Metamorfosis

Salah satu sudut Jonggol...

Salah satu sudut Jonggol...

JONGGOL, seperti biasanya, diliputi langit biru dengan awan putih yang indah. Bukit-bukit berdiri kokoh. Pepohonannya tetap hijau menebarkan kesegaran. Angin pun selalu berembus, mendamaikan lembah-lembah di kaki bukit. Di Istana Jonggol, berlangsung denyut kehidupan seperti biasanya: sibuknya 99 pelayan yang rajin dan setia, siaganya 99 pasukan pengaman yang sigap dan tangguh, tekunnya 9 ilmuwan yang senantiasa berkreasi, dan harmonisnya 3 anggota keluarga inti Istana Jonggol.

Rakyat Jonggol yang mendiami sebagian besar lembah dan sebagian kecil bukit-bukit menjalankan kehidupan seperti biasanya: tenang dan damai. Kegiatan ekonomi dan pendidikan berjalan normal. Mereka pun berinteraksi damai dengan penduduk Jakarta, Bogor, dan seluruh Indonesia. Jonggol adalah sebuah daerah istimewa yang dipimpin seorang raja, sebagaimana Jogjakarta. Namun, bila Jogja adalah provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur, maka Jonggol merupakan kabupaten –bagian dari Jawa Barat– yang dipimpin oleh bupati. Dan bila gubernur Jogja bisa jadi bukan raja Jogja, maka bupati Jonggol “haruslah” seorang Raja Jonggol, yakni pemimpin tertinggi di dalam Istana Jonggol.

Jonggol bisa mendapat status istimewa lantaran sejarahnya yang unik. Delapan belas tahun lalu, tepatnya tahun 2005, Jonggol hanyalah bagian dari kabupaten Bogor yang seolah diabaikan oleh Pemkab Bogor. Meski daerah ini hanya sekitar 60 km dari pusat Jakarta, toh banyak kampung yang miskin dan tak banyak pembangunan terjadi. Bahkan, di dekat Jonggol justru sempat dibangun pabrik pengolahan sampah sebagai lokasi alternatif dari pembuangan sampah Bantar Gebang Bekasi. Perlawanan dan advokasi selama berbulan-bulan dari rakyat setempat –meski mengakibatkan beberapa pemuda dipenjara– akhirnya membuat pabrik sampah itu gagal beroperasi. Rakyat melawan karena pabrik dibangun di tengah kampung. Rupanya si investor bersikap licik karena enggan membangun pabrik di daerah yang jauh dari kampung, lantaran pelit mengeluarkan biaya ekstra untuk membangun jalan baru.

SBY ketika bertandang ke Citra Indah...

SBY ketika bertandang ke Citra Indah...

Perkembangan mencolok yang terjadi di Jonggol justru lantaran dibangunnya sebuah real estate bernama Citra Indah. Kompleks perumahan yang teramat luas ini berhasil menciptakan sebuah kota modern di dalam kabupaten Jonggol. Orang-orang yang tinggal di situ adalah keluarga muda yang bekerja di Jakarta, Bogor, atau Bekasi. Citra Indah pun kerap menjadi tempat rekreasi bagi warga dari sekitar kompleks dan warga dari berbagai penjuru Jabodetabek, karena banyaknya taman dan fasilitasnya yang lengkap, termasuk sebuah water park besar.

Mengapa di Jonggol yang agak jauh dari Jakarta ada real estate? Pada pertengahan dekade ’90-an, sebelum krisis moneter dan jatuhnya rezim Soeharto, ada rencana untuk memindahkan pusat pemerintahan Indonesia ke Jonggol dan membiarkan Jakarta sebagai pusat bisnis. Itu adalah rencana besar Bambang Trihatmojo, salah satu putra Soeharto. Namun, rencana tinggal rencana, karena pada 21 Mei 1998 Soeharto terpaksa mundur dari kursi presiden dan kekuasaan Orde Baru surut. Bisnis anak-anak Soeharto pun sempat “tiarap”. Persoalannya, pengusaha perumahan Ir. Ciputra telanjur membangun Citra Indah untuk melengkapi rencana pemindahan Ibu Kota negara itu, bersamaan dengan diborongnya tanah-tanah di Jonggol oleh orang-orang berduit dari Jakarta. Karena uang terlanjur berputar, maka Citra Indah pun tetap dipasarkan. Anehnya, meski letaknya sekitar 60 km dari pusat Jakarta, toh perumahan ini laku keras. Jadilah sebuah keunikan: ada hunian modern di kampung Jonggol,sebuah desa yang sebelumnya nyaris tak dikenal.

Kembali ke status unik Jonggol yang dipimpin seorang raja. Bagaimana status ini diperoleh? Pada tahun 2006, atau tujuh belas tahun lalu, dimulailah perubahan-perubahan mendasar pada Jonggol, setelah sebuah keluarga bermukim di situ, tepatnya di Citra Indah. Itu adalah keluarga kecil saja: sepasang suami-istri dan satu anak yang masih balita. Sang suami pekerjaannya dosen, sedangkan sang istri jadi karyawati di sebuah universitas yang berbeda dengan almamater suaminya. Mereka hidup biasa saja, layaknya keluarga muda yang sudah beranak: sederhana. Namun, pada suatu malam, ketika sang suami tengah menonton televisi yang menyiarkan pidato presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, tentang bahaya flu burung yang bisa menular dari manusia ke manusia (sebelumnya hanya dari unggas ke unggas dan unggas ke manusia), tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang.
“Siapa?” sang suami bersuara dari dalam.
Tak ada jawaban.
“Siapa ya?” sang suami mengulang pertanyaannya. Biasanya para tetangga atau tamu lain pasti menyebutkan identitasnya setiap ditanya demikian. “Anda lompat pagar rumah saya ya?” tanya sang suami yang yakin sebelumnya telah menggembok pintu pagar rumahnya.

Sang suami lalu mengintip dari jendela, tetapi tidak tampak siapa pun. Dia pun kembali menonton televisi. Namun, pintu kembali diketuk. Kali ini lebih keras.
“Saya tak mau membuka pintu bila tak mengenal Anda. Ini sudah pukul sebelas malam,” ujar sang suami.

Tetap tak ada jawaban dari luar. Sang suami kembali mengintip dari jendela. Nihil. Tetapi, kali ini, entah kenapa, dia memutuskan membuka saja pintu rumahnya, sambil memegang sebuah kayu pemukul.

Setelah pintu terbuka, di hadapan sang suami tampak berdiri seorang lelaki setengah tua yang tampan. Tubuhnya tegap dan simpatik. Ekspresi wajahnya serius.
“Ya, ada perlu apa, Pak?” ujar sang suami.
Lelaki itu diam. Namun, tiba-tiba memegang pundak sang suami yang kemudian segera tak sadarkan diri. Terkulai lemas. Tak mendengar atau merasakan apa pun lagi.

Ketika kemudian sadar, sang suami mendapati istri dan anaknya telah berada di dekatnya. Mereka yang tengah tidur di kamar mengaku terbangun karena mendengar suara berdebam di lantai dan mendapati sang suami tergeletak di ruang tamu. Tak ada laki-laki berwibawa tadi.

Namun, kini ada hal yang sungguh-sungguh berbeda. Sang suami tak lagi melihat segala sesuatu seperti sebelum bertemu sang lelaki. Dia melihat segalanya dari matanya sebagai sesuatu yang dapat dipahami. Meja, kursi, televisi, dinding, lantai bahkan manusia seolah merupakan bagian dirinya sendiri. Dia bisa “berdialog” dengan itu semua.

Sang suami lantas beranjak ke luar rumah. Dilihatnya pohon-pohon di depan rumahnya seperti menyapa dirinya. Demikian juga bulan, awan dan langit. Rumah-rumah dan jalan-jalan pun seolah mengatakan sesuatu. “Apa yang terjadi pada diriku?”

Sang suami mencoba duduk dan menenangkan diri. Dia menarik napas dalam-dalam dan diulanginya dengan irama yang teratur. Pada saat itu, dia mengingat pertemuannya dengan sosok lelaki berwibawa beberapa saat lalu. Namun, tiba-tiba dia merasakan kantuk yang luar biasa dan jatuh tertidur di teras rumah, di kaki istri dan anaknya.

Pukul enam pagi, sinar mentari mulai tampak terang. Sang ayah terbangun dari tidurnya. Ini hari kerja dan dia harus bersiap untuk berangkat bekerja. Tubuhnya tak lagi seletih tadi malam. Dia pun memutuskan melupakan sejenak apa yang terjadi dan memilih mandi, berpakaian, sarapan, dan bersiap berangkat ke tempatnya mengajar: sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Depok. Menjelang berangkat kerja, dia tidak membahas dengan istrinya kejadian tadi malam. Tapi, tak dapat dielakkan lagi ketika sendirian mengemudi, pikirannya berputar keras untuk menganalisis peristiwa aneh itu. Jawabannya: tidak ada. Sebab, tak ada perampokan, penganiayaan atau penghipnotisan. Yang ada hanyalah sebuah ‘sentuhan’. “Ah, aku tak tahu…”

Malam harinya, sepulang mengajar, dia melakukan aktivitas seperti biasanya: mandi air hangat, makan, menonton televisi, dan kemudian tidur. Di dalam tidur dia bermimpi bertemu dengan lelaki yang memegang pundaknya.
“Kau kini telah memiliki kekuatan. Pimpinlah masyarakatmu menuju kemakmuran dan kemuliaan,” tutur lelaki itu. Setelah itu, dia menghilang.

Sang dosen terbangun dari tidurnya. Dia memikirkan apa arti mimpinya. Nihil. Tak ada ide untuk mengimajinasikannya. Namun, dia merasa memang tubuhnya kini lebih sehat dan kuat, lebih memiliki energi. “Memimpin masyarakat?” sang dosen bertanya dalam hati.

  • **

Setahun kemudian, di Citra Indah telah muncul kebiasaan baru: ibu-ibu dan anak-anak dari seluruh Jonggol berkumpul untuk menikmati kacang hijau dan berbagai makanan lain. Gratis. Acara ini berlangsung setiap dua minggu. Hadir pula para pengamen dari Jabodetabek yang menyumbangkan lagu-lagu di atas panggung untuk menghibur ratusan ibu dan anak. Atraksi topeng monyet pun mewarnai acara, di samping pesulap dan badut yang pamer kebolehan seolah menghibur anak yang merayakan ulang tahun. Meriah. Semua itu terjadi atas prakarsa sang dosen.

Setahun kemudian setelah itu, yang berarti dua tahun sejak sang dosen disentuh sang lelaki misterius, di Citra Indah untuk pertama kalinya digelar pekan seni budaya. Para gadis Jonggol yang dipilih, dilatih membawakan tarian khusus Jonggol (perpaduan tari Betawi, Sunda, dan Jawa) yang diciptakan oleh Liga Tari Universitas Indonesia atas permintaan sang dosen. Pria dan wanita Jonggol juga dilatih paduan suara oleh Agriaswara IPB agar bisa menyanyikan lagu-lagu khusus yang diciptakan untuk pekan seni tersebut. Tak ketinggalan, juga dibentuk kelompok drum band Jonggol yang merupakan kerja Mahawaditra UI. Bisa dibayangkan kemeriahan dan antusiame masyarakat Jonggol atas acara itu. Itu belum termasuk parade dan atraksi para pendekar silat dari Bogor. Anak-anak pun berdandan dengan pakaian adat dari berbagai daerah untuk ikut memeriakan suasana. Dalam pekan seni itu juga digelar festival pengamen se-Jabotabek dengan hadiah uang tunai. Tak ketinggalan, pentas-pentas teater dari berbagai kampus digelar. Band-band indie dari Bandung dan Jakarta juga tampil dan menghadirkan nuansa yang lebih meriah lagi.

Setahun kemudian setelah itu, yang berarti tiga tahun sejak sang dosen disentuh lelaki misterius, di Citra Indah telah berdiri sebuah bangunan yang lebih besar dari semua rumah yang ada di situ. Bangunan itu bergaya arsitektur cordoba, dengan kubah-kubah dan pilar-pilar besar. Pembangunan “istana” ini memerlukan waktu dua tahun.

Makna lain dari peristiwa di suatu malam tiga tahun lalu: sang dosen kini punya naluri bisnis yang luar biasa. Ide-ide brilian begitu mudah muncul. Dan dia pun jadi orang yang begitu meyakinkan bagi kalangan perbankan, sehingga kucuran kredit tidak sulit dia peroleh. Pertama kali, dia mendirikan toko waralaba. Setelah itu, membangun toko serupa di tempat-tempat lain. Berhasil dengan toko waralabanya, dia merambah bisnis rumah makan, sesuatu yang dicita-citakannya sejak lama. Hanya dalam hitungan bulan, rumah makannya berkembang di sejumlah tempat lain.

Dia juga merambah bidang konstruksi dengan membangun rumah-rumah, lalu mengkreditkannya kepada yang berminat. Berbagai bisnis itulah yang menopang sang dosen dalam aktivitas sosialnya. Dan ekspansi bisnisnya belum berhenti. Dia terus mencari ide-ide baru…

Setahun kemudian setelah itu, yang berarti empat tahun sejak sang dosen disentuh lelaki misterius, istana Jonggol jadi tempat berkumpulnya berbagai elemen dan tokoh masyarakat Jonggol. Polisi, tentara, tokoh agama, mahasiswa, dan rakyat jelata sering berkunjung ke istana Jonggol untuk sekadar duduk-duduk menikmati suguhan minuman dan makanan yang memang setiap hari disediakan secara gratis oleh rumah tangga istana Jonggol, atau sekadar ngobrol dengan sang dosen dan keluarganya.

Setahun kemudian, yang berarti lima tahun sejak sang dosen bertemu sang lelaki misterius, orang Jonggol semakin punya ikatan emosional dengan si dosen dan keluarganya. Tindak kejahatan di Jonggol berkurang lantaran disediakan berbagai bantuan untuk keluarga miskin. Pengangguran pun jauh menyusut, karena berbagai bisnis sang dosen menyerap tenaga kerja, termasuk menjadi pekerja di rumah tangga istana Jonggol. Para mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan pun mendapat bantuan beasiswa, sehingga mereka dapat melanjutkan studinya.

Atas prakarsa tokoh-tokoh mahasiswa, kemudian muncul demonstrasi simpatik yang diikuti ribuan warga Jonggol untuk meminta kepada pemerintah pusat agar mengusulkan status istimewa kepada istana Jonggol, keluarganya, dan wilayah Jonggol. Status istimewa ini juga meliputi peningkatan status Jonggol dari kecamatan menjadi kabupaten. Usul itu berkaitan dengan keberhasilan istana dan warga Jonggol dalam meningkatkan kualitas kehidupan di wilayah yang tadinya cenderung miskin tersebut.

Ketika usul ini masih dalam tahap pembahasan di tingkat pusat, sang dosen mencalonkan diri sebagai bupati Bogor dalam pilkada. Tak pelak, dia meraih mayoritas suara karena popularitasnya.

Dalam pilkada periode berikutnya, sang dosen kembali mencalonkan diri dan sekali lagi menguasai mayoritas suara. Pada masa jabatan kedua sebagai bupati Bogor inilah, usul pembentukan daerah istimewa dan kabupaten Jonggol dikabulkan pemerintah pusat. Jonggol pun tak lagi menjadi bagian dari kabupaten Bogor. Dan dalam pilkada Jonggol yang pertama, sang dosen kembali terpilih menjadi bupati, bupati Jonggol. Ini terjadi tujuh belas tahun sejak sang dosen bertemu sang lelaki misterius.

Pada usia sang dosen yang ke-52, sebagai bupati Jonggol dan pemimpin istana Jonggol, dia mulai disebut oleh warga Jonggol sebagai Raja. Rakyat merasa punya pengayom moral, pendidikan, keamanan, hingga ekonomi. Selain itu, suasana Jonggol sendiri mirip sebuah kerajaan: ada bangunan yang mirip istana dan kecintaan rakyat pada pemimpin istana itu.

Muncullah konvensi di kalangan rakyat dan tokoh masyarakat Jonggol: bupati Jonggol selanjutnya sebaiknya adalah keturunan Raja Jonggol. Namun, karena pemerintah tidak dapat menobatkan seorang raja, maka keturunan Raja Jonggol tersebut harus mengikuti pilkada yang, notabene, hampir pasti dimenangkan keturunan Raja Jonggol.

–berlanjut ke Cerita 2–

Advertisements
  • Calendar

    • September 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Search