang sejak awal dimintanya menjaga di dekat private restaurant untuk mencegah siapa pun keluar dari ruangan itu. “Jangan biarkan mereka meninggalkan ruangan!” teriaknya kepada anak buahnya.</p>
<p>Kepala pengawal segera mengarahkan tubuhnya untuk keluar dari ruang CCTV guna membantu anak buahnya. Namun, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di tengkuknya. Sayangnya, pukulan itu terlalu lunak bagi seorang kepala pengawal kerajaan Jonggol. Dia pun menoleh dan melihat kepala keamanan hotel, seorang bule, yang sejak tadi menemaninya di ruang CCTV sudah siap mengayunkan satu pukulan lagi. Dengan gerakan menangkis ala silat, pukulan itu dapat dinetralisir. Dan kini giliran kepala pengawal Jonggol yang melayangkan sebuah tendangan maut ke ulu hati lawannya. “Hekkk!” terdengar suara dari mulut kepala keamanan hotel, lalu dia jatuh tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya.</p>
<p>Jawara kerajaan Jonggol ini segera meninggalkan ruangan dan berlari menuju lift untuk naik ke private restaurant.  Setiba di lantai yang dituju, dia segera melihat perkelahian massal yang sedang terjadi antara enam anak buahnya dan enam lawan yang semuanya berseragam anggota keamanan hotel. Perkelahian semuanya berlangsung tanpa senjata apa pun, hanya tangan kosong. Agaknya, kedua belah pihak benar-benar menjaga agar konflik ini tidak tercium pihak mana pun. Masing-masing pihak hanya bertujuan melumpuhkan dan bukan membunuh. Namun, karena untuk urusan seperti ini para pengawal Jonggol sudah sangat terlatih, maka meski cukup sulit, enam lawan itu dapat dilumpuhkan.</p>
<p>Jawara Jonggol kemudian mendobrak pintu private restaurant. Tetapi, betapa terkejutnya dia ketika mendapati meja bundar telah nyaris kosong. Tak ada lagi &#8216;Figure of Eight&#8217;. Yang tertinggal di dekat meja hanya Sang Raja. Tak bisa lagi menahan emosinya, jawara Jonggol langsung memeluk Sang Raja yang terduduk lesu dengan tatapan mata kosong. Tangis pengawal berbadan kekar itu nyaris meledak, namun saat itu juga dia memerintahkan anak buahnya agar merintis jalan keluar dari Mandarin hotel dan membawa Sang Raja ke Conrad hotel. “Pasti ada pintu keluar rahasia di ruangan ini sehingga kalian bisa lolos. Awas! Kami akan membalas apa yang telah kalian lakukan! Sampai kapan pun, kerajaan Jonggol tidak bisa menerima perlakuaan ini!” geram sang jawara.</p>
<p>Di kamar khusus di Conrad hotel, jawara Jonggol membaringkan rajanya di tempat tidur. Sesungguhnya, sang jawara tidak tahu pasti apakah yang dilakukannya sudah benar atau tidak. Yang diikutinya hanyalah perintah rajanya agar tidak memberitahukan kepada siapa pun segala yang terjadi di Bangkok, termasuk kepada permasuri di Jonggol.  Dia hanya duduk di samping tempat tidur, sambil memegang tangan tuannya yang masih menatap ke depan dengan pandangan kosong.</p>
<p>Perlahan air mata meleleh di pipi sang jawara. Dia teringat peristiwa belasan tahun lalu, ketika pada suatu malam bertemu dengan seorang lelaki bertubuh sedang di kegelapan kawasan Tanah Abang. Dia mengeluarkan pisau lipat dan mengancam lelaki itu agar memberinya uang. Saat itu, dia begitu pening dengan rengekan anaknya yang kehabisan susu, serta makian istrinya yang selalu mencela pekerjaannya sebagai preman. Tanpa diduganya, lelaki itu memberinya banyak uang, lebih banyak dari yang dibayangkannya bila menodong seseorang. Bahkan, lelaki itu mengajaknya duduk di tepi jalan dan mengatakan dapat membantunya lebih dari sekadar uang, bila bersedia menjadi temannya. Tentu saja, si preman menyambut ajakan persahabatan itu, meski awalnya sempat khawatir kalau-kalau lelaki itu adalah polisi. Dan peristiwa itu adalah satu babak hidupnya yang paling sering dikenangnya. Si preman yang bertubuh tinggi besar dengan kulit kehitaman dan rambut keriting, namun wajahnya tampan, kini tengah menitikkan air mata menatap wajah si lelaki yang terbaring dengan tatapan kosong.</p>
<p>Tiba-tiba, di pikirannya tercetus suatu ide. Dia segera mengambil Al Qur&#8217;an dan mulai membaca surat Al Ikhlas, surat yang disukai Sang Raja, berulang-ulang.  Selama sekitar satu jam, dia melakukan itu. <em>Katakanlah bahwa Allah itu Mahaesa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Allah tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.</em></p>
<p>Tiba-tiba Sang Raja terbatuk-batuk. Setelah itu matanya terpejam, tak lagi terbuka dengan tatapan kosong. Kali ini, ia seperti sedang tertidur. Melihat hal ini, jawara Jonggol merasakan hadirnya harapan. Dia pun kembali membuka Al Qur&#8217;an dan membaca surat Al Baqarah ayat 255 atau yang lebih dikenal dengan &#8216;ayat kursi&#8217;.</p>
<p>Setelah sekitar dua jam tertidur, Sang Raja terbangun. Di dekat tempat tidur, ketujuh pengawalnya berdiri mengitarinya. Sang Raja tersenyum. Seluruh pengawal pun bersorak dan menguacapkan &#8216;alhamdulillah&#8217;.</p>
<p>“Aku mendengar surat-surat yang engkau bacakan, Pengawalku,” ujar Sang Raja, “Namun, saat itu aku tidak dapat menguasai diriku. Seluruh tubuhku tak dapat kugerakkan. Bahkan, untuk berbicara atau memejamkan mata pun aku tak sanggup. Sampai kemudian aku melihat gambaran anak kecil yang pernah aku temui di masjid Al Aqsa. Anak itu mengajakku ke suatu bagian di masjid itu dan menyuruhku menyentuh tembok yang ditunjukknya. Setelah itu, aku mulai bisa merasakan lagi tubuhku. Dan setelah itu aku tertidur.”</p>
<p>Berlanjut ke cerita 15</p>
<br /> Tagged: <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/al-aqsa/'>al aqsa</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/al-baqarah/'>Al Baqarah</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/al-ikhlas/'>Al Ikhlas</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/al-quran/'>Al Quran</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/bangkok/'>Bangkok</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/cctv/'>CCTV</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/conrad-hotel/'>Conrad hotel</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/jonggol/'>Jonggol</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/silat/'>silat</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/tanah-abang/'>Tanah Abang</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=165&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/03/26/kesadaran-seorang-raja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/03/al_aqsa_mosque_dome.jpg?w=262" medium="image">
			<media:title type="html">al_aqsa_mosque_dome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita 13 Pertempuran</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/05/cerita-13-pertempuran/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/05/cerita-13-pertempuran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 09:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 13 Pertempuran]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[dogma]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[Jonggol]]></category>
		<category><![CDATA[poci]]></category>
		<category><![CDATA[rasionalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/05/cerita-13-pertempuran/</guid>
		<description><![CDATA[Seluruh anggota &#8216;Figure of Eight&#8217; berdiri ketika Raja Jonggol telah mendekati meja. Tuang Bangau lantas mempersilakan Sang Raja duduk. Kini meja telah dikelilingi sembilan orang yang semuanya duduk dengan sopan, meski aura ketegangan tak bisa disembunyikan. “Anda adalah pemimpin yang penuh keberanian&#8230;” ujar Tuan Bangau. Ucapan ini disampaikan dengan nada yang mengisyaratkan bahwa Sang Raja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=159&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_160" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-160" title="cup jesus" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/02/cup-jesus.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Poci darah Yesus (ilustrasi) yang disiramkan ke Raja Jonggol</p></div>
<p>Seluruh anggota &#8216;Figure of Eight&#8217; berdiri ketika Raja Jonggol telah mendekati meja. Tuang Bangau lantas mempersilakan Sang Raja duduk. Kini meja telah dikelilingi sembilan orang yang semuanya duduk dengan sopan, meski aura ketegangan tak bisa disembunyikan.</p>
<p>“Anda adalah pemimpin yang penuh keberanian&#8230;” ujar Tuan Bangau. Ucapan ini disampaikan dengan nada yang mengisyaratkan bahwa Sang Raja berada dalam kondisi terancam.</p>
<p>“Kalian semua adalah orang-orang yang lebih berani&#8230;” jawab Sang Raja dengan nada yang tak kalah berbobot. Kalimat ini pun membuat &#8216;Figure of Eight&#8217; cukup merasa bahwa diri mereka mendapat lawan sepadan.</p>
<p>“Kami minta Anda untuk bekerja sama dengan kami, membangun tatanan dunia yang lebih baik,” ujar Tuan Bangau.</p>
<p>“Apakah kita telah memiliki pandangan yang sama tentang tatanan dunia yang lebih baik itu?” jawab Sang Raja.</p>
<p>“Marilah kita bicarakan masalah itu,” cetus Tuan Bangau. Dalam hal ini, dia mendapat “angin” untuk menggiring pikiran Sang Raja pada ide-ide kelompoknya. Sang Raja menyadari hal ini, namun membiarkannya.</p>
<p>“Silakan&#8230;” ujar Sang Raja.</p>
<p>“Baiklah. Kita, manusia, adalah makluk yang mandiri. Kita diciptakan dengan kemampuan untuk mengendalikan diri kita sendiri. Karena itu, kita berhak menentukan tatanan kehidupan secara mandiri, tanpa campur tangan siapa pun. Anda melihat, campur tangan pihak luar telah melahirkan peperangan dan kesengsaraan pada peradaban manusia sepanjang sejarahnya. Agama-agama dari makhluk yang bernama malaikat telah memisah-misahkan manusia, bahkan saling bermusuhan dan membunuh&#8230;”</p>
<p>“Bagaimana dengan agama-agama buatan manusian sendiri? Bukankah juga menimbulkan permusuhan di antara manusia?”</p>
<p>Tuan Bangau menjawab, “Yang kami persoalkan sesungguhnya bukan agamanya, melainkan spriritualitasnya. Spiritualitas semua agama lahir dari ketakutan manusia terhadap alam dan hal-hal yang belum dapat dipahaminya secara rasional. Perlu Anda ketahui, bila spiritualitas dari malaikat tidak menyesatkan manusia, kami pun tidak mempersoalkannya. Tetapi, kenyataannya, semua agama, baik yang buatan manusia ataupun malaikat, tidak banyak membantu dalam mencapai kemajuan manusia. Anda bisa melihat, segala kemajuan yang kita capai sekarang ini adalah hasil rasionalitas. Segala macam ilmu dan teknologi yang bermanfaat bagi manusia berasal dari rasionalitas. Bahkan, Anda sendiri mampu memimpin masyarakat Anda dengan teknologi, bukan dengan spiritualtias, apalagi dogma agama.”</p>
<p>Sang Raja sedikit tertegun, namun kemudian berkata, “Bukankah kemandirian manusia yang Anda maksud juga telah digunakan manusia untuk memilih? Dalam hal ini, memilih beragama atau tidak. Anda bisa melihat ada manusia yang memilih tidak beragama, bahkan tidak ber-Tuhan, selain manusia yang bergama. Perlu Anda sadari, beragama atau tidak adalah hak manusia untuk memilihnya, sesuai kemandirian akal dan budinya. Menurut saya, malaikat atau siapa pun sudah telanjur menyebarkan agama kepada manusia, dan ini tidak bisa dicegah lagi. Sekarang tinggal manusia sendiri yang menggunakan haknya untuk memutuskan memilih agama atau tidak. Contohnya, Anda memilih tidak beragama, sedangkan saya memilih beragama. Mengapa kita tidak saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai?”</p>
<p>Sampai sejauh ini, Tuan Bangau dan anggota &#8216;Figure of Eight&#8217; lainnya menjadi terdiam. Wajah-wajah mereka tetap tampak tenang, namun ketegangan semakin memuncak yang terlihat dari sorot mata mereka.</p>
<p>“Hidup berdampingan secara damai adalah impian semu dalam hal ini. Bagaimana bisa damai bila ketika kami meminum alkohol maka kalian mengutuk kami? Bagaimana bisa damai bila pola hubungan seks kami kalian jadikan alasan untuk melempari pelakunya dengan batu hingga mati? Dan masih banyak lagi pertentangan-pertentangan yang tidak dapat dicari solusinya. Selamanya, agama akan menghambat hubungan antar-manusia,” tutur Tuan Bangau.</p>
<p>Sang Raja menimpali, “Mengapa Anda begitu yakin bahwa rasionalitas adalah hal terbaik bagi manusia? Bukankah rasionalitas juga menghasilkan permusuhan antar-manusia? Sebagai contoh, sistem keuangan adalah salah satu mesin permusuhan yang paling dahsyat saat ini. Selain itu, manusia menjadi lebih berpotensi untuk bertikai karena adanya teknologi senjata. Itu belum termasuk pengorbanan kemanusiaan demi kepentingan teknologi atau industri.”</p>
<p>“Kami yakin bahwa rasionalitas pada akhirnya akan membahagiakan seluruh manusia, sejauh syaratnya terpenuhi.”</p>
<p>“Apa syaratnya?”</p>
<p>“Hilangnya seluruh spiritualitas kuno dari muka bumi.”</p>
<p>“<em>Tidak ada kompromi?</em>”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Kalau begitu, saya tidak bisa bergabung dengan Anda semua.”</p>
<p>“Kami pun tidak akan membiarkan Anda terus menyebarkan keyakinan Anda.”</p>
<p>“Apa yang akan Anda lakukan?”</p>
<p>Hening. Tak ada lagi yang bersuara di ruangan itu. Kali ini, wajah-wajah &#8216;Figure of Eight&#8217; berubah menjadi tegang. Tiba-tiba, Tuang Bangau mengeluarkan sebuah poci kecil, mengguncang-guncangkannya, membuka tutupnya, lalu menyiramkan isinya ke wajah Raja Jonggol, sambil berteriak, “Ini warisan spiritualitas kuno yang dijaga selama berabad-abad oleh orang yang meyakininya, sekarang akan menaklukkan dirimu. Ini darah Yesus!”</p>
<p>Raja Jonggol tak sempat mengelak. Darah kental yang sudah berusia ribuan tahun itu pun menerpa wajahnya. Saat itu juga, Sang Raja tak sadarkan diri. Mr. Pelican kemudian menyeka wajah Sang Raja sehingga bersih, lalu menegakkan kepala Sang Raja hingga posisi duduknya sempurna. Mr. Pelican kemudian mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya. Dia lalu membacakan sesuatu dalam bahasa Indonesia, “<em>Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku</em>.&#8221; Kalimat itu dibacanya hingga tujuh kali.</p>
<p>“Setelah sadar nanti, dia akan menjadi pengikutmu yang setia Mr. Pelican. Apa pun yang engkau katakan, akan dipatuhinya. Peliharalah dia baik-baik dan jadikan dia bidak kita yang paling berharga di dunia timur,” papar Tuan Bangau dengan nada lega dan puas. “Wild Rose dan Letter of the Death telah berfungsi dengan baik,” imbuhnya.</p>
<p>Tuan Bangau pun memberi tanda dengan bahasa tubuh agar &#8216;Figure of Eight&#8217; meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Sang Raja sendirian hingga tersadar. Wajah mereka terlihat senang sekali. Terlebih Mr. Pelican yang senyum alamiahnya semakin kentara.</p>
<p><strong>berlanjut ke cerita 14</strong></p>
<br /> Tagged: <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/agama/'>agama</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/darah/'>darah</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/dogma/'>dogma</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/industri/'>industri</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/jonggol/'>Jonggol</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/poci/'>poci</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/rasionalitas/'>rasionalitas</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/yesus/'>Yesus</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=159&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/05/cerita-13-pertempuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/02/cup-jesus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cup jesus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita 12: Pertemuan di Bangkok</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/03/cerita-12-pertemuan-di-bangkok/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/03/cerita-12-pertemuan-di-bangkok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 10:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 12 Pertemuan di Bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Arjuna]]></category>
		<category><![CDATA[arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Ayodhyapura]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[CCTV]]></category>
		<category><![CDATA[Conrad hotel]]></category>
		<category><![CDATA[ekskavasi]]></category>
		<category><![CDATA[Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[gajah mada]]></category>
		<category><![CDATA[istana]]></category>
		<category><![CDATA[Jonggol]]></category>
		<category><![CDATA[Mandarin Oriental Hotel]]></category>
		<category><![CDATA[Pelican]]></category>
		<category><![CDATA[pria tua]]></category>
		<category><![CDATA[siliwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=151&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_153" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-153" title="conrad hotel" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/02/conrad-hotel.jpg?w=300&#038;h=208" alt="" width="300" height="208" /><p class="wp-caption-text">Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung</p></div>
<p>Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.</p>
<p>Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.</p>
<p>“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.</p>
<p>Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”</p>
<p>“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.</p>
<p>“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”</p>
<p>“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”</p>
<p>Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.</p>
<p>Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota &#8216;Figure of Eight&#8217; duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.</p>
<p>“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.</p>
<p>“Mereka menunggu kita di luar rumahnya&#8230;” ujar seorang yang lain.</p>
<p>“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani&#8230;” komentar yang lain lagi.</p>
<p>“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita&#8230;” cetus seorang yang lainnya.</p>
<p>“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,<br />
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”</p>
<p>Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”</p>
<p>Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.</p>
<p>Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota &#8216;Figure of Eight&#8217; pun kembali berkumpul.</p>
<p>“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.</p>
<p>“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.</p>
<p>“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.</p>
<p>“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.</p>
<p>Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.</p>
<p>Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV&#8211; untuk ikut campur.</p>
<p>Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.</p>
<p>&#8216;Figure of Eight&#8217; telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.</p>
<p>&#8211;berlanjut ke cerita 13&#8211;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/arjuna/'>Arjuna</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/arkeologi/'>arkeologi</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/ayodhyapura/'>Ayodhyapura</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/bangkok/'>Bangkok</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/cctv/'>CCTV</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/conrad-hotel/'>Conrad hotel</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/ekskavasi/'>ekskavasi</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/eropa/'>Eropa</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/gajah-mada/'>gajah mada</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/istana/'>istana</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/jonggol/'>Jonggol</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/mandarin-oriental-hotel/'>Mandarin Oriental Hotel</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/pelican/'>Pelican</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/pria-tua/'>pria tua</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/siliwangi/'>siliwangi</a>, <a href='http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/tag/singapura/'>Singapura</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=151&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2010/02/03/cerita-12-pertemuan-di-bangkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2010/02/conrad-hotel.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">conrad hotel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rajah Khan yang Pilu</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/10/01/rajah-khan-yang-pilu/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/10/01/rajah-khan-yang-pilu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 10:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 11a Rajah Khan yang Pilu]]></category>
		<category><![CDATA[arkeolog]]></category>
		<category><![CDATA[Asia Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Catherine]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[diperkosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hunza]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[intel]]></category>
		<category><![CDATA[jiu jitsu]]></category>
		<category><![CDATA[Jonggol]]></category>
		<category><![CDATA[Kashgar]]></category>
		<category><![CDATA[lelaki]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Rajah Khan]]></category>
		<category><![CDATA[Rakaposhi]]></category>
		<category><![CDATA[Timur Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihatnya hanya sebagai seorang lelaki Hunza yang polos. Hasrat kelelakian khas pria Asia Tengah –yang menurutku mungkin mirip dengan karakter lelaki Timur Tengah&#8211; telah membuatnya mendekati diriku. Aku wanita cantik &#8211;tanpa bermaksud takabur&#8211; dan juga seksi. Yup, cuma sebatas itu pemahamanku tentang hubunganku dengan Rajah Khan. Ada gula, ada semut. Ada wanita berpenampilan menarik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=146&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_148" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-148" title="PortraitofLubyBaltitFortKarimabadHunzaValleyPakistan" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/10/portraitoflubybaltitfortkarimabadhunzavalleypakistan.jpg?w=300&#038;h=216" alt="Salah satu wanita yg sering bertegur sapa denganku di Hunza" width="300" height="216" /><p class="wp-caption-text">Salah satu wanita yg sering bertegur sapa denganku di Hunza</p></div>
<p>Aku melihatnya hanya sebagai seorang lelaki Hunza yang polos. Hasrat kelelakian khas pria Asia Tengah –yang menurutku mungkin mirip dengan karakter lelaki Timur Tengah&#8211; telah membuatnya mendekati diriku. Aku wanita cantik &#8211;tanpa bermaksud takabur&#8211; dan juga seksi. Yup, cuma sebatas itu pemahamanku tentang hubunganku dengan Rajah Khan. Ada gula, ada semut. Ada wanita berpenampilan menarik, ada pria yang mendekati. Aku juga perlu teman di negeri asing, dan Rajah perlu wahana untuk menyalurkan jiwa lelakinya. Selesai.</p>
<p>Tetapi, rupanya, kali ini, aku terlalu dangkal dalam berpikir. Mungkin karena sesungguhnya akulah yang polos. Ya, mungkin aku memang polos dan tolol! Dan Rajah adalah seorang pria rumit yang sukses dengan misinya. Rajah bukanlah pria yang berpikir dengan benda di antara dua pangkal pahanya, sebagaimana yang selama ini aku sangkakan padanya. Aku telah salah menduga. Aku bodoh!</p>
<p>Betapa tidak! Ketika aku tiba dari Kashgar, dan menyelinap diam-diam ke penginapanku di Hunza, jantungku nyaris lepas karena ada seorang lelaki yang telah menungguku di dalam kamar. Dialah Rajah. Aku berpikir dia akan melampiaskan rasa cintanya yang selama ini diucapkannya, secara membabi buta, kasar, dan biadab. Aku merasa akhirnya tiba juga hari tanpa kemujuran itu. Aku pun siap untuk berkelahi melawan dia. Hidup atau mati. Tiba pula saat di mana ilmu jiu-jitsu yang aku pelajari selama di Indonesia untuk digunakan. Aku tak pernah bisa diperkosa! Itu sumpahku.</p>
<p>Tapi, tiba-tiba suara lembut yang biasa kudengar itu keluar dari bibirnya. “Maafkan aku karena menerobos kamarmu. Tapi, aku harus melakukannya. Kita harus bicara&#8230;”</p>
<p>Tubuhku yang siaga, tiba-tiba melunak. Otot-ototku mengendur kembali. “Ada apa Rajah?” tanyaku dengan suara lembut juga. Aku berusaha makin melunakkan suasana, agar situasi terkendali.</p>
<p>“Aku tahu kepergianmu ke Kashgar. Aku juga tahu kau menjumpai siapa dan apa yang kau bicarakan,” tutur Rajah.</p>
<p>Hah?! Gawat! Rajah mata-mata militer China?! Mata-mata musuh Jonggol?! Matilah aku. Seketika mataku langsung menelisik ke luar lewat jendela kamarku, kalau-kalau sejumlah intel China atau siapa pun telah datang dan siap menangkapku. Ternyata tak ada siapa-siapa. Hanya puncak Rakaposhi yang tampak selalu bersalju begitu indahnya. Aku beringsut dari posisiku berdiri mendekat ke arah jendela. Aku siap untuk melompat keluar. Pintu bukanlah jalur yang akan kutempuh, karena pasti di baliknya telah siap sejumlah orang untuk meringkusku.</p>
<p>“Tenanglah&#8230; aku ada di pihakmu&#8230;,” tiba-tiba suara Rajah memecah kesunyian. “Kami akan membantumu&#8230; Duduklah&#8230;”</p>
<p>Duduk?! Aku tetap berdiri. Dan Rajah pun bicara lagi. “Sudah lama aku menanti saat ini, untuk bicara dengan seorang yang seharusnya mengetahui siapa diriku, dan dapat bekerja sama denganku&#8230;”</p>
<p>Aku sedikit tercengang. Kali ini Rajah kelihatan berbeda, dia lebih serius, sekaligus misterius. Tapi, aku tetap diam, sambil waspada, dan penasaran tentang siapa dirinya.</p>
<p>Rajah melanjutkan, “Aku tahu tentang adanya orang kuat di Indonesia, di Jonggol, yang banyak melakukan terobosan penting untuk dunia Islam. Aku juga mendengar sekarang pihaknya sedang dilanda masalah besar dalam bentuk penyakit misterius. Aku juga ingin bilang bahwa sudah lama kami ingin berkomunikasi dengannya, meski belum terwujud. Tapi, terus terang aku tak menyangka salah satu kunci penting Jonggol ada di sini, di depanku.”</p>
<p>Sampai di sini aku belum menangkap inti dari pembicaraan Rajah. Tapi, melihat wajahnya yang masih siap meneruskan kata-katanya, aku pun tetap diam.</p>
<p>“Aku memang selama ini memantau dirimu, siang dan malam. Setiap kegiatan dan perilakumu tak luput dari pengamatan. Termasuk kepergianmu ke Kashgar. Dari pemantauan di Kashgar itulah kami tahu siapa dirimu dan memutuskan untuk melindungi sekaligus bekerja sama dengan pihakmu.”</p>
<p>Mulai terasa jelas arah pembicaraan Rajah. Dia ingin melindungi dan bekerja sama dengan aku. Dan untuk kedua kalinya dia menggunakan pronomina kami, yang berarti Rajah tidak sendirian dalam hal ini.</p>
<p>Sayangnya, Rajah kemudian kelihatan tak akan melanjutkan kalimat-kalimatnya. Dia sepertinya memancing diriku untuk menanggapi. Tapi, aku memilih diam juga. Aku menguji moralnya. Bila dia jujur dan sungguh-sungguh, maka pembicaraan ini akan berlanjut dengan baik. Tapi, bila dia punya niat kurang baik, maka sedikit demi sedikit akan terkuak.</p>
<p>Dan mungkin Rajah jujur, karena dia melanjutkan ucapannya. “Kami akan membantumu untuk bisa keluar dari Pakistan dan kembali ke negaramu. Tentu saja, setelah engkau meramu obat sebagaimana yang disarankan arkeolog Prancis di Kashgar. Cepat atau lambat, musuh Jonggol akan menemukanmu di sini, karena militer China juga sudah tahu siapa sesungguhnya dirimu. Setiap konfirmasi intelijen yang dilakukan militer China akan mengungkap identitasmu yang sesungguhnya, hingga tercium oleh musuh Jonggol yang telah menyebar penyakit misterius itu.”</p>
<p>Yup, akhirnya terungkap juga hal konkret dari rangkaian ucapan Rajah. Dan terus terang itu adalah tawaran yang menarik bagiku. Tetapi, apakah dia begitu sukarela membantuku, tanpa imbalan?</p>
<p>Aku bertanya, “Lalu apa yang harus kuperbuat untukmu bila aku bersedia kau bantu untuk keluar dari Pakistan?”</p>
<p>Rajah menghela napas. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan dilipat di dada. Suatu bahasa tubuh yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Kami hanya ingin engkau selamat dan kembali ke negerimu. Itu saja. Sukar dipercaya? Perlu kau tahu, suatu saat nanti kami akan datang ke Jonggol dan bicara dengan kalian tentang banyak hal. Tapi, rencana itu tak akan berhasil jika engkau tidak selamat. Rencana kami untuk bekerja sama dengan pihakmu akan gagal bila penyakit misterius yang menyerang Jonggol tidak segera diatasi. Selain itu, bila engkau tertangkap atau mati oleh musuh Jonggol, rencana kami juga bisa batal, sebab engkau adalah penerus kepemimpinan kaummu. Karena itu, keselamatan dirimu adalah berkah bagi kami,” bebernya.</p>
<p>Tapi, bagaimana aku bisa mempercayainya? Apakah Rajah bersih dari musuh Jonggol? Atau justru dia akan menggiringku ke mulut harimau?</p>
<p>Di tengah kebimbanganku, Rajah bicara lagi. “Catherine&#8230;,” dia memulainya dengan menyebut namaku, sebagaimana biasanya bila dia merayuku. Kali ini aku merasa Rajah yang “asli” sudah kembali. “Kalau kami adalah musuh Jonggol, maka aku tak akan bicara panjang lebar padamu. Kami akan langsung meringkusmu sejak tadi. Engkau tidak dikenal di sini. Orang-orang di sini melihatmu hanyalah seorang turis.”</p>
<p>Ah, benar juga Rajah. Dia sepertinya jujur. Dan aku mulai sedikit mempercayainya. Seketika itu juga aku teringat hal-hal “aneh” yang kutangkap dari Rajah selama beberapa bulan aku di Hunza. Berbagai hal yang semula hanya kuanggap sebagai ekspresi dirinya. Seperti misalnya, dia suka gonta-ganti potongan rambut, makan dengan tangan kanan tapi di kesempatan lain dengan tangan kiri, dan menghilang bila aku ingin jumpa dan datang sesukanya. Bahkan, pernah suatu ketika aku melihat di sekujur lengannya terdapat bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk. Aku mengira dia terkena penyakit kulit, tetapi beberapa hari kemudian tangannya kembali mulus.</p>
<p>Aku memang terlalu polos dalam memandang Rajah. Aku telah “tertipu” oleh sikap manisnya kepadaku. Ternyata dia adalah “seseorang”. Aku sekarang tahu dia adalah orang yang memiliki tugas penting untuk kaumnya. Bahkan, mungkin dia juga seorang pembuat konsep, sekaligus operator lapangan dari rencana kaumnya.</p>
<p>Setelah aku menyetujui rencana pelarianku untuk keluar dari Hunza, aku dan Rajah pun kembali ke suasana yang biasa kami lalui, rileks dan mengalir bagai air sungai di Jonggol yang permai.</p>
<p>Dia sempat berkata, “Kematian ayahku telah membuat ibuku menjauhkan aku dari kegiatan yang pernah digelutinya bersama ayahku. Dan ibuku berhasil. Dia benar-benar telah &#8216;menghilangkan&#8217; dirinya. Tidak ada yang mencari atau menghubunginya sama sekali. Menurut perkiraanku, ibuku dianggap hanyalah seorang istri, murni istri, dari seorang pejuang. Tidak lebih. Sampai kini, dia benar-benar tidak dianggap siapa-siapa,” papar Rajah. Lalu ia melanjutkan dengan nada masgul, “Tapi, aku sebagai anaknya, telah mengkhianati tekad ibuku untuk hidup sebagai orang biasa. Dan ibuku tidak tahu apa yang telah kulakukan selama ini&#8230;”</p>
<p>Rupanya, Rajah adalah seorang &#8216;pejuang kaumnya&#8217;. Pejuang yang melawan penindasan pihak lain yang dianggapnya sebagai kejahatan. Pihak yang mungkin sama dengan yang sekarang mengancam Jonggol.</p>
<p>&#8211;Berlanjut ke cerita 12&#8211;<ins datetime="2009-10-02T06:00:00+00:00"></ins></p>
<br /> Tagged: arkeolog, Asia Tengah, Catherine, China, diperkosa, Hunza, Indonesia, intel, jiu jitsu, Jonggol, Kashgar, lelaki, militer, Prancis, Rajah Khan, Rakaposhi, Timur Tengah, wanita cantik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=146&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/10/01/rajah-khan-yang-pilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/10/portraitoflubybaltitfortkarimabadhunzavalleypakistan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">PortraitofLubyBaltitFortKarimabadHunzaValleyPakistan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi Sudah Canggih, Mengapa Bermain Senjata Kuno?</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/03/30/teknologi-sudah-canggih-mengapa-bermain-senjata-kuno/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/03/30/teknologi-sudah-canggih-mengapa-bermain-senjata-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 08:39:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 11 Teknologi Sudah Canggih, Mengapa Bermain Senjata Kuno?]]></category>
		<category><![CDATA[baduy]]></category>
		<category><![CDATA[diponegoro]]></category>
		<category><![CDATA[gadjah mada]]></category>
		<category><![CDATA[gajah mada]]></category>
		<category><![CDATA[geusan ulun]]></category>
		<category><![CDATA[hayam wuruk]]></category>
		<category><![CDATA[kuno]]></category>
		<category><![CDATA[pajajaran]]></category>
		<category><![CDATA[senjata]]></category>
		<category><![CDATA[siliwangi]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sumedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Ruang peraduan ini sangat indah. Seluruh dindingnya dilapisi kain warna putih dan merah jambu yang disinari lampu di baliknya. Sedangkan langit-langitnya merupakan layar plasma raksasa tempat bermainnya ribuan cahaya berwarna-warni. Juga layar bagi televisi dan film. Tidak ada tempat tidur di ruangan itu. Sebab, seluruh lantainya adalah matras empuk dengan bahan lembut. Ini benar-benar sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=111&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_112" class="wp-caption alignleft" style="width: 249px"><img class="size-medium wp-image-112" title="kujang" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/03/kujang.jpeg?w=239&#038;h=300" alt="Kujang Siliwangi. Sanggup patahkan baja. Orang bule takluk?" width="239" height="300" /><p class="wp-caption-text">Kujang Siliwangi. Sanggup patahkan baja. Orang bule takluk?</p></div>
<p><span></span>Ruang peraduan ini sangat indah. Seluruh dindingnya dilapisi kain warna putih dan merah jambu yang disinari lampu di baliknya. Sedangkan langit-langitnya merupakan layar plasma raksasa tempat bermainnya ribuan cahaya berwarna-warni. Juga layar bagi televisi dan film. Tidak ada tempat tidur di ruangan itu. Sebab, seluruh lantainya adalah matras empuk dengan bahan lembut. Ini benar-benar sebuah ruangan tanpa furniture atau perlengkapan lain. Ini adalah ruang tidur yang sempurna. Di atas matras yang lebar itu, sepasang suami istri berbaring berdampingan.</p>
<p>“Ayah, di atas meja besar di depan ruang ini ada beberapa benda kuno. Apakah Ayah ingin menyampaikan sesuatu kepada Mama berkaitan dengan benda-benda itu?” Permaisuri memulai percakapan.</p>
<p>“Iya, Mama. Benda-benda itu berkaitan dengan masa depan kita. Ayah berharap, dengan melihat benda-benda itu, pikiran Mama akan tergiring ke arah yang sebelumnya tidak terduga. Sebuah alam pikiran yang paralel dengan rasionalitas yang kita gunakan selama ini,” ujar Sang Raja.</p>
<p>“Maksud Ayah, agar Mama melirik dunia spiritualitas kuno yang saat ini cenderung dilupakan orang?”</p>
<p>“Tidak persis seperti itu, Mama. Bukankah Mama selama ini juga mempraktekkan spritualitas kuno dengan shalat lima waktu? Ayah hanya ingin Mama mengetahui makna dari pengumpulan benda-benda itu. Sesuatu yang secara langsung akan berkaitan dengan Mama&#8230;”</p>
<p>“Naluri Mama mengatakan bahwa akan terjadi hal besar&#8230;”</p>
<p>“Benar Mama. Lawan-lawan kita tengah bergerak dengan kekuatan besar untuk menaklukkan kita. Mereka datang dengan senjata yang diduga sangat merusak. Tetapi, ini sebatas hipotesa, karena kita belum mengetahui persis senjata itu akan bekerja seperti apa. Namun, kepala keamanan mengatakan bahwa senjata itu berasal dari dunia spiritualitas kuno&#8230;”</p>
<p>“Apakah mereka sudah bosan menyerang kita dengan senjata modern?”</p>
<p>“Benar Mama. Mereka bosan karena tidak pernah berhasil dengan senjata modern. Selain itu, kali ini mereka tidak lagi mengirim orang suruhan, melainkan melakukannya dengan tangan mereka sendiri. Senjata modern bisa menimbulkan ekses yang tidak mereka inginkan, serta dapat mengundang perhatian pihak lain, bahkan  kepolisian atau militer. Mereka jelas menghindari kemungkinan seperti ini, mengingat kerahasiaan mereka, serta pihak-pihak lain di belakangnya, yang begitu dijaga.”</p>
<p>“Mereka akan membunuh kita dengan tangan mereka sendiri&#8230; Sungguh berat beban mereka&#8230;”</p>
<p>“Mereka tidak akan membunuh semudah itu, Mama&#8230;”</p>
<p>“Benarkah? Mengapa?”</p>
<p>“Sebab, putri kita pergi tanpa diketahui keberadaannya, termasuk oleh mereka. Membunuh kita tidak akan menyelesaikan persoalan di mata mereka, karena putri kita masih hidup dan tetap dapat meneruskan kejayaan istana kita. Lain halnya bila kita dibunuh dan putri kita dikuasai mereka, maka istana ini akan dijadikan alat yang sangat efektif untuk memperluas pengaruh mereka, terlebih lagi di negara kita pengaruh istana ini cukup kuat&#8230;”</p>
<p>“Oh, Putriku&#8230; engkau memang sangat mulia&#8230;”</p>
<p>“Ya, Mama&#8230; Anak kita berpikir dan mengambil sikap yang sangat tepat&#8230;”</p>
<p>“Jadi, yang akan mereka lakukan sekarang adalah tidak membunuh kita, lalu apa?”</p>
<p>“Mereka ingin mengendalikan kita. Itulah target mereka saat ini. Bahkan, mungkin, kita akan dijadikan bagian dari mereka, karena lebih menguntungkan bila kita ada di pihak mereka&#8230;”</p>
<p>“Tapi, Ayah, mengapa tidak kita saja yang kali ini bersikap agresif dan menyerang mereka?”</p>
<p>“Itulah yang akan kita lakukan sekarang, Mama. Kita akan menghadang mereka di tempat lain, bukan di sini. Kita serang mereka di Bangkok&#8230;”</p>
<p>“Lantas, benda-benda kuno itu, apa kaitannya dengan semua ini?”</p>
<p>“Itu semua adalah persiapan kalau-kalau prediksi kita tentang senjata dari dunia spiritualitas kuno benar-benar mereka gunakan. Kita memiliki senjata-senjata yang sangat hebat dari dunia spiritualitas nenek moyang kita sendiri&#8230;”</p>
<p>“Sungguh ironis ya, Ayah&#8230; Ketika kita sudah sampai kepada pencapaian teknologi yang sangat tinggi, bahkan bisa memodifikasi cuaca, ternyata kita akan bertempur dengan senjata-senjata kuno&#8230;”</p>
<p>“Benar, Mama. Memang ironis. Tetapi, demikianlah pertempuran yang akan kita hadapi. Sebuah pertempuran yang bukan ditujukan untuk membunuh, tetapi untuk menaklukkan. Senjata-senjata modern tidak bisa digunakan untuk menaklukkan pikiran dan jiwa kita. Itulah inti soalnya. Mereka benar-benar ingin menaklukkan kita dengan tuntas, yakni menjadikan jiwa dan pikiran kita seperti mereka&#8230;”</p>
<p>“Apakah ini pertempuran yang akan kita menangkan, Ayah?”</p>
<p>“Sulit untuk menjawabnya, Mama&#8230; Tetapi, kita harus yakin pada kebenaran yang kita miliki&#8230;”</p>
<p>***</p>
<p>Sambil menanti kantuk datang, Raja Jonggol kemudian mengisahkan riwayat beberapa senjata kuno. “Topeng Gajah Mada merupakan perwujudan jiwa ksatria Majapahit yang memegang teguh prinsip kebenaran. Dengan topeng di wajah, seorang ksatria tidak mudah terkejut, takut, atau gembira sehingga terlena. Selain itu, topeng itu mengisyaratkan kepercayaan yang tinggi yang dapat diembankan kepada si pemakai topeng. Raja Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit suka berbicara kepada Gajah Mada yang memakai topeng, sebab Hayam Wuruk merasa tidak berbicara kepada seseorang, melainkan kepada suatu institusi kepercayaan. Itulah makna filosofis topeng Gajah Mada. Sedangkan kemampuan fisik topeng ini sudah teruji di berbagai peperangan dan penaklukkan wilayah dari Sabang sampai Irian Jaya, serta dari selatan Jawa hingga kepulauan Filipina, termasuk Malaysia dan Thailand. Bahan bajanya lebih kuat ketimbang pedang samurai pada masanya. Bahan baku bajanya tidak dibentuk dengan peleburan, melainkan dengan pemanasan dan tempaan yang berlapis-lapis, sehingga topeng itu seperti pemadatan lempengan besar baja menjadi hanya sebesar wajah manusia.</p>
<p>Dengan topeng inilah, Gajah Mada tidak pernah benar-benar dikenali wajahnya. Ia pun menjadi figur sejarah yang misterius, semisterius asal usulnya, juga semisterius makamnya yang tidak pernah diketahui keberadaannya. Di masa kini, berbagai wilayah di Indonesia mengklaim menjadi tempat makan patih hebat itu. Misalnya, provinsi Bali, provinsi Jawa Timur, provinsi Jawa Tengah, bahkan provinsi Lampung pun ikut-ikutan mengklaim menjadi tempat peristirahatan terakhir Gajah Mada.</p>
<p>Sayangnya, klaim-klaim itu tidak didukung bukti arkeologis yang kuat. Justru bukti-bukti arkeologis yang banyak ditemukan di situs arkeologi Trowulan yang dianggap sebagai pusat kerajaan Majapahit, sempat disalahgunakan untuk menggambarkan figur gajah mada. Seperti kita ketahui, sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, wajah pria tangguh itu digambarkan oleh pelukis Henk Ngantung, kelahiran Bogor tahun 1921, dengan imajinasinya sendiri dan hasilnya dimuat di berbagai buku pelajaran sekolah. Imajinasi itu berawal dari penemuan sebuah patung di situs Trowulan yang dispekulasikan sebagai penggambaran sosok Gajah Mada. Padahal, patung itu belum tentu menggambarkan sang mahapatih. Namun, karena saat itu adalah masa awal kemerdekaan dan Indonesia memerlukan figur yang dapat membangkitkan rasa nasionalisme, maka sosok Gajah Mada harus dapat dilihat wujudnya, bukan hanya didengar namanya. Lukisan Henk Ngantung pun diterima sebagai penggambaran resmi patih Gajah Mada.</p>
<p>Bagaimana wajah yang sebenarnya dari sang pengucap Sumpah Palapa itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi, setidaknya, dimensi dan bentuk topengnya dapat menggambarkan pemiliknya. Topeng ini tidak terlalu besar. Artinya, Gajah Mada memiliki tubuh berukuran rata-rata. Namun, yang jelas, dari warna perak topeng itu dan profilnya yang tampan, Gajah Mada bukanlah orang yang menyeramkan, melainkan orang yang penuh keagungan,” papar Raja Jonggol panjang lebar.</p>
<p>“Bagaimana kita berhasil mendapatkan topeng itu?” tanya Sang Permaisuri.</p>
<p>“Tentu melalui riset betahun-tahun yang telah aku lakukan sejak pertama kali menekuni arkeologi. Belakangan para ilmuwan kita membantu dengan teknologi termutakhir. Dan ternyata topeng itu tidak pernah terkubur di dalam tanah sebagaimana prediksi yang selama ini ada. Topeng itu disimpan dengan baik oleh sekelompok pewaris pusaka Majapahit yang sangat merahasiakan diri mereka. Dan ketika menyadari bahwa keberadaannya telah diketahui oleh Istana Jonggol, mereka menghubungiku dan kami bertemu. Setelah menyepakati beberapa hal, seperti menjaga kerahasiaan mereka, kami pun bersahabat. Bahkan, topeng Gajah Mada kemudian dipinjamkan kepada kita, setelah mereka mengetahui duduk persoalan yang akan kita hadapi dengan lawan-lawan kita. Demikian pula dengan tongkat komando mahapatih Gajah Mada, itu pun kita meminjamnya dari mereka,” ujar Raja Jonggol.</p>
<p>“Bagaimana dengan Kujang Prabu Siliwangi?” tanya Sang Permaisuri yang semakin ingin tahu.</p>
<div id="attachment_115" class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><img class="size-full wp-image-115" title="simbol-siliwangi" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/03/simbol-siliwangi.jpeg?w=100&#038;h=100" alt="Macan Putih kerap jadi simbol kesaktian Prabu Siliwangi" width="100" height="100" /><p class="wp-caption-text">Macan Putih kerap jadi simbol kesaktian Prabu Siliwangi</p></div>
<p><span></span>“Kujang merupakan senjata yang dipakai raja-raja Pajajaran secara turun temurun dalam berbagai peperangan. Dibuat pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi, yakni di masa jayanya kerajaan Pajajaran, dalam kurun 1.474-1.513, senjata yang berbentuk khas ini diwariskan kepada raja-raja selanjutnya. Awalnya merupakan benda pusaka yang lebih ditekankan makna filosofisnya, yakni menyimbolkan kepemimpinan yang kuat dan bijaksana, namun kemudian senjata itu banyak digunakan dalam pertempuran. Sebab, setelah Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja mangkat, raja penggantinya mulai banyak menghadapi serangan-serangan pasukan Islam. Sebagai contoh, Prabu Surawisesa yang memerintah dalam kurun 1.513-1.527 atau sekitar 14 tahun, menghadapi peperangan tak kurang dari 15 kali. Keadaan perang ini juga dialami oleh penggantinya, Prabu Ratu Dewata (1.527-1.535). Bahkan, penggantinya, Sang Ratu Saksi yang memerintah dalam kurun 1.535-1.543, meninggal di medan perang. Raja-raja selanjutnya, yakni Prabu Ratu Carita dan Prabu Seda pun tak luput dari peperangan dengan Islam. Dan pada masa Prabu Seda inilah, sekitar tahun 1.559-1.579, kerajaan Pajajaran akhirnya runtuh dan digantikan oleh kerajaan Islam dari  Banten&#8230;” papar Raja Jonggol.</p>
<p>“Apakah kujangnya direbut pasukan Islam?” tanya Sang Permaisuri.</p>
<p>“Itulah Mama, dalam berbagai situasi, biasanya ada orang-orang yang dapat melakukan hal-hal yang berjasa. Ketika keraton Pajajaran yang megah dengan 330 tiang yang masing-masing diameternya sekitar 1 meter dihancurkan, ada empat kerabat istana yang sempat menyelamatkan beberapa benda pusaka, seperti mahkota Prabu Siliwangi yang terbuat dari emas, serta kujang pusaka itu. Keempat orang itu adalah Sanghyang Hawu atau Embah Jaya Perkosa, Batara Pancar Buana atau Terong Peot, Sanghyang Kondang Hapa, dan Batara Dipati Wiradijaya atau Nanganan. Benda-benda itu kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di kerajaan Sumedanglarang. Sampai kini, berbagai pusaka  tersebut masih tersimpan di museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Dari keturunan raja Sumedang inilah kita mendapatkan kujang sakti yang akan kita gunakan untuk menghadapi lawan-lawan kita,” tutur Raja Jonggol.</p>
<p><strong>Berlanjut ke Cerita 11a</strong></p>
<br /> Tagged: baduy, diponegoro, gadjah mada, gajah mada, geusan ulun, hayam wuruk, kuno, pajajaran, senjata, siliwangi, spiritualitas, sumedang <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=111&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/03/30/teknologi-sudah-canggih-mengapa-bermain-senjata-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/03/kujang.jpeg?w=239" medium="image">
			<media:title type="html">kujang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/03/simbol-siliwangi.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">simbol-siliwangi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Respon dari Istana Jonggol</title>
		<link>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/03/30/respon-dari-istana-jonggol/</link>
		<comments>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/03/30/respon-dari-istana-jonggol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 08:07:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arjunahasani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 10 Respon dari Istana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[_Pagi itu, Raja Jonggol berkumpul dengan kesembilan ilmuwannya, juga kepala pengawal, di ruang kerjanya. Dinding dan lantai pualam putih “mengisolasi” mereka dari dunia luar. Mereka duduk mengitari sebuah meja bundar berbahan kayu jati, yang ditaruh berdekatan dengan meja kerja Raja Jonggol yang berbentuk persegi panjang. Lukisan Borobudur tetap jadi latar belakang bagi posisi duduk sang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=104&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_105" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-105" title="gajah-mada2" src="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/03/gajah-mada2.jpeg?w=200&#038;h=221" alt="Topeng Gajah Mada" width="200" height="221" /><p class="wp-caption-text">Topeng Gajah Mada</p></div>
<p><span>_</span>Pagi itu, Raja Jonggol berkumpul dengan kesembilan ilmuwannya, juga kepala pengawal,  di ruang kerjanya. Dinding dan lantai pualam putih “mengisolasi” mereka dari dunia luar. Mereka duduk mengitari sebuah meja bundar berbahan kayu jati, yang ditaruh berdekatan dengan meja kerja Raja Jonggol yang berbentuk persegi panjang. Lukisan Borobudur tetap jadi latar belakang bagi posisi duduk sang raja, yang memakai pakaian khasnya: setelan jas lengkap dengan dasi berwarna paduan merah-putih, dan di kepalanya bertengger mahkota emas seperti milik Arjuna dalam wayang orang Jawa.</p>
<p>“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dan masa depan kita. Sehari setelah putriku meninggalkan istana, aku terbang ke Jerusalem untuk melakukan sembahyang di masjid Al Aqsa. Dorongan untuk pergi ke sana  sudah aku rasakan sejak lama, namun baru benar-benar terlaksana setelah melihat semangat putriku yang begitu tinggi untuk mempertahankan cintanya pada kita. Dia memutuskan pergi karena begitu mencintai istana dan seisinya. Dia rela untuk tidak menuruti hasrat hatinya sendiri, dan telah berkorban untuk kita&#8230;”</p>
<p>Sejenak sang raja lalu terdiam. Dia merasakan tekanan batin yang berat, manakala membayangkan seorang gadis, putri semata wayangnya, yang kini entah berada di mana. Hadirin di meja bundar pun mengangguk-angguk dengan halus dan ikut merasa masygul. Sejak istana ditinggal sang putri, memang terasa ada keseimbangan yang semu. Tak ada lagi keceriaan dan kecantikan yang mempesona yang selalu dirasakan kehadirannya oleh semua orang: dari pelayan hingga sang raja sendiri. Seluruh penghuni istana mencintai sang raja dan permaisuri, namun hati mereka lebih berbunga-bunga karena ada wanita muda yang enerjik dan berbudi luhur. Dan ketika sekarang sang putri pergi tanpa ada yang mengetahui arah dan nasibnya, terbayangkan betapa sakit hatinya para penghuni istana bila mengenang sang putri.</p>
<p>Segera setelah sang raja dapat menguasai diri, dia pun kembali bicara. “Di masjid Al Aqsa, aku sempat tertidur sesaat dan bermimpi. Di dalam mimpiku, aku diminta oleh seorang pria untuk mencari bagian tembok di masjid itu yang pernah disentuh Nabi Muhammad saat Isra dan Mi&#8217;raj. Tetapi, hadirin sekalian, aku tidak dapat menemukan bagian tembok itu. Sebab, bagaimana cara menemukannya dan memastikan bahwa suatu bagian tembok di masjid Al Aqsa pernah disentuh nabi atau tidak, tentu belum ada metodenya. Namun, menjelang maghrib, aku melihat seorang anak bersandar di suatu bagian tembok. Kulihat wajah anak itu begitu suci. Dan dari matanya, aku merasa dia memandang dunia dengan begitu tulus. Ada selintas kebahagiaan sejati saat memandang wajahnya. Aku pun memutuskan untuk menganggap anak itu telah bersandar di bagian tembok yang pernah disentuh nabi. Setelah anak itu pergi, aku bersandar di bagian tembok itu. Apa yang aku rasakan? Kekosongan. Ketiadaan. Yang tersisa hanya keinginan untuk mencintai. Sebuah perasaan tanpa beban, perasaan yang membuatku tidak takut pada apa pun, termasuk kematian sekali pun. Saudara-saudara sekalian, sejak saat itu, aku menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar di dunia ini adalah ketulusan hati dan keberanian untuk menghadapi apa pun&#8230;”</p>
<p>Para peserta meja bundar lalu terdiam agak lama. Hening. Tiba-tiba, suara sang kepala pengawal memecah kesunyian, “Terima kasih sang raja, atas dorongan moral dan semangatnya&#8230;”</p>
<p>Raja lalu tersenyum dan berkata, “Baiklah. Sekarang  kita telaah sejauh mana kondisi istana kita dalam percaturan yang sunyi tapi kejam ini&#8230;”  Raja kerap menyebut persaingan antara pihaknya dan kekuatan di luar istana dengan istilah &#8216;percaturan yang sunyi tapi kejam&#8217;. Dia memang selalu menekankan kepada pengikutnya bahwa ancaman-ancaman yang berbahaya dalam kehidupan kerap kali tidak terdengar hiruk pikuk. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kehidupan massal tetap berjalan sebagaimana biasanya. Namun, begitu serangan itu berhasil, maka dampaknya dapat mengubah hajat hidup orang banyak. Dia mencontohkan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997&#8211;1998, peristiwa penjualan sejumlah BUMN di awal 2000-an, dan tendensi undang-undang penanaman modal asing yang dibuat selepas reformasi.</p>
<p>Kepala pengawal kemudian menanggapinya. “Kita sudah tahu sejak beberapa hari lalu, mereka telah mendapatkan dua kekuatan yang sangat merusak dan mulai bergerak untuk menyerang kita. Saya kira, dua kekuatan yang mereka dapatkan itu bersifat fisik sekaligus metafisik&#8230;”</p>
<p>Kepala pengawal melanjutkan, ”Pakai keyakinan hati, yang memang merupakan kekuatan besar, kita akan bisa melawannya. Tapi, kita tetap mesti siapkan penangkal yang mirip, yaitu senjata  fisik sekaligus metafisik.”</p>
<p>Sang Raja terdiam. Tapi, dia segera menimpali,  “Benar pengawalku. Peperangan seperti apa yang akan kita hadapi pun kita belum dapat memastikannya. Kita semua dapat mati oleh peluru dan kita mempersiapkan rompi anti peluru, namun ternyata musuh menyerang dengan gas beracun, maka matilah kita, sebab ternyata yang kita perlukan adalah sebuah masker dan oksigen.”</p>
<p>Tiba-tiba, ilmuwan sosiologi menukas. “Sang Raja, saya menyarankan agar kita mempersiapkan segalanya dengan lengkap. Jangan sampai ada kemungkinan yang tidak kita perkirakan. Karena itu, saya akan menyiapkan berbagai penangkal yang secara generik memang dibuat untuk menghadapi kekuatan fisik dan metafisik sekaligus&#8230;”</p>
<p>Sang sosiolog melanjutkan, “Yang pertama adalah topeng Gadjah Mada. Topeng ini, meski dibuat di zaman Majapahit, sebelum peluru ditemukan, ternyata anti peluru. Selain itu, pamor topeng ini dapat meruntuhkan moral lawan, sekaligus mampu memperkuat pikiran si pemakainya. Yang kedua adalah kujang Prabu Siliwangi. Senjata ini bahkan dapat mematahkan baja hanya dengan memukulkannya. Energi dan bobotnya pun mampu memperkuat jantung dan seluruh tubuh. Yang ketiga adalah baju zirah Prabu Hayam Wuruk. Sekali lagi, para ahli pembuat baju perang Majapahit telah menciptakan pakaian anti peluru yang tetap cocok untuk pertempuran masa kini. Dan terakhir adalah tongkat komando Gadjah Mada. Tongkat  ini dapat membuat lawan terhipnotis dan dikendalikan. Semua pusaka ini telah ada di tangan kita. Kami telah mencarinya sejak satu setengah tahun lalu dan berhasil mendapatkannya.”</p>
<p>Wajah Sang Raja tampak berseri-seri. “Kalian adalah manusia-manusia yang hebat. Kalian bekerja untuk kemuliaan manusia. Tetapi, bagaimana strategi kita untuk menangkal mereka?”</p>
<p>“Sebaiknya, peperangan tidak kita lakukan di sini, Sang Raja. Kita hadang mereka di medan yang lain. Saya yakin mereka telah mempersiapkan pertempuran di sini dan telah menguasai berbagai detail fisik maupun metafisik di istana kita. Karena itu, kita kejutkan mereka dengan peperangan di tempat yang belum mereka pelajari,” ujar ilmuwan elektronika.</p>
<p>“Di mana tempat itu?” cetus Sang Raja.</p>
<p>“Di Bangkok. Selain kota itu tidak akan diduga kita jadikan medan perang, Bangkok juga tidak memiliki aura metafisik yang kuat, sehingga pusaka-pusaka kita tidak akan terganggu,” jawab sang ilmuwan.</p>
<p>“Baiklah,” Sang Raja mengawali kalimatnya seperti akan mengambil keputusan,  “Beberapa hari lagi, aku akan menuju Bangkok. Aku akan pergi bersama kepala pengawal dan beberapa pengawal terbaik lain. Aku minta seluruh ilmuwan bertahan di sini bersama permaisuriku. Aku tidak pernah berharap lawan kita akan sampai ke sini, tetapi bila hal terburuk itu terjadi, kalian para ilmuwan tentu dapat melawan mereka dan melindungi permaisuriku. Istana ini tidak boleh jatuh hingga anakku kembali.”</p>
<p>“Baik, Sang Raja. Selain berbagai pusaka yang akan dibawa ke Bangkok, di istana ini masih ada tombak Pangeran Diponegoro dan golok pemberian pemimpin suku Baduy di Banten,” ujar seorang ilmuwan lain.</p>
<p><strong>Berlanjut ke Cerita 11</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com&amp;blog=6832962&amp;post=104&amp;subd=elangtimurdanfigurdelapan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elangtimurdanfigurdelapan.wordpress.com/2009/03/30/respon-dari-istana-jonggol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23f4efa90f4f881633f005f6f76ad60b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arjunahasani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elangtimurdanfigurdelapan.files.wordpress.com/2009/03/gajah-mada2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">gajah-mada2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
