Jonggol Bagai Pohon Meranggas

Batuk kelas berat melanda Jonggol

Setelah peristiwa kematian Mr. Pelican dan pecahnya botol yang dibawanya, kehidupan di Istana Jonggol tidak lagi sama seperti sebelumnya. Semua orang, termasuk raja dan ratu, menderita penyakit batuk berdahak darah yang seolah tak dapat disembuhkan.

Penyakit ini tidak membunuh, namun membuat penderitanya kurang bersemangat dan lemas, seperti pohon yang meranggas. Berbagai dokter dan ahli medis telah datang ke Jonggol untuk memberi pertolongan, namun selalu gagal. Bahkan, yang lebih menyedihkan, nyamuk-nyamuk ganas itu terus berkembang biak. Penyemprotan dengan insektisida telah dilakukan, namun tidak banyak membantu. Masyarakat di sekitar istana pun mengalami penyakit serupa dan mereka yang masih sehat memilih meninggalkan kawasan Jonggol.

Mereka tidak mengetahui bahwa penyakit itu muncul akibat konflik antara istana yang selama ini dijunjungnya melawan musuh-musuh yang ingin menghancurkannya. Bahkan, pemerintah Indonesia pun menganggap wabah ini sebagai hal yang tidak berkaitan dengan persoalan politik apa pun, melainkan hanya wabah yang bersifat alamiah.

Kematian Mr. Pelican dan penguburannya memang tidak pernah diketahui pihak luar mana pun, kecuali kalangan istana Jonggol yang sudah bersumpah setia untuk selalu menjaga nama baik istana, yang telah mengangkat derajat hidup seluruh warga di sekitarnya. Semua orang yang bekerja di istana menganggap penyakit ini sebagai sarana untuk menunjukkan pengorbanan mereka kepada raja dan keluarganya. Setiap hari mereka terbatuk dan mengeluarkan darah, namun tidak seorang pun di antara mereka yang mengeluh atau memaki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata setiap kali melihat raja atau permaisuri terbatuk…

Hingga pada suatu hari, penjaga gerbang istana berteriak-teriak, “Putri telah kembali! Putri telah kembali!”

Berlanjut ke Cerita 18a

Prahara Mr. Pelican

Nyamuk haus darah dan pembawa penyakit menyerang Jonggol

Mr. Pelican memacu mobilnya ke arah tenggara Jakarta. Bagaikan kesetanan, dia nyaris tidak pernah mengangkat kakinya dari pedal paling kanan. Dia menuju Istana Jonggol. Rupanya, dia berhasil lolos dari pantauan para pengawal raja karena keluar lewat pintu dan jalur lain di The Tower Kemayoran.

Mr. Pelican merasa harus melakukan sesuatu yang efektif untuk meruntuhkan kerajaan Jonggol. Setelah gagal menguasai pikiran dan jiwa Raja Jonggol, dia merasa sudah saatnya untuk menyerang dengan cara lain, sebuah cara yang kasar, namun mungkin efektif. Ah, dia tahu serangan ini sebenarnya tidak sepenuhnya efektif, karena ada seseorang yang sangat penting yang tidak akan terpengaruh, Putri Jonggol, yang hingga kini bahkan belum dapat ditemukan oleh orang-orang Mr. Pelican. Namun, dia memutuskan untuk tetap melakukannya, terlebih lagi setelah melihat keunggulan Raja Jonggol di meja bundar.

Di saku dalam jasnya, terdapat sebuah botol berukuran sedang. Mr. Pelican meraba dadanya untuk memastikan botol itu masih ada.

Tiba-tiba mobil diarahkannya mendekati sebuah gerbang yang sangat besar, gerbang Istana Jonggol. Para penjaga yang sudah mendapat kabar dari kepala pengawal bahwa ada kemungkinan masuknya penyusup yang lolos dari The Tower Kemayoran, segera bersiap-siap dengan senjatanya masing-masing. Namun, baru saja mereka akan bergerak menuju mobil, Mr. Pelican sudah melemparkan sesuatu ke arah gerbang dan timbul ledakan yang cukup besar. Gerbang besi itu bahkan terlempar cukup jauh. Mobil Mr. Pelican pun langsung menerobos masuk, sedangkan para penjaga tak sadarkan diri terkena ledakan.

Sementara itu, dari The Tower Kemayoran, Sang Raja dan ketujuh pengawalnya meluncur ke arah Jonggol. Mereka pun berpacu sekencang-kencangnya dengan sebuah Porsche Cayman SS dan Ferrari F101.

Sayangnya, Mr. Pelican telanjur masuk ke halaman istana, setelah memacu mobilnya di jalan lurus sepanjang tiga kilometer dari gerbang besar. Para petugas keamanan istana langsung menghadangnya dengan serentetan tembakan, tetapi ternyata Mr. Pelican cukup tangguh. Bahkan, petugas keamanan tidak sanggup menghadapi serangan balasan mantan agen rahasia ini.

Barulah ketika para pengawal raja menghadapinya, Mr. Pelican kewalahan. Namun, dia belum berhasil dibekuk karena berlindung di balik dinding sambil terus melancarkan tembakan dengan pistol otomatisnya yang seolah tak akan kehabisan peluru. Pada saat itulah, seorang pengawal raja berhasil mendekati posisi Mr. Pelican tanpa diketahuinya. Pengawal itu membawa sebuah tombak panjang, lalu melemparkannya ke arah Mr. Pelican. Tak bisa dicegah, tombak Pangeran Diponegoro itu menembus tubuh Mr. Pelican dari bahu belakang hingga ke depan.

Namun, sebelum terjatuh ke tanah, dia sempat mengambil botol dari saku jasnya dan melemparkannya ke udara, sambil berteriak, “Ini untuk rajamu dan semua orang di tempat ini! Kalian akan musnah!”

Para pengawal segera berlari dan melompat untuk menangkap botol itu agar tidak jatuh dan pecah. Naluri mereka mengatakan isi botol itu sangat berbahaya. Namun, terlambat, botol itu jatuh dan saat itu juga terbang ribuan serangga dari pecahan botol. Serangga-serangga itu langsung menyerang semua orang yang ada di sekitarnya. “Awas! Ada nyamuk-nyamuk ganas!” teriak para pengawal yang diikuti dengan gerakan lari berlindung ke dalam ruangan-ruangan yang ada di istana.

Namun, sayangnya, nyamuk-nyamuk beringas itu telanjur menyebar secara luas. Bahkan, kini mulai tak dapat dilihat karena tidak lagi bergerombol.

Jasad Mr. Pelican masih tergeletak di tanah ketika Raja Jonggol dan tujuh pengawalnya tiba. Raja segera memerintahkan para petugas istana untuk mengurus jenazah itu dan menguburkannya secara layak. Kemudian raja memasuki istana untuk menemui permaisurinya.

Berlanjut ke Cerita 18

Pembalasan dari Raja Jonggol

The Tower Kemayoran

Tiga hari setelah peristiwa di private restaurant di hotel Mandarin Oriental Bangkok, Sang Raja mendapat sepucuk surat yang isinya meminta agar dirinya menemui seseorang di sebuah private restaurant di The Tower Kemayoran, salah satu gedung tertinggi di dunia yang dibangun pada 2014-2018. Artinya, Sang Raja dan tujuh pengawalnya harus kembali ke Tanah Air. Harap dengan senang hati memenuhi undangan ini. Demikian kalimat di akhir surat yang tanpa disertai identitas pengirim.

“Mereka mengundang kita lagi. Aku tak tahu apa yang kali ini mereka rencanakan. Tetapi, satu hal yang pasti, mereka percaya bahwa aku telah takluk. Aku menduga, mereka akan mulai mengendalikan diriku,” ujar Sang Raja.

“Apakah kita akan memenuhi undangan ini?” tanya kepala pengawal.

Raja terdiam. Lalu dia mulai berjalan ke sebuah meja di mana pusaka-pusaka Tanah Air diletakkan. Dia pun memegang benda-benda itu satu per satu.

“Mereka mengira telah menang, padahal sama sekali belum. Pertempuran yang sesungguhnya belumlah dimulai Ya, kita akan menemui mereka. Sudah saatnya untuk menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya!” tutur Sang Raja.

***

Lagi-lagi ‘Figure of Eight’ duduk mengitari sebuah meja bundar. Apakah private restaurant ini, atau bahkan menara kebanggaan Indonesia ini, juga sudah dikuasai kelompok pria bule tua yang berjumlah delapan orang? Hmm, yang jelas, Sang Raja tidak mau kecolongan lagi. Dipasanglah sebuah detektor detak jantung di cincin kirinya, juga sebuah detektor gerak bola mata di jam tangannya. Kedua alat itu akan memberi peringatan kepada Sang Raja, berupa getaran, bila degup jantung orang-orang di dekatnya bertambah cepat atau bola matanya bergerak liar. Itu adalah tanda-tanda seseorang akan menyerang. Dengan demikian, Sang Raja akan siap melakukan antisipasi.

“Selamat datang, Teman,” Mr. Pelican menyapa Sang Raja yang baru saja mendekati meja bundar. Sama seperti pertemuan pertama, seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri menyambut tamunya.

“Terima kasih dan selamat siang,” jawab Sang Raja.

“Engkau kini adalah sahabat kami. Dan kami merasa senang mendapat teman seperti dirimu,” ujar Mr. Pelican yang kali ini memimpin rekan-rekannya, sedangkan Tuan Bangau lebih banyak diam dengan sikap berwibawanya.

“Aku juga senang mengenal kalian. Tetapi, untuk apa aku diundang ke sini?” ujar Sang Raja.

“Kita akan mulai melakukan beberapa pekerjaan di Indonesia. Dan karena engkau adalah tokoh di negeri ini, maka kami akan meminta pendapatmu,” jawab Mr. Pelican.

“Tentang apa?”

“Tentang bagaimana agar kita memiliki sahabat yang menjadi presiden di negeri ini. Maksud saya, tentang bagaimana membantumu agar dapat menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden.”

“Bukankah teman kita sudah banyak yang menjadi tokoh penting di negeri ini, misalnya menjadi menteri atau pimpinan perusaaan besar nasional?”

“Memang benar. Tetapi, kami memerlukan teman seorang presiden di sini, sebagaimana kami memilikinya di banyak negara lain.”

“Bagaimana cara kalian melakukan itu?”

“Tentu dengan cara yang terbaik. Kita akan mengikuti pola yang ada sekarang, sehingga memiliki legitimasi yang kuat. Tetapi, kami akan melakukan lobby internasional agar dirimu memiliki citra yang kuat di mata dunia. Bukankah di dalam negeri engkau akan mudah mendapat dukungan?”

Raja terdiam sesaat. Menghela napas pelan. Lalu berkata dengan mantap, “Benar. Tetapi, apakah kalian sudah sepakat dengan prinsip spiritualitas yang kami junjung tinggi?”

Mr. Pelican tersentak. Orang-orang lain di meja bundar pun tak kalah terkejut.
“Maksudmu?” tukas Mr. Pelican.

“Maksudku, aku tidak dapat memimpin negeri ini hanya dengan rasionalitas semata. Kami memiliki spritualitas yang tidak dapat kami abaikan begitu saja.”

Serempak punggung anggota ‘Figure of Eight’ terlepas dari sandaran kursinya. Mereka merasakan ada yang kurang beres. “Mengapa darah ini gagal? Bukankah terhadap orang lain selalu berhasil? Apakah waktu itu kau sudah membaca kertasmu dengan benar?” cerocos Tuang Bangau diarahkan kepada Mr. Pelican.

Belum sempat Mr. Pelican menjawab, Tuan Bangau sudah mengeluarkan poci perak dari sakunya, membuka tutupnya, lalu mengguncang-guncangkannya, dan siap untuk menyiramkan isinya ke arah Sang Raja.

Bersamaan dengan tanda getar pada cincin dan jam tangannya, Sang Raja memasang topeng Gadjah Mada di wajahnya. Sedangkan tangan kirinya telah memegang gagang Kujang Prabu Siliwangi, dan tangan kanannya menggenggam tongkat komando patih Gadjah Mada. Sepersekian detik kemudian, darah kental melompat di udara dan mendarat di topeng yang menutupi wajah Sang Raja. Timbul suara desis seperti ular, lalu asap hitam tipis mengepul dari permukaan topeng. Topeng yang selama berpuluh tahun diperebutkan klaim lokasi keberadaannya oleh pemda Bali dan Jawa Timur ini tampak mewakili ketenangan pemakainya. Dan aura dari benda bersejarah itu, serta bunyi desis yang ditambah asap hitam di permukaannya, membuat para lelaki kulit putih itu terkesima.

Para lelaki tua bule masih duduk di tempatnya masing-masing. Wajah mereka seperti menanti sesuatu terjadi. Sejurus kemudian, di tengah kevakuman itu, Sang Raja menarik tongkat dari pinggang kanannya dan menunjuk satu per satu wajah ‘Figure of Eight’. Sesaat setelah itu, mereka tampak kaku seperti patung.

Sayangnya, belum sempat giliran Mr. Pelican mendapat hipnotis, lelaki itu sudah meninggalkan ruangan dengan begitu cepat. Sang Raja memutuskan untuk membiarkan hal itu dengan asumsi para pengawalnya akan mengejar dan menangkapnya.

“Darah yang menempel di topeng ini adalah simbol kejahatan yang paling besar dalam sejarah manusia. Sebuah pengkhianatan terhadap cinta dan kasih sayang, meskipun kalian tidak menyadarinya. Dan kalian telah memanfaatkannya untuk tujuan yang egois. Mungkin ada niat baik bagi kemanusiaan di dalam pikiran kalian, tetapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya adalah juga sebuah kejahatan. Itulah mengapa kita memerlukan spiritualitas agar tidak tersesat di dalam tujuan yang menghalalkan cara. Itulah kompromi yang sempat kutanyakan pada kalian sebelumnya. Tetapi, kalian enggan berkompromi. Sekarang, aku minta, atas nama kebajikan yang diwariskan Tuhan ke dalam batin setiap manusia, jadilah kalian manusia yang menghayati rasa dan hati. Semua ucapanku akan selalu kalian ingat dan akan mengubah diri kalian…,” ujar Sang Raja sambil mengitari meja bundar dan menempelkan Kujang ke kepala setiap anggota ‘Figure of Eight’.

Berlanjut ke cerita 17

Asal Usul “Darah Yesus”

Judas mencium Yesus, namun Yesus tahu akan terjadi penghianatan

“Apa yang sebenarnya terjadi di private restaurant itu, Sang Raja?” tanya kepala pengawal.

“Kami melakukan perang pemikiran hingga akhirnya tidak dicapai kesepakatan. Mereka ingin agar kita bergabung dengan kelompoknya. Namun, karena aku menolak, mereka kemudian menggunakan cara lain. Dan apa yang mereka melakukan sebenarnya merupakan upaya pembunuhan mental yang sangat ampuh,” ujar Sang Raja.

“Tetapi, mengapa itu tidak berhasil?”

“Mereka melakukan kesalahan fatal yang tidak disadari. Darah yang disiramkan kepadaku sesungguhnya bukan darah Yesus sebagaimana yang disebutkan lelaki yang tampak paling tua. Darah Yesus tidak pernah tertumpah. Yesus dijaga dengan baik oleh Tuhan. Ketika tentara Romawi yang menjajah Yerusalem mencari seorang pengkotbah yang dianggap telah merongrong kewibawaan Romawi, ada seorang murid Yesus yang berkhianat dan memberi tahu lokasi Yesus dan murid-muridnya berada. Namun, tentara Romawi tidak mengenal wajah Yesus. Jangan pernah membayangkan suasana di masa itu seperti sekarang di mana telah ada televisi atau surat kabar yang dapat menampilkan wajah seorang tokoh sehingga dikenal luas. Saat itu adalah masa kuno. Bahkan, malam hari pun begitu gelap karena cahaya listrik tentu belum ada. Dalam penggerebekan oleh tentara Romawi, Yesus diselamatkan oleh Tuhan dengan ketidakhadirannya di tempat dia biasa mengajar murid-muridnya. Justru si murid pengkhianat, yang muncul dalam suasana penggerebekan itu, dikira Yesus oleh tentara Romawi, karena wajahnya memang mirip dengan Yesus. Murid-murid Yesus pun sempat menujuk dia ketika tentara Romawi bertanya yang mana Yesus. Ingat, pada masa itu, terlebih di malam hari, cahaya sangat minim.”

Para pengawal mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lalu Sang Raja melanjutkan, “Jadi, yang ditangkap oleh tentara Romawi adalah si murid pengkhianat. Namanya, Judas Iskariot. Malam itu dia disiksa luar biasa, sehingga wajahnya rusak. Dan keesokan harinya dia diseret ke bukit yang bernama Golgota untuk disalib, setelah sebelumnya siksaannya ditambah. Orang-orang yang melihat peristiwa penyaliban menganggap orang yang disalib adalah Yesus yang selama ini hanya mereka dengar namanya. Bahkan, ibunda Yesus, yakni ibu Maria dan teman wanita Yesus, yakni Maria Magdalena, mengira orang yang disalib adalah Yesus, meski kemudian mengetahui kebenarannya. Dan pada saat Judas sudah terpancang di kayu salib, ada seorang yang bersimpati dan menampung darah yang menetes dari tubuhnya. Orang itu mengira itu adalah darah Yesus, pengkhotbah yang menyebarkan ajaran cinta kasih.”

“Jadi, darah yang disiramkan kepada Sang Raja adalah darah Judas?”

“Benar. Tetapi, aku tak mengira darah pengkhianat itu pun memiliki efek yang membuatku kehilangan kesadaran. Aku menduga, darah yang sudah berusia ribuan tahun itu telah mengandung racun, selain kekuatan kahat dari pemiliknya.”

“Terlepas dari soal dampak darah Judas yang sudah kita atasi, saya ingin tahu bagaimana nasib Yesus sendiri?” tanya kepala pengawal.

“Yesus mengetahui peristiwa penggerebekan dan penyaliban itu, termasuk kesalahan anggapan orang tentang dirinya yang dikira sudah mati di kayu salib. Dan dia memutuskan untuk tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa dirinya masih hidup. Namun, hasratnya untuk menyebarkan ajarannya masih terlalu kuat, sehingga sekitar tiga hari setelah terjadinya penyaliban atas Judas, dia muncul di muka umatnya. Tak pelak, hal ini mengundang anggapan bahwa Yesus bangkit dari kematiannya. Terlebih lagi, sebelum Yesus muncul, mayat Judas hilang dari tempat penyimpanannya. Sampai hari ini, hilangnya mayat ini terus menjadi misteri dan dibicarakan di berbagai kajian akademis arkeologi dan sejarah teologi di seluruh dunia. Ada yang berteori bahwa simpatisan Yesus, yang mengira itu mayat Yesus, telah mencurinya dan menguburkannya secara layak di tempat yang dianggap lebih pantas.”

Sang Raja melanjutkan, “Mendengar kabar kebangkitan Yesus, tentara Romawi kembali melakukan pencarian. Tetapi, pada saat itu, Yesus telah memutuskan untuk meninggalkan Yerusalem dan menyebarkan ajaran cinta kasihnya di tempat lain. Hingga saat ini, para arkeolog dan ahli sejarah belum dapat memastikan ke mana perginya Yesus. Ada yang menduga dia pergi ke daerah yang sekarang disebut Syiria dan ada pula yang menganggap Yesus menuju selatan Prancis. Namun, ajaran Yesus di Yerusalem justru semakin berkembang, bahkan kemudian Romawi sendiri tertarik dengan ajaran itu. Sedangkan di tempat barunya, Yesus kembali mendapatkan murid-murid. Perlu kalian ketahui pula, kepada murid-muridnya itu, Yesus mengungkapkan bahwa dia melihat suatu visi di masa depan, yakni akan adanya seorang guru dari tanah Arab yang akan menyebarkan ajaran yang mirip dengan ajarannya, bahkan menyempurnakannya. Guru itu ternyata adalah Muhammad SAW. Itulah mengapa di dalam sejarah Islam dikatakan bahwa suatu ketika di masa muda Muhammad ada pendeta Kristen yang berpesan kepada teman-teman Muhamad agar melindungi Muhammad karena dia memiliki pertanda khusus, yakni di saat matahari terik, awan-awan bergerak di atasnya sehingga melindungnya dari panas. Pendeta itu berpandangan demikian berdasarkan riwayat yang diceritakan leluhurnya, sejak ratusan tahun sebelumnya.”

“Beruntung Sang Raja selamat dari kekejian darah Judas…” cetus seorang pengawal.

“Ya, benar. Mentalku kini sudah pulih sama sekali. Tetapi, yang aku tidak mengerti, mengapa para lelaki tua di private restaurant itu yakin kalau darah Yesus dapat melumpuhkan mentalku? Aku justru berpikir sebaliknya, jika yang mengenai tubuhku adalah darah Yesus, maka efeknya justru akan baik bagiku. Agaknya mereka berpikir bahwa spiritualitas yang aku anut adalah oposisi dari spiritualitas yang disebarkan Yesus. Sungguh pikiran yang keliru dan dangkal. Mereka tidak tahu bahwa spiritualitas Yesus seirama dengan spiritualitas Muhammad, yakni sama-sama menjunjung cinta kasih.”

Berlanjut ke Cerita 16

Kesadaran Seorang Raja

Masjid tempat Raja Jonggol mendapat inspirasi

Melihat rajanya dilempari sesuatu dan tak sadarkan diri, kepala pengawal Jonggol yang memantau dari ruang CCTV sangat tersentak. Dalam sepersekian detik dia sempat terkesima, namun kemudian segera memerintahkan via komunikasi radio kepada enam anak buahnya yang sejak awal dimintanya menjaga di dekat private restaurant untuk mencegah siapa pun keluar dari ruangan itu. “Jangan biarkan mereka meninggalkan ruangan!” teriaknya kepada anak buahnya.

Kepala pengawal segera mengarahkan tubuhnya untuk keluar dari ruang CCTV guna membantu anak buahnya. Namun, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di tengkuknya. Sayangnya, pukulan itu terlalu lunak bagi seorang kepala pengawal kerajaan Jonggol. Dia pun menoleh dan melihat kepala keamanan hotel, seorang bule, yang sejak tadi menemaninya di ruang CCTV sudah siap mengayunkan satu pukulan lagi. Dengan gerakan menangkis ala silat, pukulan itu dapat dinetralisir. Dan kini giliran kepala pengawal Jonggol yang melayangkan sebuah tendangan maut ke ulu hati lawannya. “Hekkk!” terdengar suara dari mulut kepala keamanan hotel, lalu dia jatuh tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya.

Jawara kerajaan Jonggol ini segera meninggalkan ruangan dan berlari menuju lift untuk naik ke private restaurant. Setiba di lantai yang dituju, dia segera melihat perkelahian massal yang sedang terjadi antara enam anak buahnya dan enam lawan yang semuanya berseragam anggota keamanan hotel. Perkelahian semuanya berlangsung tanpa senjata apa pun, hanya tangan kosong. Agaknya, kedua belah pihak benar-benar menjaga agar konflik ini tidak tercium pihak mana pun. Masing-masing pihak hanya bertujuan melumpuhkan dan bukan membunuh. Namun, karena untuk urusan seperti ini para pengawal Jonggol sudah sangat terlatih, maka meski cukup sulit, enam lawan itu dapat dilumpuhkan.

Jawara Jonggol kemudian mendobrak pintu private restaurant. Tetapi, betapa terkejutnya dia ketika mendapati meja bundar telah nyaris kosong. Tak ada lagi ‘Figure of Eight’. Yang tertinggal di dekat meja hanya Sang Raja. Tak bisa lagi menahan emosinya, jawara Jonggol langsung memeluk Sang Raja yang terduduk lesu dengan tatapan mata kosong. Tangis pengawal berbadan kekar itu nyaris meledak, namun saat itu juga dia memerintahkan anak buahnya agar merintis jalan keluar dari Mandarin hotel dan membawa Sang Raja ke Conrad hotel. “Pasti ada pintu keluar rahasia di ruangan ini sehingga kalian bisa lolos. Awas! Kami akan membalas apa yang telah kalian lakukan! Sampai kapan pun, kerajaan Jonggol tidak bisa menerima perlakuaan ini!” geram sang jawara.

Di kamar khusus di Conrad hotel, jawara Jonggol membaringkan rajanya di tempat tidur. Sesungguhnya, sang jawara tidak tahu pasti apakah yang dilakukannya sudah benar atau tidak. Yang diikutinya hanyalah perintah rajanya agar tidak memberitahukan kepada siapa pun segala yang terjadi di Bangkok, termasuk kepada permasuri di Jonggol. Dia hanya duduk di samping tempat tidur, sambil memegang tangan tuannya yang masih menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Perlahan air mata meleleh di pipi sang jawara. Dia teringat peristiwa belasan tahun lalu, ketika pada suatu malam bertemu dengan seorang lelaki bertubuh sedang di kegelapan kawasan Tanah Abang. Dia mengeluarkan pisau lipat dan mengancam lelaki itu agar memberinya uang. Saat itu, dia begitu pening dengan rengekan anaknya yang kehabisan susu, serta makian istrinya yang selalu mencela pekerjaannya sebagai preman. Tanpa diduganya, lelaki itu memberinya banyak uang, lebih banyak dari yang dibayangkannya bila menodong seseorang. Bahkan, lelaki itu mengajaknya duduk di tepi jalan dan mengatakan dapat membantunya lebih dari sekadar uang, bila bersedia menjadi temannya. Tentu saja, si preman menyambut ajakan persahabatan itu, meski awalnya sempat khawatir kalau-kalau lelaki itu adalah polisi. Dan peristiwa itu adalah satu babak hidupnya yang paling sering dikenangnya. Si preman yang bertubuh tinggi besar dengan kulit kehitaman dan rambut keriting, namun wajahnya tampan, kini tengah menitikkan air mata menatap wajah si lelaki yang terbaring dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba, di pikirannya tercetus suatu ide. Dia segera mengambil Al Qur’an dan mulai membaca surat Al Ikhlas, surat yang disukai Sang Raja, berulang-ulang. Selama sekitar satu jam, dia melakukan itu. Katakanlah bahwa Allah itu Mahaesa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Allah tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.

Tiba-tiba Sang Raja terbatuk-batuk. Setelah itu matanya terpejam, tak lagi terbuka dengan tatapan kosong. Kali ini, ia seperti sedang tertidur. Melihat hal ini, jawara Jonggol merasakan hadirnya harapan. Dia pun kembali membuka Al Qur’an dan membaca surat Al Baqarah ayat 255 atau yang lebih dikenal dengan ‘ayat kursi’.

Setelah sekitar dua jam tertidur, Sang Raja terbangun. Di dekat tempat tidur, ketujuh pengawalnya berdiri mengitarinya. Sang Raja tersenyum. Seluruh pengawal pun bersorak dan menguacapkan ‘alhamdulillah’.

“Aku mendengar surat-surat yang engkau bacakan, Pengawalku,” ujar Sang Raja, “Namun, saat itu aku tidak dapat menguasai diriku. Seluruh tubuhku tak dapat kugerakkan. Bahkan, untuk berbicara atau memejamkan mata pun aku tak sanggup. Sampai kemudian aku melihat gambaran anak kecil yang pernah aku temui di masjid Al Aqsa. Anak itu mengajakku ke suatu bagian di masjid itu dan menyuruhku menyentuh tembok yang ditunjukknya. Setelah itu, aku mulai bisa merasakan lagi tubuhku. Dan setelah itu aku tertidur.”

Berlanjut ke cerita 15

Cerita 13 Pertempuran

Poci darah Yesus (ilustrasi) yang disiramkan ke Raja Jonggol

Seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri ketika Raja Jonggol telah mendekati meja. Tuang Bangau lantas mempersilakan Sang Raja duduk. Kini meja telah dikelilingi sembilan orang yang semuanya duduk dengan sopan, meski aura ketegangan tak bisa disembunyikan.

“Anda adalah pemimpin yang penuh keberanian…” ujar Tuan Bangau. Ucapan ini disampaikan dengan nada yang mengisyaratkan bahwa Sang Raja berada dalam kondisi terancam.

“Kalian semua adalah orang-orang yang lebih berani…” jawab Sang Raja dengan nada yang tak kalah berbobot. Kalimat ini pun membuat ‘Figure of Eight’ cukup merasa bahwa diri mereka mendapat lawan sepadan.

“Kami minta Anda untuk bekerja sama dengan kami, membangun tatanan dunia yang lebih baik,” ujar Tuan Bangau.

“Apakah kita telah memiliki pandangan yang sama tentang tatanan dunia yang lebih baik itu?” jawab Sang Raja.

“Marilah kita bicarakan masalah itu,” cetus Tuan Bangau. Dalam hal ini, dia mendapat “angin” untuk menggiring pikiran Sang Raja pada ide-ide kelompoknya. Sang Raja menyadari hal ini, namun membiarkannya.

“Silakan…” ujar Sang Raja.

“Baiklah. Kita, manusia, adalah makluk yang mandiri. Kita diciptakan dengan kemampuan untuk mengendalikan diri kita sendiri. Karena itu, kita berhak menentukan tatanan kehidupan secara mandiri, tanpa campur tangan siapa pun. Anda melihat, campur tangan pihak luar telah melahirkan peperangan dan kesengsaraan pada peradaban manusia sepanjang sejarahnya. Agama-agama dari makhluk yang bernama malaikat telah memisah-misahkan manusia, bahkan saling bermusuhan dan membunuh…”

“Bagaimana dengan agama-agama buatan manusian sendiri? Bukankah juga menimbulkan permusuhan di antara manusia?”

Tuan Bangau menjawab, “Yang kami persoalkan sesungguhnya bukan agamanya, melainkan spriritualitasnya. Spiritualitas semua agama lahir dari ketakutan manusia terhadap alam dan hal-hal yang belum dapat dipahaminya secara rasional. Perlu Anda ketahui, bila spiritualitas dari malaikat tidak menyesatkan manusia, kami pun tidak mempersoalkannya. Tetapi, kenyataannya, semua agama, baik yang buatan manusia ataupun malaikat, tidak banyak membantu dalam mencapai kemajuan manusia. Anda bisa melihat, segala kemajuan yang kita capai sekarang ini adalah hasil rasionalitas. Segala macam ilmu dan teknologi yang bermanfaat bagi manusia berasal dari rasionalitas. Bahkan, Anda sendiri mampu memimpin masyarakat Anda dengan teknologi, bukan dengan spiritualtias, apalagi dogma agama.”

Sang Raja sedikit tertegun, namun kemudian berkata, “Bukankah kemandirian manusia yang Anda maksud juga telah digunakan manusia untuk memilih? Dalam hal ini, memilih beragama atau tidak. Anda bisa melihat ada manusia yang memilih tidak beragama, bahkan tidak ber-Tuhan, selain manusia yang bergama. Perlu Anda sadari, beragama atau tidak adalah hak manusia untuk memilihnya, sesuai kemandirian akal dan budinya. Menurut saya, malaikat atau siapa pun sudah telanjur menyebarkan agama kepada manusia, dan ini tidak bisa dicegah lagi. Sekarang tinggal manusia sendiri yang menggunakan haknya untuk memutuskan memilih agama atau tidak. Contohnya, Anda memilih tidak beragama, sedangkan saya memilih beragama. Mengapa kita tidak saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai?”

Sampai sejauh ini, Tuan Bangau dan anggota ‘Figure of Eight’ lainnya menjadi terdiam. Wajah-wajah mereka tetap tampak tenang, namun ketegangan semakin memuncak yang terlihat dari sorot mata mereka.

“Hidup berdampingan secara damai adalah impian semu dalam hal ini. Bagaimana bisa damai bila ketika kami meminum alkohol maka kalian mengutuk kami? Bagaimana bisa damai bila pola hubungan seks kami kalian jadikan alasan untuk melempari pelakunya dengan batu hingga mati? Dan masih banyak lagi pertentangan-pertentangan yang tidak dapat dicari solusinya. Selamanya, agama akan menghambat hubungan antar-manusia,” tutur Tuan Bangau.

Sang Raja menimpali, “Mengapa Anda begitu yakin bahwa rasionalitas adalah hal terbaik bagi manusia? Bukankah rasionalitas juga menghasilkan permusuhan antar-manusia? Sebagai contoh, sistem keuangan adalah salah satu mesin permusuhan yang paling dahsyat saat ini. Selain itu, manusia menjadi lebih berpotensi untuk bertikai karena adanya teknologi senjata. Itu belum termasuk pengorbanan kemanusiaan demi kepentingan teknologi atau industri.”

“Kami yakin bahwa rasionalitas pada akhirnya akan membahagiakan seluruh manusia, sejauh syaratnya terpenuhi.”

“Apa syaratnya?”

“Hilangnya seluruh spiritualitas kuno dari muka bumi.”

Tidak ada kompromi?

“Tidak.”

“Kalau begitu, saya tidak bisa bergabung dengan Anda semua.”

“Kami pun tidak akan membiarkan Anda terus menyebarkan keyakinan Anda.”

“Apa yang akan Anda lakukan?”

Hening. Tak ada lagi yang bersuara di ruangan itu. Kali ini, wajah-wajah ‘Figure of Eight’ berubah menjadi tegang. Tiba-tiba, Tuang Bangau mengeluarkan sebuah poci kecil, mengguncang-guncangkannya, membuka tutupnya, lalu menyiramkan isinya ke wajah Raja Jonggol, sambil berteriak, “Ini warisan spiritualitas kuno yang dijaga selama berabad-abad oleh orang yang meyakininya, sekarang akan menaklukkan dirimu. Ini darah Yesus!”

Raja Jonggol tak sempat mengelak. Darah kental yang sudah berusia ribuan tahun itu pun menerpa wajahnya. Saat itu juga, Sang Raja tak sadarkan diri. Mr. Pelican kemudian menyeka wajah Sang Raja sehingga bersih, lalu menegakkan kepala Sang Raja hingga posisi duduknya sempurna. Mr. Pelican kemudian mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya. Dia lalu membacakan sesuatu dalam bahasa Indonesia, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.” Kalimat itu dibacanya hingga tujuh kali.

“Setelah sadar nanti, dia akan menjadi pengikutmu yang setia Mr. Pelican. Apa pun yang engkau katakan, akan dipatuhinya. Peliharalah dia baik-baik dan jadikan dia bidak kita yang paling berharga di dunia timur,” papar Tuan Bangau dengan nada lega dan puas. “Wild Rose dan Letter of the Death telah berfungsi dengan baik,” imbuhnya.

Tuan Bangau pun memberi tanda dengan bahasa tubuh agar ‘Figure of Eight’ meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Sang Raja sendirian hingga tersadar. Wajah mereka terlihat senang sekali. Terlebih Mr. Pelican yang senyum alamiahnya semakin kentara.

berlanjut ke cerita 14

Cerita 12: Pertemuan di Bangkok

Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung

Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.

Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.

“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.

Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”

“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.

“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”

“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”

Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.

Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota ‘Figure of Eight’ duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.

“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.

“Mereka menunggu kita di luar rumahnya…” ujar seorang yang lain.

“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani…” komentar yang lain lagi.

“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita…” cetus seorang yang lainnya.

“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”

Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”

Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.

Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota ‘Figure of Eight’ pun kembali berkumpul.

“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.

“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.

“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.

“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.

Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.

Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV– untuk ikut campur.

Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.

‘Figure of Eight’ telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.

–berlanjut ke cerita 13–

  • Calendar

    • July 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search