Teknologi Sudah Canggih, Mengapa Bermain Senjata Kuno?

Kujang Siliwangi. Sanggup patahkan baja. Orang bule takluk?

Kujang Siliwangi. Sanggup patahkan baja. Orang bule takluk?

Ruang peraduan ini sangat indah. Seluruh dindingnya dilapisi kain warna putih dan merah jambu yang disinari lampu di baliknya. Sedangkan langit-langitnya merupakan layar plasma raksasa tempat bermainnya ribuan cahaya berwarna-warni. Juga layar bagi televisi dan film. Tidak ada tempat tidur di ruangan itu. Sebab, seluruh lantainya adalah matras empuk dengan bahan lembut. Ini benar-benar sebuah ruangan tanpa furniture atau perlengkapan lain. Ini adalah ruang tidur yang sempurna. Di atas matras yang lebar itu, sepasang suami istri berbaring berdampingan.

“Ayah, di atas meja besar di depan ruang ini ada beberapa benda kuno. Apakah Ayah ingin menyampaikan sesuatu kepada Mama berkaitan dengan benda-benda itu?” Permaisuri memulai percakapan.

“Iya, Mama. Benda-benda itu berkaitan dengan masa depan kita. Ayah berharap, dengan melihat benda-benda itu, pikiran Mama akan tergiring ke arah yang sebelumnya tidak terduga. Sebuah alam pikiran yang paralel dengan rasionalitas yang kita gunakan selama ini,” ujar Sang Raja.

“Maksud Ayah, agar Mama melirik dunia spiritualitas kuno yang saat ini cenderung dilupakan orang?”

“Tidak persis seperti itu, Mama. Bukankah Mama selama ini juga mempraktekkan spritualitas kuno dengan shalat lima waktu? Ayah hanya ingin Mama mengetahui makna dari pengumpulan benda-benda itu. Sesuatu yang secara langsung akan berkaitan dengan Mama…”

“Naluri Mama mengatakan bahwa akan terjadi hal besar…”

“Benar Mama. Lawan-lawan kita tengah bergerak dengan kekuatan besar untuk menaklukkan kita. Mereka datang dengan senjata yang diduga sangat merusak. Tetapi, ini sebatas hipotesa, karena kita belum mengetahui persis senjata itu akan bekerja seperti apa. Namun, kepala keamanan mengatakan bahwa senjata itu berasal dari dunia spiritualitas kuno…”

“Apakah mereka sudah bosan menyerang kita dengan senjata modern?”

“Benar Mama. Mereka bosan karena tidak pernah berhasil dengan senjata modern. Selain itu, kali ini mereka tidak lagi mengirim orang suruhan, melainkan melakukannya dengan tangan mereka sendiri. Senjata modern bisa menimbulkan ekses yang tidak mereka inginkan, serta dapat mengundang perhatian pihak lain, bahkan kepolisian atau militer. Mereka jelas menghindari kemungkinan seperti ini, mengingat kerahasiaan mereka, serta pihak-pihak lain di belakangnya, yang begitu dijaga.”

“Mereka akan membunuh kita dengan tangan mereka sendiri… Sungguh berat beban mereka…”

“Mereka tidak akan membunuh semudah itu, Mama…”

“Benarkah? Mengapa?”

“Sebab, putri kita pergi tanpa diketahui keberadaannya, termasuk oleh mereka. Membunuh kita tidak akan menyelesaikan persoalan di mata mereka, karena putri kita masih hidup dan tetap dapat meneruskan kejayaan istana kita. Lain halnya bila kita dibunuh dan putri kita dikuasai mereka, maka istana ini akan dijadikan alat yang sangat efektif untuk memperluas pengaruh mereka, terlebih lagi di negara kita pengaruh istana ini cukup kuat…”

“Oh, Putriku… engkau memang sangat mulia…”

“Ya, Mama… Anak kita berpikir dan mengambil sikap yang sangat tepat…”

“Jadi, yang akan mereka lakukan sekarang adalah tidak membunuh kita, lalu apa?”

“Mereka ingin mengendalikan kita. Itulah target mereka saat ini. Bahkan, mungkin, kita akan dijadikan bagian dari mereka, karena lebih menguntungkan bila kita ada di pihak mereka…”

“Tapi, Ayah, mengapa tidak kita saja yang kali ini bersikap agresif dan menyerang mereka?”

“Itulah yang akan kita lakukan sekarang, Mama. Kita akan menghadang mereka di tempat lain, bukan di sini. Kita serang mereka di Bangkok…”

“Lantas, benda-benda kuno itu, apa kaitannya dengan semua ini?”

“Itu semua adalah persiapan kalau-kalau prediksi kita tentang senjata dari dunia spiritualitas kuno benar-benar mereka gunakan. Kita memiliki senjata-senjata yang sangat hebat dari dunia spiritualitas nenek moyang kita sendiri…”

“Sungguh ironis ya, Ayah… Ketika kita sudah sampai kepada pencapaian teknologi yang sangat tinggi, bahkan bisa memodifikasi cuaca, ternyata kita akan bertempur dengan senjata-senjata kuno…”

“Benar, Mama. Memang ironis. Tetapi, demikianlah pertempuran yang akan kita hadapi. Sebuah pertempuran yang bukan ditujukan untuk membunuh, tetapi untuk menaklukkan. Senjata-senjata modern tidak bisa digunakan untuk menaklukkan pikiran dan jiwa kita. Itulah inti soalnya. Mereka benar-benar ingin menaklukkan kita dengan tuntas, yakni menjadikan jiwa dan pikiran kita seperti mereka…”

“Apakah ini pertempuran yang akan kita menangkan, Ayah?”

“Sulit untuk menjawabnya, Mama… Tetapi, kita harus yakin pada kebenaran yang kita miliki…”

***

Sambil menanti kantuk datang, Raja Jonggol kemudian mengisahkan riwayat beberapa senjata kuno. “Topeng Gajah Mada merupakan perwujudan jiwa ksatria Majapahit yang memegang teguh prinsip kebenaran. Dengan topeng di wajah, seorang ksatria tidak mudah terkejut, takut, atau gembira sehingga terlena. Selain itu, topeng itu mengisyaratkan kepercayaan yang tinggi yang dapat diembankan kepada si pemakai topeng. Raja Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit suka berbicara kepada Gajah Mada yang memakai topeng, sebab Hayam Wuruk merasa tidak berbicara kepada seseorang, melainkan kepada suatu institusi kepercayaan. Itulah makna filosofis topeng Gajah Mada. Sedangkan kemampuan fisik topeng ini sudah teruji di berbagai peperangan dan penaklukkan wilayah dari Sabang sampai Irian Jaya, serta dari selatan Jawa hingga kepulauan Filipina, termasuk Malaysia dan Thailand. Bahan bajanya lebih kuat ketimbang pedang samurai pada masanya. Bahan baku bajanya tidak dibentuk dengan peleburan, melainkan dengan pemanasan dan tempaan yang berlapis-lapis, sehingga topeng itu seperti pemadatan lempengan besar baja menjadi hanya sebesar wajah manusia.

Dengan topeng inilah, Gajah Mada tidak pernah benar-benar dikenali wajahnya. Ia pun menjadi figur sejarah yang misterius, semisterius asal usulnya, juga semisterius makamnya yang tidak pernah diketahui keberadaannya. Di masa kini, berbagai wilayah di Indonesia mengklaim menjadi tempat makan patih hebat itu. Misalnya, provinsi Bali, provinsi Jawa Timur, provinsi Jawa Tengah, bahkan provinsi Lampung pun ikut-ikutan mengklaim menjadi tempat peristirahatan terakhir Gajah Mada.

Sayangnya, klaim-klaim itu tidak didukung bukti arkeologis yang kuat. Justru bukti-bukti arkeologis yang banyak ditemukan di situs arkeologi Trowulan yang dianggap sebagai pusat kerajaan Majapahit, sempat disalahgunakan untuk menggambarkan figur gajah mada. Seperti kita ketahui, sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, wajah pria tangguh itu digambarkan oleh pelukis Henk Ngantung, kelahiran Bogor tahun 1921, dengan imajinasinya sendiri dan hasilnya dimuat di berbagai buku pelajaran sekolah. Imajinasi itu berawal dari penemuan sebuah patung di situs Trowulan yang dispekulasikan sebagai penggambaran sosok Gajah Mada. Padahal, patung itu belum tentu menggambarkan sang mahapatih. Namun, karena saat itu adalah masa awal kemerdekaan dan Indonesia memerlukan figur yang dapat membangkitkan rasa nasionalisme, maka sosok Gajah Mada harus dapat dilihat wujudnya, bukan hanya didengar namanya. Lukisan Henk Ngantung pun diterima sebagai penggambaran resmi patih Gajah Mada.

Bagaimana wajah yang sebenarnya dari sang pengucap Sumpah Palapa itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi, setidaknya, dimensi dan bentuk topengnya dapat menggambarkan pemiliknya. Topeng ini tidak terlalu besar. Artinya, Gajah Mada memiliki tubuh berukuran rata-rata. Namun, yang jelas, dari warna perak topeng itu dan profilnya yang tampan, Gajah Mada bukanlah orang yang menyeramkan, melainkan orang yang penuh keagungan,” papar Raja Jonggol panjang lebar.

“Bagaimana kita berhasil mendapatkan topeng itu?” tanya Sang Permaisuri.

“Tentu melalui riset betahun-tahun yang telah aku lakukan sejak pertama kali menekuni arkeologi. Belakangan para ilmuwan kita membantu dengan teknologi termutakhir. Dan ternyata topeng itu tidak pernah terkubur di dalam tanah sebagaimana prediksi yang selama ini ada. Topeng itu disimpan dengan baik oleh sekelompok pewaris pusaka Majapahit yang sangat merahasiakan diri mereka. Dan ketika menyadari bahwa keberadaannya telah diketahui oleh Istana Jonggol, mereka menghubungiku dan kami bertemu. Setelah menyepakati beberapa hal, seperti menjaga kerahasiaan mereka, kami pun bersahabat. Bahkan, topeng Gajah Mada kemudian dipinjamkan kepada kita, setelah mereka mengetahui duduk persoalan yang akan kita hadapi dengan lawan-lawan kita. Demikian pula dengan tongkat komando mahapatih Gajah Mada, itu pun kita meminjamnya dari mereka,” ujar Raja Jonggol.

“Bagaimana dengan Kujang Prabu Siliwangi?” tanya Sang Permaisuri yang semakin ingin tahu.

Macan Putih kerap jadi simbol kesaktian Prabu Siliwangi

Macan Putih kerap jadi simbol kesaktian Prabu Siliwangi

“Kujang merupakan senjata yang dipakai raja-raja Pajajaran secara turun temurun dalam berbagai peperangan. Dibuat pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi, yakni di masa jayanya kerajaan Pajajaran, dalam kurun 1.474-1.513, senjata yang berbentuk khas ini diwariskan kepada raja-raja selanjutnya. Awalnya merupakan benda pusaka yang lebih ditekankan makna filosofisnya, yakni menyimbolkan kepemimpinan yang kuat dan bijaksana, namun kemudian senjata itu banyak digunakan dalam pertempuran. Sebab, setelah Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja mangkat, raja penggantinya mulai banyak menghadapi serangan-serangan pasukan Islam. Sebagai contoh, Prabu Surawisesa yang memerintah dalam kurun 1.513-1.527 atau sekitar 14 tahun, menghadapi peperangan tak kurang dari 15 kali. Keadaan perang ini juga dialami oleh penggantinya, Prabu Ratu Dewata (1.527-1.535). Bahkan, penggantinya, Sang Ratu Saksi yang memerintah dalam kurun 1.535-1.543, meninggal di medan perang. Raja-raja selanjutnya, yakni Prabu Ratu Carita dan Prabu Seda pun tak luput dari peperangan dengan Islam. Dan pada masa Prabu Seda inilah, sekitar tahun 1.559-1.579, kerajaan Pajajaran akhirnya runtuh dan digantikan oleh kerajaan Islam dari Banten…” papar Raja Jonggol.

“Apakah kujangnya direbut pasukan Islam?” tanya Sang Permaisuri.

“Itulah Mama, dalam berbagai situasi, biasanya ada orang-orang yang dapat melakukan hal-hal yang berjasa. Ketika keraton Pajajaran yang megah dengan 330 tiang yang masing-masing diameternya sekitar 1 meter dihancurkan, ada empat kerabat istana yang sempat menyelamatkan beberapa benda pusaka, seperti mahkota Prabu Siliwangi yang terbuat dari emas, serta kujang pusaka itu. Keempat orang itu adalah Sanghyang Hawu atau Embah Jaya Perkosa, Batara Pancar Buana atau Terong Peot, Sanghyang Kondang Hapa, dan Batara Dipati Wiradijaya atau Nanganan. Benda-benda itu kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di kerajaan Sumedanglarang. Sampai kini, berbagai pusaka tersebut masih tersimpan di museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Dari keturunan raja Sumedang inilah kita mendapatkan kujang sakti yang akan kita gunakan untuk menghadapi lawan-lawan kita,” tutur Raja Jonggol.

Berlanjut ke Cerita 11a

Advertisements

Respon dari Istana Jonggol

Topeng Gajah Mada

Topeng Gajah Mada

_Pagi itu, Raja Jonggol berkumpul dengan kesembilan ilmuwannya, juga kepala pengawal, di ruang kerjanya. Dinding dan lantai pualam putih “mengisolasi” mereka dari dunia luar. Mereka duduk mengitari sebuah meja bundar berbahan kayu jati, yang ditaruh berdekatan dengan meja kerja Raja Jonggol yang berbentuk persegi panjang. Lukisan Borobudur tetap jadi latar belakang bagi posisi duduk sang raja, yang memakai pakaian khasnya: setelan jas lengkap dengan dasi berwarna paduan merah-putih, dan di kepalanya bertengger mahkota emas seperti milik Arjuna dalam wayang orang Jawa.

“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dan masa depan kita. Sehari setelah putriku meninggalkan istana, aku terbang ke Jerusalem untuk melakukan sembahyang di masjid Al Aqsa. Dorongan untuk pergi ke sana sudah aku rasakan sejak lama, namun baru benar-benar terlaksana setelah melihat semangat putriku yang begitu tinggi untuk mempertahankan cintanya pada kita. Dia memutuskan pergi karena begitu mencintai istana dan seisinya. Dia rela untuk tidak menuruti hasrat hatinya sendiri, dan telah berkorban untuk kita…”

Sejenak sang raja lalu terdiam. Dia merasakan tekanan batin yang berat, manakala membayangkan seorang gadis, putri semata wayangnya, yang kini entah berada di mana. Hadirin di meja bundar pun mengangguk-angguk dengan halus dan ikut merasa masygul. Sejak istana ditinggal sang putri, memang terasa ada keseimbangan yang semu. Tak ada lagi keceriaan dan kecantikan yang mempesona yang selalu dirasakan kehadirannya oleh semua orang: dari pelayan hingga sang raja sendiri. Seluruh penghuni istana mencintai sang raja dan permaisuri, namun hati mereka lebih berbunga-bunga karena ada wanita muda yang enerjik dan berbudi luhur. Dan ketika sekarang sang putri pergi tanpa ada yang mengetahui arah dan nasibnya, terbayangkan betapa sakit hatinya para penghuni istana bila mengenang sang putri.

Segera setelah sang raja dapat menguasai diri, dia pun kembali bicara. “Di masjid Al Aqsa, aku sempat tertidur sesaat dan bermimpi. Di dalam mimpiku, aku diminta oleh seorang pria untuk mencari bagian tembok di masjid itu yang pernah disentuh Nabi Muhammad saat Isra dan Mi’raj. Tetapi, hadirin sekalian, aku tidak dapat menemukan bagian tembok itu. Sebab, bagaimana cara menemukannya dan memastikan bahwa suatu bagian tembok di masjid Al Aqsa pernah disentuh nabi atau tidak, tentu belum ada metodenya. Namun, menjelang maghrib, aku melihat seorang anak bersandar di suatu bagian tembok. Kulihat wajah anak itu begitu suci. Dan dari matanya, aku merasa dia memandang dunia dengan begitu tulus. Ada selintas kebahagiaan sejati saat memandang wajahnya. Aku pun memutuskan untuk menganggap anak itu telah bersandar di bagian tembok yang pernah disentuh nabi. Setelah anak itu pergi, aku bersandar di bagian tembok itu. Apa yang aku rasakan? Kekosongan. Ketiadaan. Yang tersisa hanya keinginan untuk mencintai. Sebuah perasaan tanpa beban, perasaan yang membuatku tidak takut pada apa pun, termasuk kematian sekali pun. Saudara-saudara sekalian, sejak saat itu, aku menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar di dunia ini adalah ketulusan hati dan keberanian untuk menghadapi apa pun…”

Para peserta meja bundar lalu terdiam agak lama. Hening. Tiba-tiba, suara sang kepala pengawal memecah kesunyian, “Terima kasih sang raja, atas dorongan moral dan semangatnya…”

Raja lalu tersenyum dan berkata, “Baiklah. Sekarang kita telaah sejauh mana kondisi istana kita dalam percaturan yang sunyi tapi kejam ini…” Raja kerap menyebut persaingan antara pihaknya dan kekuatan di luar istana dengan istilah ‘percaturan yang sunyi tapi kejam’. Dia memang selalu menekankan kepada pengikutnya bahwa ancaman-ancaman yang berbahaya dalam kehidupan kerap kali tidak terdengar hiruk pikuk. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kehidupan massal tetap berjalan sebagaimana biasanya. Namun, begitu serangan itu berhasil, maka dampaknya dapat mengubah hajat hidup orang banyak. Dia mencontohkan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997–1998, peristiwa penjualan sejumlah BUMN di awal 2000-an, dan tendensi undang-undang penanaman modal asing yang dibuat selepas reformasi.

Kepala pengawal kemudian menanggapinya. “Kita sudah tahu sejak beberapa hari lalu, mereka telah mendapatkan dua kekuatan yang sangat merusak dan mulai bergerak untuk menyerang kita. Saya kira, dua kekuatan yang mereka dapatkan itu bersifat fisik sekaligus metafisik…”

Kepala pengawal melanjutkan, ”Pakai keyakinan hati, yang memang merupakan kekuatan besar, kita akan bisa melawannya. Tapi, kita tetap mesti siapkan penangkal yang mirip, yaitu senjata fisik sekaligus metafisik.”

Sang Raja terdiam. Tapi, dia segera menimpali, “Benar pengawalku. Peperangan seperti apa yang akan kita hadapi pun kita belum dapat memastikannya. Kita semua dapat mati oleh peluru dan kita mempersiapkan rompi anti peluru, namun ternyata musuh menyerang dengan gas beracun, maka matilah kita, sebab ternyata yang kita perlukan adalah sebuah masker dan oksigen.”

Tiba-tiba, ilmuwan sosiologi menukas. “Sang Raja, saya menyarankan agar kita mempersiapkan segalanya dengan lengkap. Jangan sampai ada kemungkinan yang tidak kita perkirakan. Karena itu, saya akan menyiapkan berbagai penangkal yang secara generik memang dibuat untuk menghadapi kekuatan fisik dan metafisik sekaligus…”

Sang sosiolog melanjutkan, “Yang pertama adalah topeng Gadjah Mada. Topeng ini, meski dibuat di zaman Majapahit, sebelum peluru ditemukan, ternyata anti peluru. Selain itu, pamor topeng ini dapat meruntuhkan moral lawan, sekaligus mampu memperkuat pikiran si pemakainya. Yang kedua adalah kujang Prabu Siliwangi. Senjata ini bahkan dapat mematahkan baja hanya dengan memukulkannya. Energi dan bobotnya pun mampu memperkuat jantung dan seluruh tubuh. Yang ketiga adalah baju zirah Prabu Hayam Wuruk. Sekali lagi, para ahli pembuat baju perang Majapahit telah menciptakan pakaian anti peluru yang tetap cocok untuk pertempuran masa kini. Dan terakhir adalah tongkat komando Gadjah Mada. Tongkat ini dapat membuat lawan terhipnotis dan dikendalikan. Semua pusaka ini telah ada di tangan kita. Kami telah mencarinya sejak satu setengah tahun lalu dan berhasil mendapatkannya.”

Wajah Sang Raja tampak berseri-seri. “Kalian adalah manusia-manusia yang hebat. Kalian bekerja untuk kemuliaan manusia. Tetapi, bagaimana strategi kita untuk menangkal mereka?”

“Sebaiknya, peperangan tidak kita lakukan di sini, Sang Raja. Kita hadang mereka di medan yang lain. Saya yakin mereka telah mempersiapkan pertempuran di sini dan telah menguasai berbagai detail fisik maupun metafisik di istana kita. Karena itu, kita kejutkan mereka dengan peperangan di tempat yang belum mereka pelajari,” ujar ilmuwan elektronika.

“Di mana tempat itu?” cetus Sang Raja.

“Di Bangkok. Selain kota itu tidak akan diduga kita jadikan medan perang, Bangkok juga tidak memiliki aura metafisik yang kuat, sehingga pusaka-pusaka kita tidak akan terganggu,” jawab sang ilmuwan.

“Baiklah,” Sang Raja mengawali kalimatnya seperti akan mengambil keputusan, “Beberapa hari lagi, aku akan menuju Bangkok. Aku akan pergi bersama kepala pengawal dan beberapa pengawal terbaik lain. Aku minta seluruh ilmuwan bertahan di sini bersama permaisuriku. Aku tidak pernah berharap lawan kita akan sampai ke sini, tetapi bila hal terburuk itu terjadi, kalian para ilmuwan tentu dapat melawan mereka dan melindungi permaisuriku. Istana ini tidak boleh jatuh hingga anakku kembali.”

“Baik, Sang Raja. Selain berbagai pusaka yang akan dibawa ke Bangkok, di istana ini masih ada tombak Pangeran Diponegoro dan golok pemberian pemimpin suku Baduy di Banten,” ujar seorang ilmuwan lain.

Berlanjut ke Cerita 11

Malaikat Gabriel Telah Terbangun

Salah satu jalan di Kashgar. Jonas menanti Gabriel di kota ini.

Salah satu jalan di Kashgar. Jonas menanti Gabriel di kota ini.

Desa Karimabad di lembah Hunza baru saja usai diramaikan oleh sebuah pesta pernikahan, ketika aku kembali dari Kashgar. Pesta pernikahan yang meriah, karena diiringi bunyi-bunyi petasan, mirip pesta kawin orang Betawi. Aku menyelinap cepat ke penginapanku, agar Rajah tak segera menemuiku. Aku khawatir dia bertanya macam-macam, karena memang aku memilih untuk merahasiakan kepergianku ke Kashgar.

Tiga hari aku berada di Kashgar, kota kuno di barat laut China, untuk keperluan arkeologi. Kota ini merupakan bagian penting dari ‘Jalur Sutra’ yang aktif ribuan tahun lalu. Aku juga punya kepentingan khusus di sana, menemui seseorang yang pernah berjumpa ayahku di Jakarta bertahun-tahun lalu, dalam suatu pertemuan arkeolog internasional. Waktu itu, aku diajak ayahku menemaninya, dan dikenalkan kepada Michel Jonas, seorang arkeolog Prancis yang bermukim di Kashgar.

Sebenarnya aku tak yakin soal keamananku bila menemui Jonas. Bagaimana pun, aku merasa harus curiga kepada siapa pun –terlebih orang Barat– yang hidup “tidak konvensional” di negeri orang. Mengapa ada seorang doktor dari Prancis yang tidak menikah, tidak banyak menulis buku, tidak banyak menulis jurnal ilmiah, hidup menyepi di kota seperti Kashgar, tapi dihormati di kalangan arkeolog dunia? Orang seperti ini sangatlah mungkin telah berafilisasi dengan suatu kelompok tertentu.

Tapi, aku yakin dia memiliki ‘sesuatu’. Karena rasa ingin tahuku yang besar –lebih tepatnya kepentingan– maka kuberanikan diri menemuinya. Yang pasti, ayahku tidak pernah mengindikasikan hal buruk tentang Jonas. Biasanya, bila ayahku tidak berkenan terhadap seseorang, dia akan berbicara dengan nada yang mengindikasikan hal itu. Tentang Jonas, ayahku bicara dengan nada biasa saja.

Ayahku pernah bercerita –di dalam mobil, sepulang dari pertemuan arkeolog di Jakarta itu– bahwa Jonas adalah arkeolog yang paling beruntung. Dia menemukan benda arkeologi yang sangat bernilai, yang sebelumnya tidak pernah diduga keberadaannya.

Selain bahtera nabi Nuh, ada satu lagi benda bersejarah yang pernah dicari seluruh arkeolog di dunia ini, yaitu talbut atau peti bertangkai yang digunakan nabi Musa untuk menyimpan sepuluh perintah Tuhan. Kedua benda itu sudah berhasil ditemukan dan keduanya sekarang menjadi milik pemerintah Israel. Memang, arkeolog negeri itu yang menemukan keduanya. Tapi, Jonas “berhasil” menemukan “benda” yang lebih dahsyat!

Dalam suatu ekskavasi di Kashgar, berkaitan dengan risetnya soal ‘Jalur Sutra’ yang dianggapnya belum tuntas, Jonas justru membuat kehebohan ketika menemukan sebuah peti tanah –bukan emas, perak, perunggu– yang di dalamnya bersemayam sesosok tubuh mirip manusia. Jonas mengatakan kepada para koleganya bahwa itu adalah malaikat Gabriel. Semula tidak ada yang percaya padanya. Setiap ditanya bagaimana bisa yakin kalau itu adalah malaikat? Apalagi bisa tahu itu adalah Gabriel? Bukankah malaikat ada banyak? Jonas hanya menjawa singkat, “Aku tahu.” Tentu saja, Jonas juga mempelajari berbagai kajian sejarah agama-agama langit, termasuk dari sudut pandang arkeologi.

Barangkali, karena peti tanah itu tidak bisa diangkat dari tempatnya, bahkan dengan crane yang paling kuat sekalipun, juga lantaran peti tanah itu tak bisa di-cuil sedikitpun, dengan bor bermata intan sekalipun, para arkeolog akhirnya mulai mempercayai keyakinan Jonas.

Arkeolog tua itu telah membangunkan malaikat yang paling “akrab” dengan manusia, karena sering menyampaikan wahyu Tuhan. Tidak ada penjelasan ilmiah yang benar-benar bisa dipercaya mengapa Gabriel memilih tidur di Bumi. Mengapa pula dia memilih Kashgar? Mengapa bukan di Karimabad, Hunza, yang lebih nyaman? Mengapa pula dia memakai peti tanah? Sampai hari ini, Jonas selalu duduk di dekat peti itu, siang maupun malam. Dia yakin Gabriel akan kembali. Dan Jonas sudah siap dengan sikap dan pertanyaan. Dia yakin akan lebih siap. Tidak seperti pertemuan pertama yang hanya berlangsung beberapa detik. Jonas hanya mendapat sebuah dorongan di dada kirinya, yang sampai sekarang meninggalkan bekas telapak tangan enam jari. Warnanya hitam seperti hangus dan tidak bisa dihilangkan. Sedetik kemudian, Gabriel menjadi seberkas cahaya dan menghilang dari pandangan. Pertemuan singkat itu, telah membuat Jonas merenung sampai hari ini. Dia selalu bertanya ke mana malaikat itu pergi, dan akankah dia kembali ke petinya. Pertanyaan yang belum terjawab.

Aku tentu bukan orang pertama yang mendatangi Jonas. Mungkin aku orang yang kesekian belas. Ya, hanya sekian belas, karena memang ‘peristiwa Jonas’ tidak pernah menjadi konsumsi publik. Itu adalah rahasia besar dunia. Pemerintah China menjaga ketat Jonas dan situs ditemukannya peti tanah itu, sekaligus membiarkan Jonas apa adanya. Mungkin, pemerintah China berharap bisa mendapat keuntungan dari peti itu, dan juga dari aktivitas Jonas, sebagaimana Israel mendapat keuntungan yang luar biasa dari talbut dan bahtera nabi Nuh. Israel tidak pernah kalah dalam perang semenjak memiliki dua benda tersebut.

Aku diterima Jonas dan dibiarkan otoritas setempat karena memang Jonas masih mengingat diriku. Dia bahkan menyebutku ‘flower from Jakarta’ ketika berjabat tangan. Rupanya dia ingat pertemuan kami bertahun lalu yang terjadi di Jakarta. Itu adalah perjalanan terakhir Jonas keluar dari Kashgar, setelah pertemuan dengan Gabriel. Kala itu, dia merasa perlu hadir di forum arkeolog dunia untuk mengungkapkan fakta dan analisis soal peti tanah yang ditemukannya.

Seketika itu juga aku sadar bahwa sapaan Jonas itu akan menimbulkan masalah. Otoritas setempat mengenaliku dari paspor Singapura sebagai Catherine Lee. Dan setiap ucapan Jonas pasti disadap oleh militer China. Cepat atau lambat, identitasku yang sesungguhnya sebagai putri Jonggol akan diketahui. Dan waktuku yang singkat di tempat Jonas kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sebelum aku lekas-lekas kembali ke Jonggol. Pasti akan ada pengejaran terhadap diriku setelah munculnya kalimat ‘flower from Jakarta’ itu. Kelompok yang memusuhi istana Jonggol tentu akan segera tahu keberadaanku.

  • **

Seminggu sebelum kuputuskan untuk menemui Jonas, aku secara tak sengaja melihat liputan televisi Pakistan tentang wabah nyamuk yang kebal pestisida dan obat pembasmi lainnya. Setiap orang yang digigit akan terkena penyakit batuk berdahak darah yang belum bisa terobati. Dan wabah itu terjadi di Jonggol, Indonesia! Aku menangis mengetahui hal itu. Tapi, tentu tangisku tidak kulakukan di depan Rajah, yang menemaniku menonton televisi. Rajah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berkali-kali berujar, “Ya Allah akbar, ya Allah akbar! Mengapa ada musibah seperti itu?!” Pria ini tidak tahu sama sekali bahwa prahara itu terjadi di RUMAH ku… “Singapura dekat dengan Indonesia. Bagaimana kalau wabah itu sampai ke negerimu yang mungil itu? Apakah Singapura bisa bertahan?” tanya Rajah dengan polos. Aku hanya diam dan berusaha tersenyum.

  • **

“Tuan Jonas, Anda tahu maksud kedatanganku ke sini?” ujarku. Aku sengaja mengawali dialog dengan bertanya seperti ini untuk mengukur kemampuannya. Kalau dia tak bisa menjawab dengan benar, aku akan segera kembali ke Karimabad, dan terus ke Islamabad untuk pulang ke Tanah Air. Buat apa aku berlama-lama dengan arkeolog tak berguna? Bukankah aku dikejar waktu dan dikejar kelompok jahat yang ingin menghancurkan hidupku? Bukankah Jonggol membutuhkan bantuan segera untuk mengatasi masalah wabah misterius? Lagipula, aku merasa kepalang basah. Identitasku sebentar lagi akan terungkap karena sapaan Jonas ‘flower from Jakarta’ tadi. Biarkan otoritas China yang merekam obrolanku dengan Jonas mengetahui identitasku. Toh, aku sudah siap dengan langkah taktisku selanjutnya.

“Hmm… ayahmu sedang dalam masalah, bukan?” ujarnya sambil menggaruk-garuk rambut gimbalnya. Dia pasti merasakan gatal di kepala dan sekujur tubuhnya, karena nyaris tidak pernah mandi. Dia yakin Gabriel akan kembali dan dia tidak mau melewatkan momen itu. Dia berada di dekat peti, siang-malam, dan tertidur di sampingnya.

Jonas melanjutkan, “Nyamuk-nyamuk itu bukan berasal dari mana pun. Hanya ada satu tempat di mana aku pernah menemukan nyamuk seperti itu…”

Aku berusaha tenang. Mengatur napas. Aku tak mau terlihat seperti orang panik dan terburu-buru. Ekspresi wajahku kubuat datar.

Akhirnya Jonas meneruskan sendiri kalimatnya. “Di Giza sampai hari ini masih ada nyamuk seperti itu. Tapi, akan mati kalau kena sinar matahari langsung. Mengapa yang di Jonggol tidak mati oleh matahari?”

Ah, tentu saja dia bingung soal daya tahan nyamuk ganas itu. Dia bukan ahli serangga. Namun, dia menyebut muasalnya dari Giza, sebuah piramid terbesar di Mesir. Ini sebuah informasi yang konkret.

“Mungkinkah nyamuk dari Giza berkembang dan beradaptasi dengan matahari langsung?” tanyaku. Ah, bodohnya aku. Mengapa aku bertanya seperti itu pada seorang arkeolog. Bukankah aku sendiri yang seorang entomologist (ahli serangga)? Ah, rupanya, pikiranku sudah terlalu lama berkutat di arkeologi dan mulai melupakan ilmu sarjanaku di IPB.

Jonas diam. Aku tahu dia mengaggapku keseleo lidah. Tapi, biarlah. Tiba-tiba dia bicara dengan nada yang lebih berat. “Nyamuk Giza hidup karena spirit kekhawatiran, bahkan mungkin kebencian. Para raja yang dimakamkan di Giza enggan berinteraksi penuh dengan pihak lain, apalagi berinteraksi secara tulus. Karena itulah, mereka merekayasa nyamuk yang akan membuat orang kapok mengutak-atik makam mereka. Dalam kematian pun mereka masih merasa sebagai raja.”

Tiba-tiba, secara spontan, aku berkata. “Kekhawatiran, kebencian, dan pamrih hanya bisa ditaklukkan dengan kemurnian dan ketulusan, bukan?”

Mata Jonas sedikit membelalak. Inilah kali pertama dia tidak terlihat mengantuk, lalu berkata, “Benar. Cobalah engkau cari mata air yang paling suci di lembah Hunza, juga buah yang paling suci di sana. Padukan keduanya. Mungkin bisa membuat nyamuk Giza enggan mendekat…”

Aku kemudian memegang tangan Jonas. Kuucapkan terima kasih atas penerimaannya terhadap diriku, juga idenya. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Dia tampak seperti anak lelaki kecil yang sedih karena akan ditinggal kerabatnya pulang. Aku memahami perasaannya. Tidak ada yang lebih melelahkan dalam hidup ini kecuali menanti. Dan Jonas menanti “seseorang” yang tak kunjung datang. Ketika ada tamu yang pergi pun, beban hati Jonas bertambah berat. Maafkan aku, Jonas. Aku harus kembali ke Jonggol. Semoga saja, sedikit kontakmu dengan Gabriel bertahun-tahun lalu, telah membuatmu punya linuwih, sehingga idemu manjur untuk mengalahkan nyamuk Giza yang kejam.

  • **

Sesampai di Karimabad aku tak bisa menyaksikan seutuhnya pesta perkawinan khas setempat yang mirip pesta kawin Betawi. Padahal, ini salah satu peristiwa budaya lokal yang ingin aku ikuti prosesinya. Aku hanya mendapat “ujung” prosesi pernikahan, yakni bunyi-bunyi petasan. Ini adalah penanda bahwa mempelai wanita telah sah menjadi istri seorang pria, dan diboyong ke rumah keluarga si pria. Bersama si mempelai wanita, ikut diboyong pula perabot rumah tangga, seperti televisi, kasur, ranjang, karpet, dan lemari. Wanita yang barang bawaannya banyak, akan dipandang tinggi oleh keluarga mempelai pria. Di halaman rumah si pria, bahkan digelar tari-tarian untuk menyambut wanita yang tengah berbahagia itu.

Aku membayangkan Rajah. Dia beberapa hari lalu mengajak aku menikah. Ide gila itu sekarang terasa menggelitik, manakala melihat senyum bahagia di wajah si mempelai wanita. Bagaimana pun, aku wanita normal yang ingin menikah, dan usiaku pun cukup dewasa. Namun, setelah dipikir-pikir, lamaran Rajah jadi tak masuk akal. Bagaimana aku dipandang oleh keluarganya, karena aku di sini sebatang kara dan tak punya perabot berondong petong seperti si mempelai wanita itu?

Lagipula, aku harus segera meninggalkan Hunza. Tak lama lagi, akan ada orang yang mencariku di sini. Aku tak mau masalahku merembet kepada Rajah yang polos (setidaknya sampai hari ini dia tampak polos dan jujur). Bukan cuma itu, aku juga belum yakin dengan perasaanku pada Rajah. Mungkin aku cuma perlu teman di negeri asing ini, sehingga aku mau dekat dengan dia. Ataukah Rajah juga cuma membual cinta kepadaku? Entahlah…

Berlanjut ke Cerita 10

Cerita 9 Bergerak dari Carcassonne

Interior gereja Basilica Trier, Jerman Selatan

Interior gereja Basilica Trier, Jerman Selatan

_Delapan orang duduk mengitari sebuah meja bundar besar di dalam kamar presidential suite Hotel de La Cite. Semuanya memakai setelan jas lengkap dari merek-merek terkenal. Bahkan, motif dasi yang mereka pakai semuanya berwarna cerah. Sayangnya, gaya berpakaian yang mewah dan trendy itu tidak dapat menutupi ketuaan di wajah mereka yang rata-rata sebanding dengan Tuan Bangau, sekitar kepala tujuh. Yang termuda di antara mereka usianya sekitar lima puluh tahun. Dan dia biasa dipanggil dengan sebutan Mr. Pelican. Wajahnya selalu terlihat seperti sedang tersenyum, karena mulutnya yang agak lebar.

“Para saudaraku,” Tuan Bangau membuka percakapan, “Anak Elang telah memisahkan diri dari kerabatnya. Tidak ada dugaannku yang lain kecuali bahwa Elang Timur sedang merencanakan sesuatu dan memilih mengamankan anaknya terlebih dahulu. Dia melakukan itu lantaran ada rencana di baliknya.”

“Aku juga berpikir demikian. Tetapi, aku belum melihat kecenderungan yang mengarah ke suatu rencana besar dari Elang Timur. Informan kita di sana semakin mempertajam pengawasannya, tetapi tidak melaporkan sesuatu yang spesifik,” ujar Mr. Pelican.

Orang lain di meja bundar itu pun lebih kurang mengungkapkan pandangan senada.

“Baiklah,” Tuan Bangau kembali berbicara, “Dalam hal ini kita sepakat Elang Timur sedang merencanakan sesuatu yang belum kita ketahui. Persoalannya, kita tidak dapat berdiam diri dan kemudian mengetahui rencana Elang Timur ketika sudah terlambat. Aku meyakini filosofi bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Selama ini, kita sudah menyerang, meski belum efektif. Dan kita tidak boleh berhenti menyerang hingga berhasil. Firasatku mengatakan ada rencana besar dari Elang Timur yang akan menghantam kita bila kita tidak menghantamnya lebih dulu. Aku mengusulkan agar kita gunakan senjata andalan kita saat ini juga…”

Tiba-tiba hening. Tak ada yang bicara. Beberapa saat setelah frase ‘senjata andalan’ disebut, semuanya menahan napas. Mereka terkejut, sekaligus memang berharap senjata itu digunakan. Ada rasa penasaran, karena senjata itu belum pernah digunakan.

“Aku kira ini mungkin sudah waktunya…,” ujar seorang peserta meja bundar. Yang lain mengangguk-angguk. “Tetapi, bagaimana strategi serangan pamungkas ini?”

Tuan Bangau terdiam sejenak. Lalu dia menatap Mr. Pelican yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.

“Ideku,” ujar Mr. Pelican, “Kita bagi serangan ini ke dalam dua tim. Tim pertama dipimpin oleh Tuan Bangau, tugasnya membawa Wild Rose (Mawar Liar) ke arah timur hingga mencapai Bangkok. Di sana, tim pertama akan bertemu dengan tim kedua yang aku pimpin dan membawa The Letter of Death (Surat Kematian). Dari Bangkok, kita bersama-sama masuk ke istana Elang Timur secara halus. Setelah itu, tanpa ada pihak mana pun yang menyadarinya, Elang Timur dan seluruh pendukungnya akan menjadi bagian dari kita. Dunia pun kembali bebas dari ancaman.”

Tidak ada peserta meja bundar yang menentang ide Mr. Pelican. Artinya, rencana siap dilaksanakan. ‘The Figure of Eight’ –mereka menyebut diri mereka demikian— memang selalu kompak. Jarang sekali ada pertentangan di antara mereka. Kalau seseorang angkat bicara, maka esensinya selalu memperkaya pembicaraan rekan lainnya, begitu seterusnya hingga dicapai kesimpulan yang matang.

Keesokan harinya, di dalam sebuah gereja besar peninggalan Romawi di kota Trier, Jerman Selatan, seseorang dengan hati-hati menaiki dinding untuk mencapai tempat penyimpanan oregon (pipa-pipa besi yang berguna menggaungkan suara pengkotbah). Setibanya di atas, dia mengais-ngais sebuah bagian dinding di sela-sela oregon yang ditaruh berhimpitan. Kemudian dia mencongkel sebuah batu bata dan mengambil sesuatu di bawahnya. Sebuah poci kecil yang terbuat dari perak. Setelah menaruh kembali batu bata tadi di tempatnya, dengan hati-hati dia turun dari tempat oregon itu memakai tangga yang sama digunakannya ketika naik. “Wild Rose dalam perjalanan ke sarang burung,” ujar orang ini melalui telepon genggamnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, Mr. Pelican tengah berada di ruang perpustakaan gereja yang sama. Dia membuka-buka halaman sebuah buku tua yang cukup tebal. Buku bersampul kayu dengan warna cokelat tua itu tampak berdebu. Tempat penyimpanannya pun tidak terlindung. Tetapi kondisi buku itu masih baik, karena halaman-halamannya dibuat dari kulit binatang. Dengan hati-hati, Mr. Pelican menyalin sesuatu dari buku itu ke atas selembar kertas. Setelah selesai, dia mengembalikan buku itu ke tempatnya, lalu berjalan dengan tenang meninggalkan gereja.

Sebenarnya, orang yang mengambil Wild Rose, juga Mr. Pelican, tidak pernah datang ke gereja itu sebelumnya. Bahkan, mereka hampir tidak pernah masuk ke gereja di mana pun sepanjang hidupnya. Seluruh anggota ‘Figure of Eight’ sesungguhnya bukan orang yang suka datang ke gereja, apalagi mencintai gereja. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan gereja dan mengambil sesuatu dari tempat itu.

Malam harinya, ‘Figure of Eight’ kembali berkumpul di ruangan Tuan Bangau di Carcassonne. Di atas meja bundar, terdapat poci Wild Rose dan selembar kertas dari Mr. Pelican. Masing-masing dari kedelapan orang itu secara bergiliran memegang Wild Rose dan mengguncang-guncangkannya, sehingga terdengar suara cairan yang berkecipak di dalam poci itu. Kedelapan orang itu juga secara bergantian membaca tulisan di atas kertas milik Mr. Pelican, lalu masing-masing memberi tanda anggukan kepala yang berarti sejauh ini pengumpulan kedua senjata pamungkas berjalan dengan baik.

Keesokan harinya, sebuah Peugeot 909 Extreme, sebuah Mercedes-Benz E-888, sebuah Ferrari Enzo XII, dan sebuah Proton Perotiga, satu per satu keluar dari benteng Carcassonne dalam interval waktu sekitar lima menit. Mobil-mobil yang ditumpangi para anggota ‘Figure of Eight’ itu menuju bandara Montpellier untuk terbang ke bandara Charles de Gaulle di Paris, untuk kemudian melakukan penerbangan jarak jauh ke Bangkok.

Untuk sampai ke bandara Montpellier, keempat mobil itu masing-masing memilih rute yang berbeda. Mereka benar-benar memperhitungkan semuanya secara detail untuk menjaga kerahasiaan diri mereka, juga apa yang mereka lakukan. Bahkan, cara mereka menentukan jenis mobil yang digunakan pun cukup menarik, karena begitu beragam: dari mobil kecil kelas kacangan hingga mobil mewah kelas wahid. Siapa pun akan sulit untuk mengira bahwa penumpang Ferrari sebenarnya berkawan dengan penumpang Proton yang murahan.

Berlanjut ke Cerita 9a

Tuan Bangau

Carcassonne dari udara. Di sini Tuan Bangau rancang operasinya.

Carcassonne dari udara. Di sini Tuan Bangau rancang operasinya.

_Carcassonne siang itu berlangit cerah. Hawa kawasan selatan Prancis yang beraroma mediterania terasa kental dari embusan anginnya yang harum. Entah dari mana asalnya wangi di dalam udara ini. Angin berembus tidak terlalu dingin. Mirip angin di kawasan Puncak, Bogor.

Carcassonne, sebuah kota kuno yang berdiri sejak 100 SM dan mulai dikelilingi benteng sejak abad ke-12, sekarang dijadikan situs wisata oleh pemerintah Prancis. Di dalam benteng yang masih dijaga keutuhan bentuknya itu, terdapat puluhan hotel dan restoran, serta toko-toko cinderamata. Orang-orang mengunjungi Carcassone untuk menikmati sebuah lansekap kota tua yang dikelilingi benteng. Bangunan-bangunan, jalan-jalan, gang-gang, dan menara-menara pengawas di sudut-sudut benteng konon masih sama dengan keadaan di masa lalunya. Dari kejauhan, Carcassone didominasi menara-menara pengawas dengan atap kerucut, serta tembok-tembok panjang yang di atasnya disediakan cerukan bagi pasukan pemanah. Di masa Perang Salib, kota ini jadi salah satu tempat persinggahan pasukan Eropa yang bergerak menuju Jerusalem.

Di sebuah kamar presidential suite Hotel de La Cite, salah satu hotel termewah di dalam benteng, seorang lelaki kulit putih duduk membaca buku. Rambutnya sudah memutih dan hanya sedikit menutupi kepalanya yang sebagian besar telah tampak kulitnya. Meski usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, lelaki ini tidak berkaca mata.

Di lobby hotel, seorang pria separuh baya terburu-buru menaiki tangga menuju lantai dua. Setelah tiba di depan pintu kamar presidential suite, segera dia menekan bel. Lelaki tua yang ada di dalam kamar beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
“Mengapa engkau lebih cepat datang?” tanya si lelaki tua.
“Maaf, Tuan Bangau, saya memutuskan datang lebih awal karena merasa perlu menyampaikan informasi yang tidak boleh ditunda.”
“Katakan apa informasinya…”
“Anak Elang Timur tidak lagi bersama induknya. Dia pergi entah ke mana, seperti hilang ditelan bumi. Informan kita di sana mengatakan anak Elang itu menghilang sejak beberapa minggu lalu. Tetapi, saya menduga kepergiannya sudah terjadi sejak berbulan-bulan yang lalu…”

Wajah Tuan Bangau sedikit memerah. “Mengapa kita bisa kehilangan jejaknya?!” Nada kalimatnya gusar, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia lalu berkata, “Tiga hari dari sekarang, segara kumpulkan seluruh Burung-Burung di kamar ini. Katakan pada mereka, Tuan Bangau telah memutuskan kondisi darurat!”

Setelah si pria separuh baya keluar dari kamar, Tuan Bangau termenung di dekat jendela yang menghadap ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan penjara dan tempat para tahanan digantung. Hanya ada ekspresi dingin di wajahnya yang sudah banyak dihiasi garis dari lipatan kulit. Sorot matanya menerawang jauh. Di tangan kanannya, ada selembar foto seorang perempuan cantik yang tengah berpose di depan sebuah mobil balap, Putri Jonggol.

Berlanjut ke Cerita 9

Misteri dan Cinta di Peluk Hunza

Anak-anak Hunza. Rajah kerap bermain dengan mereka.

Anak-anak Hunza. Rajah kerap bermain dengan mereka.

_Aku adalah perawan suci. Hingga usiaku yang mendekati 25 tahun ini, tak sejengkal tubuhku yang pernah dijamah laki-laki. Beberapa teman dekat pria kumiliki semasa kuliah, tapi bukan pacar. Aku terlalu kagum pada ayahku, dan terlena oleh pesonanya. Tak ada laki-laki lain yang bisa memikat hatiku, karena kumenganggap mereka tak sehebat ayahku.

Sekarang aku jadi punya sedikit “masalah” karena kekurangpengalamanku pada soal asmara. Di tempat “antah berantah” ini, yang jauh dari kampung halaman, aku menghadapi situasi yang merepotkan. Hunza bukanlah tempatku. Di sini aku hanya melarikan diri dari ancaman kelompok yang ingin menghancurkan keluargaku. Aku tidak merasa ada ikatan emosi yang kuat dengan tempat yang dingin dan cuma dikelilingi gunung berpuncak salju ini.

Tapi, Rajah Khan membuatku berpikir ngawur. Dia selalu bilang bahwa aku ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidup dan mati di Hunza. Omongan macam apa ini. Tak masuk akal. Ya, sebab aku merasa jiwaku tetap tertinggal di Jonggol, kampung halamanku yang permai. Tapi, dia mengucapkannya dengan mimik wajah yakin, suara tanpa keraguan, dan bahasa tubuh bak perawi.

Rajah Khan cuma seorang pria asli Hunza –demikian pengakuannya– yang simpatik, tampan, dan pandai berbahasa Inggris. Sejak awal kedatanganku di Hunza, dia menjadi orang terdekatku, karena faktor bahasa tadi. Di samping itu, figurnya yang simpatik membuatku merasa aman.

Aku menyelidiki asal-usul dan keluarganya, karena aku memang harus melakukannya, demi keamananku. Rajah –demikian aku memanggilnya– adalah anak seorang petani buah apricot. Ayahnya telah meninggal dunia sejak Rajah dalam kandungan ibunya. Sebab kematiannya tak jelas, menurut Rajah sendiri. Sedangkan pekerjaan Rajah sendiri sehari-hari “tidak ada”. Dia hanya datang dan pergi kepadaku sesukanya, tanpa aku tahu apa yang dilakukannya sebelum menemuiku.

Kemisteriusan Rajah tentu mengkhawatirkanku. Aku tentu saja merasa harus mencurigainya. Tapi, yang membuat aku lebih repot adalah sikapnya. Dia, setidaknya di mataku yang kurang pengalaman ini, seolah sudah menjadi pacarku. Pandangan matanya, ekspresi wajahnya, dan nada suaranya seolah dia adalah kekasihku! Aku terkadang kurang nyaman dengan ini, tapi aku juga memerlukan Rajah! Di negeri asing ini aku, bagaimana pun, hanyalah seorang perempuan yang juga asing. Aku perlu teman. Dan aku membiarkan Rajah terus mengumbar sikap manisnya setiap hari. Dia jatuh cinta padaku? Atau cuma seorang playboy Hunza yang sedang beraksi?

Beruntung, dia sama sekali tak pernah mencampuri urusan arkeologiku. Aku pikir karena dia tidak paham, jadi gensi bicara soal purbakala. Masalahnya cuma soal romantika itu tadi. Dan terus terang aku bingung.

Musababnya, setelah dua bulan di Hunza, Rajah sempat mengatakan ingin menikahiku! Gila! Apa-apaan ini?! Batinku bergejolak. Ini orang sungguh-sungguh cinta atau jangan-jangan ingin menguasai hidupku. Jangan-jangan dia hanya pria tampan yang dikirim untuk menaklukanku. Apakah pelarianku ke Hunza tercium oleh musuh-musuh istana Jonggol?

Berlanjut ke Cerita 8

Mendengar Nama Rakaposhi

Sebuah sudut Changi

Sebuah sudut Changi

_Changi Airport berdenyut sebagaimana biasanya. Ramai. Tapi, terasa dingin, udaranya juga suasananya. Beruntung, warna-warna pastel dari karpet, dinding, langit-langit, dan lampunya menciptakan nuansa nyaman. Inilah bandara yang didesain semenyenangkan sebuah mal. Dan di Changi banyak terdapat toko-toko –dari yang menjual rokok, makanan, buku, sampai pakaian—yang bisa membuat orang merasa betah, menunggu penerbangan sambil berbelanja buah tangan atau sekadar ‘window shoping’.

Di salah satu tempat duduk, seorang perempuan tengah membaca buku. Rambutnya, berwarna coklat keemasan dan jatuh manis di atas bahu dan separuh punggungnya. Sebuah syal berwarna merah jambu dari bahan wool melilit lehernya. Kemejanya berwarna putih dan bagian atasnya sedikit terbuka, memamerkan sedikit dadanya yang putih cerah. Satu kakinya ditumpangkan di atas kaki lainnya, membuat kesan jenjang semakin nyata di kedua kakinya yang dibalut jeans biru muda.

Sesekali pandangannya menyapu ke sekelilingnya, namun sejurus kemudian dengan tenang ia kembali menatap halaman bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karangan Prof. Samuel P. Huntington. Buku ini –sebuah buku yang terbit pada 1996, ketika perempuan itu belum dilahirkan– menjabarkan teori tentang dunia yang diwarnai benturan kepentingan agama dan budaya, sambil memprediksi bagaimana akhir dari semua itu.

Menurut pengarangnya, setelah perang dingin usai, konflik di dunia akan muncul berdasarkan perbedaan agama dan kebudayaan, misalnya konflik Islam dengan Barat. Dan perempuan muda itu merasakan betapa konflik tersebut terus memanas, berpuluh tahun kemudian sejak buku itu terbit. Bahkan, mungkin pula, kepergiannya kali ini terkait dengan salah satu bagian dari konflik tersebut.

Tiba-tiba ia menutup bukunya. Lalu bergegas menuju gate 37, tempat di mana pesawat yang akan terbang ke Islamabad, Pakistan, telah menunggu dan penumpang sudah diperbolehkan untuk masuk ke pesawat. Perempuan itu hanya menyeret sebuah travel bag berukuran sedang, dan sebuah tas jinjing menggelayut di pundak kirinya.

Ruang penumpang first class tidak terisi penuh. Hanya ada seorang lelaki bule yang sibuk dengan ponselnya, dan seorang wanita tua berwajah timur tengah yang diam seperti patung. Perempuan muda yang mengenakan syal merah jambu pun memilih kembali mambaca bukunya.

“Nona Catherine, bolehkah saya bantu memasang sabuk keselamatannya?” seorang pramugari berbicara dalam bahasa Inggris ‘dialek Singapura’ memecah keheningan. Ia menjalankan rutinitasnya sebelum pesawat bergerak ke landas pacu.

“Tidak, terima kasih. Nanti saya pasang sendiri…,” jawab sang perempuan yang bernama Catherine itu.

“Adakah hal lain yang dapat saya bantu?” ujar pramugari Boeing 999 milik Singapore Airlines itu lagi.

“Saya ingin koran Indonesia yang terbit hari ini,” jawab Catherine.

Sejenak kemudian, koran yang diminta telah ada di tangannya. Salah satu berita utama koran itu berbunyi, ‘Bupati Jonggol Desak Mahkamah Konstitusi Tinjau UU Perlindungan Karya Intelektual’. Senyum simpul tersungging di bibir perempuan ini. Di dalam hatinya dia berkata, “Rupanya, Ayah tidak pernah puas untuk mengangkat derajat para ilmuwan di Indonesia setinggi-tingginya.”

Tiba-tiba di dalam dadanya berdesir rasa dingin. Rindunya pada kedua orang tuanya begitu mengiris hati. Ingin sekali dia sekadar ‘say hai’ kepada ayahanda dan mama tercintanya. Namun, ia sudah sejak berminggu-minggu lalu tidak lagi mengantongi ponsel. Ia sengaja memutus kontak dirinya dengan pihak mana pun, termasuk kedua orang tuanya, Raja dan Ratu Jonggol, serta seluruh sahabatnya. Ia sekarang benar-benar sendiri. Sendiri tanpa orang-orang yang mengenalnya. Bila pesawat ini jatuh dan ia wafat, maka jenazahnya tidak akan diantar pulang ke Jonggol, karena alamat di dalam paspor maupun identitas perempuan ini sudah berbeda. Nama Catherine Lee pun tak akan dikenal di Istana Jonggol.

***

Puncak Rakaposhi

Puncak Rakaposhi

_Pesawat mendarat dengan mulus di Islamabad International Airport. Catherine menjadi orang pertama yang keluar dari lambung pesawat. Ia tidak berniat mengantre bagasi karena sepanjang hidupnya, ia tidak pernah bepergian membawa barang terlalu banyak. Efisien dan efektif, begitu prinsipnya. Hanya dengan menyeret travel bag dan menjinjing sebuah tas, ia segera mendapatkan sebuah taksi, setelah selesai dengan urusan imigrasi yang singkat. Dimintanya si sopir mengarahkan kendaraannya ke Hotel Marriott di pusat kota Islamabad.

Belum juga sempat meletakkan pantatnya yang padat-berisi di atas sofa empuk di lobby hotel berbintang lima itu, seorang pria lokal separuh baya menyapanya.

“Andakah Nona Lee dari Singapura?”

“Mengapa Anda menanyakan itu kepada saya?”

“Karena saya ingin mengantarkan wanita secantik Anda ke puncak Rakaposhi yang indah…”

Si lelaki mengatakan kalimat ini dengan kaku. Tetapi, Catherine tersenyum, karena dapat memastikan bahwa pria ini adalah orang yang memang diperintah untuk menjemput dirinya oleh Lembaga Purbakala Hunza. Kalimat pujian itu adalah kalimat standar dari lembaga itu untuk menyambut arkeolog yang ingin melakukan penelitian di Hunza, tentu setelah sebelumnya mendapat izin dari lembaga itu. Bila arkeolognya berjenis kelamin pria, maka kalimatnya menjadi, “Kami ingin mengantar orang segagah Anda ke puncak Rakaposhi yang agung.”

Rakaposhi adalah sebuah gunung dengan puncak settinggi 7.788 m dari permukaan laut yang merupakan bagian dari rangkaian Himalaya. Letaknya di utara Pakistan dan begitu dipuja oleh masyarakat Hunza karena keindahannya. Salju di puncak Rakaposhi menghasilkan cahaya putih bercampur biru dan sedikit kemerahan bila terkena sinar bulan.

“Mari Nona Lee, seseorang telah menunggu Anda di Hunza yang indah…,” Faisal berkata sambil menyeret travel bag milik Cahterine. “Perjalanan akan cukup panjang Nona, sebaiknya Nona beristirahat saja di dalam mobil…”

Salah satu sudut Hunza

Salah satu sudut Hunza

_Berlanjut ke Cerita 7a dan masih akan berlanjut lagi, dengan kisah cinta yang berbahaya, karena berkaitan dengan orang yang paling dicari di seluruh dunia, dan di Cerita selanjutnya hingga Cerita 23 akan terjadi pertarungan Islam vs Kristen yang menggetarkan hati–