Cerita 13 Pertempuran

Poci darah Yesus (ilustrasi) yang disiramkan ke Raja Jonggol

Seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri ketika Raja Jonggol telah mendekati meja. Tuang Bangau lantas mempersilakan Sang Raja duduk. Kini meja telah dikelilingi sembilan orang yang semuanya duduk dengan sopan, meski aura ketegangan tak bisa disembunyikan.

“Anda adalah pemimpin yang penuh keberanian…” ujar Tuan Bangau. Ucapan ini disampaikan dengan nada yang mengisyaratkan bahwa Sang Raja berada dalam kondisi terancam.

“Kalian semua adalah orang-orang yang lebih berani…” jawab Sang Raja dengan nada yang tak kalah berbobot. Kalimat ini pun membuat ‘Figure of Eight’ cukup merasa bahwa diri mereka mendapat lawan sepadan.

“Kami minta Anda untuk bekerja sama dengan kami, membangun tatanan dunia yang lebih baik,” ujar Tuan Bangau.

“Apakah kita telah memiliki pandangan yang sama tentang tatanan dunia yang lebih baik itu?” jawab Sang Raja.

“Marilah kita bicarakan masalah itu,” cetus Tuan Bangau. Dalam hal ini, dia mendapat “angin” untuk menggiring pikiran Sang Raja pada ide-ide kelompoknya. Sang Raja menyadari hal ini, namun membiarkannya.

“Silakan…” ujar Sang Raja.

“Baiklah. Kita, manusia, adalah makluk yang mandiri. Kita diciptakan dengan kemampuan untuk mengendalikan diri kita sendiri. Karena itu, kita berhak menentukan tatanan kehidupan secara mandiri, tanpa campur tangan siapa pun. Anda melihat, campur tangan pihak luar telah melahirkan peperangan dan kesengsaraan pada peradaban manusia sepanjang sejarahnya. Agama-agama dari makhluk yang bernama malaikat telah memisah-misahkan manusia, bahkan saling bermusuhan dan membunuh…”

“Bagaimana dengan agama-agama buatan manusian sendiri? Bukankah juga menimbulkan permusuhan di antara manusia?”

Tuan Bangau menjawab, “Yang kami persoalkan sesungguhnya bukan agamanya, melainkan spriritualitasnya. Spiritualitas semua agama lahir dari ketakutan manusia terhadap alam dan hal-hal yang belum dapat dipahaminya secara rasional. Perlu Anda ketahui, bila spiritualitas dari malaikat tidak menyesatkan manusia, kami pun tidak mempersoalkannya. Tetapi, kenyataannya, semua agama, baik yang buatan manusia ataupun malaikat, tidak banyak membantu dalam mencapai kemajuan manusia. Anda bisa melihat, segala kemajuan yang kita capai sekarang ini adalah hasil rasionalitas. Segala macam ilmu dan teknologi yang bermanfaat bagi manusia berasal dari rasionalitas. Bahkan, Anda sendiri mampu memimpin masyarakat Anda dengan teknologi, bukan dengan spiritualtias, apalagi dogma agama.”

Sang Raja sedikit tertegun, namun kemudian berkata, “Bukankah kemandirian manusia yang Anda maksud juga telah digunakan manusia untuk memilih? Dalam hal ini, memilih beragama atau tidak. Anda bisa melihat ada manusia yang memilih tidak beragama, bahkan tidak ber-Tuhan, selain manusia yang bergama. Perlu Anda sadari, beragama atau tidak adalah hak manusia untuk memilihnya, sesuai kemandirian akal dan budinya. Menurut saya, malaikat atau siapa pun sudah telanjur menyebarkan agama kepada manusia, dan ini tidak bisa dicegah lagi. Sekarang tinggal manusia sendiri yang menggunakan haknya untuk memutuskan memilih agama atau tidak. Contohnya, Anda memilih tidak beragama, sedangkan saya memilih beragama. Mengapa kita tidak saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai?”

Sampai sejauh ini, Tuan Bangau dan anggota ‘Figure of Eight’ lainnya menjadi terdiam. Wajah-wajah mereka tetap tampak tenang, namun ketegangan semakin memuncak yang terlihat dari sorot mata mereka.

“Hidup berdampingan secara damai adalah impian semu dalam hal ini. Bagaimana bisa damai bila ketika kami meminum alkohol maka kalian mengutuk kami? Bagaimana bisa damai bila pola hubungan seks kami kalian jadikan alasan untuk melempari pelakunya dengan batu hingga mati? Dan masih banyak lagi pertentangan-pertentangan yang tidak dapat dicari solusinya. Selamanya, agama akan menghambat hubungan antar-manusia,” tutur Tuan Bangau.

Sang Raja menimpali, “Mengapa Anda begitu yakin bahwa rasionalitas adalah hal terbaik bagi manusia? Bukankah rasionalitas juga menghasilkan permusuhan antar-manusia? Sebagai contoh, sistem keuangan adalah salah satu mesin permusuhan yang paling dahsyat saat ini. Selain itu, manusia menjadi lebih berpotensi untuk bertikai karena adanya teknologi senjata. Itu belum termasuk pengorbanan kemanusiaan demi kepentingan teknologi atau industri.”

“Kami yakin bahwa rasionalitas pada akhirnya akan membahagiakan seluruh manusia, sejauh syaratnya terpenuhi.”

“Apa syaratnya?”

“Hilangnya seluruh spiritualitas kuno dari muka bumi.”

Tidak ada kompromi?

“Tidak.”

“Kalau begitu, saya tidak bisa bergabung dengan Anda semua.”

“Kami pun tidak akan membiarkan Anda terus menyebarkan keyakinan Anda.”

“Apa yang akan Anda lakukan?”

Hening. Tak ada lagi yang bersuara di ruangan itu. Kali ini, wajah-wajah ‘Figure of Eight’ berubah menjadi tegang. Tiba-tiba, Tuang Bangau mengeluarkan sebuah poci kecil, mengguncang-guncangkannya, membuka tutupnya, lalu menyiramkan isinya ke wajah Raja Jonggol, sambil berteriak, “Ini warisan spiritualitas kuno yang dijaga selama berabad-abad oleh orang yang meyakininya, sekarang akan menaklukkan dirimu. Ini darah Yesus!”

Raja Jonggol tak sempat mengelak. Darah kental yang sudah berusia ribuan tahun itu pun menerpa wajahnya. Saat itu juga, Sang Raja tak sadarkan diri. Mr. Pelican kemudian menyeka wajah Sang Raja sehingga bersih, lalu menegakkan kepala Sang Raja hingga posisi duduknya sempurna. Mr. Pelican kemudian mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya. Dia lalu membacakan sesuatu dalam bahasa Indonesia, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.” Kalimat itu dibacanya hingga tujuh kali.

“Setelah sadar nanti, dia akan menjadi pengikutmu yang setia Mr. Pelican. Apa pun yang engkau katakan, akan dipatuhinya. Peliharalah dia baik-baik dan jadikan dia bidak kita yang paling berharga di dunia timur,” papar Tuan Bangau dengan nada lega dan puas. “Wild Rose dan Letter of the Death telah berfungsi dengan baik,” imbuhnya.

Tuan Bangau pun memberi tanda dengan bahasa tubuh agar ‘Figure of Eight’ meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Sang Raja sendirian hingga tersadar. Wajah mereka terlihat senang sekali. Terlebih Mr. Pelican yang senyum alamiahnya semakin kentara.

berlanjut ke cerita 14

Advertisements

Cerita 12: Pertemuan di Bangkok

Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung

Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.

Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.

“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.

Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”

“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.

“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”

“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”

Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.

Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota ‘Figure of Eight’ duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.

“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.

“Mereka menunggu kita di luar rumahnya…” ujar seorang yang lain.

“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani…” komentar yang lain lagi.

“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita…” cetus seorang yang lainnya.

“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”

Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”

Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.

Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota ‘Figure of Eight’ pun kembali berkumpul.

“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.

“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.

“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.

“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.

Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.

Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV– untuk ikut campur.

Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.

‘Figure of Eight’ telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.

–berlanjut ke cerita 13–