Respon dari Istana Jonggol

Topeng Gajah Mada

Topeng Gajah Mada

_Pagi itu, Raja Jonggol berkumpul dengan kesembilan ilmuwannya, juga kepala pengawal, di ruang kerjanya. Dinding dan lantai pualam putih “mengisolasi” mereka dari dunia luar. Mereka duduk mengitari sebuah meja bundar berbahan kayu jati, yang ditaruh berdekatan dengan meja kerja Raja Jonggol yang berbentuk persegi panjang. Lukisan Borobudur tetap jadi latar belakang bagi posisi duduk sang raja, yang memakai pakaian khasnya: setelan jas lengkap dengan dasi berwarna paduan merah-putih, dan di kepalanya bertengger mahkota emas seperti milik Arjuna dalam wayang orang Jawa.

“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dan masa depan kita. Sehari setelah putriku meninggalkan istana, aku terbang ke Jerusalem untuk melakukan sembahyang di masjid Al Aqsa. Dorongan untuk pergi ke sana sudah aku rasakan sejak lama, namun baru benar-benar terlaksana setelah melihat semangat putriku yang begitu tinggi untuk mempertahankan cintanya pada kita. Dia memutuskan pergi karena begitu mencintai istana dan seisinya. Dia rela untuk tidak menuruti hasrat hatinya sendiri, dan telah berkorban untuk kita…”

Sejenak sang raja lalu terdiam. Dia merasakan tekanan batin yang berat, manakala membayangkan seorang gadis, putri semata wayangnya, yang kini entah berada di mana. Hadirin di meja bundar pun mengangguk-angguk dengan halus dan ikut merasa masygul. Sejak istana ditinggal sang putri, memang terasa ada keseimbangan yang semu. Tak ada lagi keceriaan dan kecantikan yang mempesona yang selalu dirasakan kehadirannya oleh semua orang: dari pelayan hingga sang raja sendiri. Seluruh penghuni istana mencintai sang raja dan permaisuri, namun hati mereka lebih berbunga-bunga karena ada wanita muda yang enerjik dan berbudi luhur. Dan ketika sekarang sang putri pergi tanpa ada yang mengetahui arah dan nasibnya, terbayangkan betapa sakit hatinya para penghuni istana bila mengenang sang putri.

Segera setelah sang raja dapat menguasai diri, dia pun kembali bicara. “Di masjid Al Aqsa, aku sempat tertidur sesaat dan bermimpi. Di dalam mimpiku, aku diminta oleh seorang pria untuk mencari bagian tembok di masjid itu yang pernah disentuh Nabi Muhammad saat Isra dan Mi’raj. Tetapi, hadirin sekalian, aku tidak dapat menemukan bagian tembok itu. Sebab, bagaimana cara menemukannya dan memastikan bahwa suatu bagian tembok di masjid Al Aqsa pernah disentuh nabi atau tidak, tentu belum ada metodenya. Namun, menjelang maghrib, aku melihat seorang anak bersandar di suatu bagian tembok. Kulihat wajah anak itu begitu suci. Dan dari matanya, aku merasa dia memandang dunia dengan begitu tulus. Ada selintas kebahagiaan sejati saat memandang wajahnya. Aku pun memutuskan untuk menganggap anak itu telah bersandar di bagian tembok yang pernah disentuh nabi. Setelah anak itu pergi, aku bersandar di bagian tembok itu. Apa yang aku rasakan? Kekosongan. Ketiadaan. Yang tersisa hanya keinginan untuk mencintai. Sebuah perasaan tanpa beban, perasaan yang membuatku tidak takut pada apa pun, termasuk kematian sekali pun. Saudara-saudara sekalian, sejak saat itu, aku menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar di dunia ini adalah ketulusan hati dan keberanian untuk menghadapi apa pun…”

Para peserta meja bundar lalu terdiam agak lama. Hening. Tiba-tiba, suara sang kepala pengawal memecah kesunyian, “Terima kasih sang raja, atas dorongan moral dan semangatnya…”

Raja lalu tersenyum dan berkata, “Baiklah. Sekarang kita telaah sejauh mana kondisi istana kita dalam percaturan yang sunyi tapi kejam ini…” Raja kerap menyebut persaingan antara pihaknya dan kekuatan di luar istana dengan istilah ‘percaturan yang sunyi tapi kejam’. Dia memang selalu menekankan kepada pengikutnya bahwa ancaman-ancaman yang berbahaya dalam kehidupan kerap kali tidak terdengar hiruk pikuk. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kehidupan massal tetap berjalan sebagaimana biasanya. Namun, begitu serangan itu berhasil, maka dampaknya dapat mengubah hajat hidup orang banyak. Dia mencontohkan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997–1998, peristiwa penjualan sejumlah BUMN di awal 2000-an, dan tendensi undang-undang penanaman modal asing yang dibuat selepas reformasi.

Kepala pengawal kemudian menanggapinya. “Kita sudah tahu sejak beberapa hari lalu, mereka telah mendapatkan dua kekuatan yang sangat merusak dan mulai bergerak untuk menyerang kita. Saya kira, dua kekuatan yang mereka dapatkan itu bersifat fisik sekaligus metafisik…”

Kepala pengawal melanjutkan, ”Pakai keyakinan hati, yang memang merupakan kekuatan besar, kita akan bisa melawannya. Tapi, kita tetap mesti siapkan penangkal yang mirip, yaitu senjata fisik sekaligus metafisik.”

Sang Raja terdiam. Tapi, dia segera menimpali, “Benar pengawalku. Peperangan seperti apa yang akan kita hadapi pun kita belum dapat memastikannya. Kita semua dapat mati oleh peluru dan kita mempersiapkan rompi anti peluru, namun ternyata musuh menyerang dengan gas beracun, maka matilah kita, sebab ternyata yang kita perlukan adalah sebuah masker dan oksigen.”

Tiba-tiba, ilmuwan sosiologi menukas. “Sang Raja, saya menyarankan agar kita mempersiapkan segalanya dengan lengkap. Jangan sampai ada kemungkinan yang tidak kita perkirakan. Karena itu, saya akan menyiapkan berbagai penangkal yang secara generik memang dibuat untuk menghadapi kekuatan fisik dan metafisik sekaligus…”

Sang sosiolog melanjutkan, “Yang pertama adalah topeng Gadjah Mada. Topeng ini, meski dibuat di zaman Majapahit, sebelum peluru ditemukan, ternyata anti peluru. Selain itu, pamor topeng ini dapat meruntuhkan moral lawan, sekaligus mampu memperkuat pikiran si pemakainya. Yang kedua adalah kujang Prabu Siliwangi. Senjata ini bahkan dapat mematahkan baja hanya dengan memukulkannya. Energi dan bobotnya pun mampu memperkuat jantung dan seluruh tubuh. Yang ketiga adalah baju zirah Prabu Hayam Wuruk. Sekali lagi, para ahli pembuat baju perang Majapahit telah menciptakan pakaian anti peluru yang tetap cocok untuk pertempuran masa kini. Dan terakhir adalah tongkat komando Gadjah Mada. Tongkat ini dapat membuat lawan terhipnotis dan dikendalikan. Semua pusaka ini telah ada di tangan kita. Kami telah mencarinya sejak satu setengah tahun lalu dan berhasil mendapatkannya.”

Wajah Sang Raja tampak berseri-seri. “Kalian adalah manusia-manusia yang hebat. Kalian bekerja untuk kemuliaan manusia. Tetapi, bagaimana strategi kita untuk menangkal mereka?”

“Sebaiknya, peperangan tidak kita lakukan di sini, Sang Raja. Kita hadang mereka di medan yang lain. Saya yakin mereka telah mempersiapkan pertempuran di sini dan telah menguasai berbagai detail fisik maupun metafisik di istana kita. Karena itu, kita kejutkan mereka dengan peperangan di tempat yang belum mereka pelajari,” ujar ilmuwan elektronika.

“Di mana tempat itu?” cetus Sang Raja.

“Di Bangkok. Selain kota itu tidak akan diduga kita jadikan medan perang, Bangkok juga tidak memiliki aura metafisik yang kuat, sehingga pusaka-pusaka kita tidak akan terganggu,” jawab sang ilmuwan.

“Baiklah,” Sang Raja mengawali kalimatnya seperti akan mengambil keputusan, “Beberapa hari lagi, aku akan menuju Bangkok. Aku akan pergi bersama kepala pengawal dan beberapa pengawal terbaik lain. Aku minta seluruh ilmuwan bertahan di sini bersama permaisuriku. Aku tidak pernah berharap lawan kita akan sampai ke sini, tetapi bila hal terburuk itu terjadi, kalian para ilmuwan tentu dapat melawan mereka dan melindungi permaisuriku. Istana ini tidak boleh jatuh hingga anakku kembali.”

“Baik, Sang Raja. Selain berbagai pusaka yang akan dibawa ke Bangkok, di istana ini masih ada tombak Pangeran Diponegoro dan golok pemberian pemimpin suku Baduy di Banten,” ujar seorang ilmuwan lain.

Berlanjut ke Cerita 11

Advertisements
  • Calendar

    • September 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Search