Cerita 0 Prawayang

Putri Jonggol...

Seperti inilah Putri Jonggol...

_SEORANG wanita cantik keluar dari lambung pesawat Boeing 999 yang baru saja mendarat di Jakarta Soekarno-Hatta International Airport setelah menempuh penerbangan dari Islamabad International Airport. Syal sutera dan rambut coklatnya berkibar dimainkan angin. Kacamata hitam membuat gerak bola matanya tidak dapat diketahui. Padahal, sejak pintu pesawat terbuka, dia tiada henti-hentinya menelisik kondisi sekelilingnya.

Wanita muda yang hanya menyeret sebuah travel bag dan membawa tas jinjing ini kemudian bergegas menuju loket imigrasi. Setelah urusan standar itu beres, ia segera mendapatkan taksi. “Kita ke Jonggol,” jawabnya kepada supir taksi yang menanyakan tujuannya sambil mulai menjalankan mobil. Tetapi, si supir kemudian menjadi ragu-ragu dan berkata, “Maaf, saya tidak berani ke sana. Sebab, di sana sedang ada wabah panyakit misterius. Kita akan kena penyakit batuk berdarah yang tidak bisa disembuhkan kalau digigit nyamuk di sana.”

Wanita muda itu menghela napas. Dia teringat beberapa hari lalu, di Hunza, di utara Pakistan, dia sempat menyimak berita dari televisi tentang wabah penyakit itu. Si supir tidak tahu bahwa penumpangnya justru telah terbang jauh-jauh dari negeri orang karena memang ingin ke tempat yang kini diserang wabah penyakit itu.
“Ini, pakai cream ini, Anda akan aman dari gigitan nyamuk,” ujar si wanita muda sambil mengeluarkan sebuah botol dari tas jinjingnya.
“Maaf, Bu, yang saya dengar, cream anti nyamuk mana pun tidak bisa mencegah nyamuk di sana untuk menggigit,” cetus si supir.
“Yang ini lain. Saya seorang entomologist (ahli serangga). Ini hasil racikan saya sendiri. Ayo, pakai…”
“Ibu cari taksi yang lain saja. Saya tidak mau,” ujar si supir sambil menghentikan kendaraannya di tepi jalan.

Si wanita muda kembali menghela napas dengan lembut. Dan tiba-tiba dia menggerakkan tangannya ke arah leher si supir dan saat itu juga si supir terkulai lemas, tertidur. Setelah memindahkan si supir ke kursi penumpang, wanita muda ini segera melarikan taksi itu sekencang-kencangnya ke arah Jonggol.

***

Memasuki jalan raya Jonggol, suasana damai dan teduh yang selalu dirasakannya beberapa bulan lalu terasa hilang. Pintu-pintu rumah dan toko-toko tutup. Orang-orang menghilang dari tepi jalan. Sunyi. Kawasan di tenggara Jakarta ini benar-benar ditinggalkan penduduknya.

Tiba-tiba, taksi dibelokkan ke sebuah pintu gerbang besar. Penjaga yang telah melihat si pengemudi segera membuka gerbang dan berteriak-teriak, “Putri telah kembali! Putri telah kembali!” Penjaga itu kemudian terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah…

–berlanjut ke Cerita 1—

  • Calendar

    • July 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search