Rajah Khan yang Pilu

Salah satu wanita yg sering bertegur sapa denganku di Hunza

Salah satu wanita yg sering bertegur sapa denganku di Hunza

Aku melihatnya hanya sebagai seorang lelaki Hunza yang polos. Hasrat kelelakian khas pria Asia Tengah –yang menurutku mungkin mirip dengan karakter lelaki Timur Tengah– telah membuatnya mendekati diriku. Aku wanita cantik –tanpa bermaksud takabur– dan juga seksi. Yup, cuma sebatas itu pemahamanku tentang hubunganku dengan Rajah Khan. Ada gula, ada semut. Ada wanita berpenampilan menarik, ada pria yang mendekati. Aku juga perlu teman di negeri asing, dan Rajah perlu wahana untuk menyalurkan jiwa lelakinya. Selesai.

Tetapi, rupanya, kali ini, aku terlalu dangkal dalam berpikir. Mungkin karena sesungguhnya akulah yang polos. Ya, mungkin aku memang polos dan tolol! Dan Rajah adalah seorang pria rumit yang sukses dengan misinya. Rajah bukanlah pria yang berpikir dengan benda di antara dua pangkal pahanya, sebagaimana yang selama ini aku sangkakan padanya. Aku telah salah menduga. Aku bodoh!

Betapa tidak! Ketika aku tiba dari Kashgar, dan menyelinap diam-diam ke penginapanku di Hunza, jantungku nyaris lepas karena ada seorang lelaki yang telah menungguku di dalam kamar. Dialah Rajah. Aku berpikir dia akan melampiaskan rasa cintanya yang selama ini diucapkannya, secara membabi buta, kasar, dan biadab. Aku merasa akhirnya tiba juga hari tanpa kemujuran itu. Aku pun siap untuk berkelahi melawan dia. Hidup atau mati. Tiba pula saat di mana ilmu jiu-jitsu yang aku pelajari selama di Indonesia untuk digunakan. Aku tak pernah bisa diperkosa! Itu sumpahku.

Tapi, tiba-tiba suara lembut yang biasa kudengar itu keluar dari bibirnya. “Maafkan aku karena menerobos kamarmu. Tapi, aku harus melakukannya. Kita harus bicara…”

Tubuhku yang siaga, tiba-tiba melunak. Otot-ototku mengendur kembali. “Ada apa Rajah?” tanyaku dengan suara lembut juga. Aku berusaha makin melunakkan suasana, agar situasi terkendali.

“Aku tahu kepergianmu ke Kashgar. Aku juga tahu kau menjumpai siapa dan apa yang kau bicarakan,” tutur Rajah.

Hah?! Gawat! Rajah mata-mata militer China?! Mata-mata musuh Jonggol?! Matilah aku. Seketika mataku langsung menelisik ke luar lewat jendela kamarku, kalau-kalau sejumlah intel China atau siapa pun telah datang dan siap menangkapku. Ternyata tak ada siapa-siapa. Hanya puncak Rakaposhi yang tampak selalu bersalju begitu indahnya. Aku beringsut dari posisiku berdiri mendekat ke arah jendela. Aku siap untuk melompat keluar. Pintu bukanlah jalur yang akan kutempuh, karena pasti di baliknya telah siap sejumlah orang untuk meringkusku.

“Tenanglah… aku ada di pihakmu…,” tiba-tiba suara Rajah memecah kesunyian. “Kami akan membantumu… Duduklah…”

Duduk?! Aku tetap berdiri. Dan Rajah pun bicara lagi. “Sudah lama aku menanti saat ini, untuk bicara dengan seorang yang seharusnya mengetahui siapa diriku, dan dapat bekerja sama denganku…”

Aku sedikit tercengang. Kali ini Rajah kelihatan berbeda, dia lebih serius, sekaligus misterius. Tapi, aku tetap diam, sambil waspada, dan penasaran tentang siapa dirinya.

Rajah melanjutkan, “Aku tahu tentang adanya orang kuat di Indonesia, di Jonggol, yang banyak melakukan terobosan penting untuk dunia Islam. Aku juga mendengar sekarang pihaknya sedang dilanda masalah besar dalam bentuk penyakit misterius. Aku juga ingin bilang bahwa sudah lama kami ingin berkomunikasi dengannya, meski belum terwujud. Tapi, terus terang aku tak menyangka salah satu kunci penting Jonggol ada di sini, di depanku.”

Sampai di sini aku belum menangkap inti dari pembicaraan Rajah. Tapi, melihat wajahnya yang masih siap meneruskan kata-katanya, aku pun tetap diam.

“Aku memang selama ini memantau dirimu, siang dan malam. Setiap kegiatan dan perilakumu tak luput dari pengamatan. Termasuk kepergianmu ke Kashgar. Dari pemantauan di Kashgar itulah kami tahu siapa dirimu dan memutuskan untuk melindungi sekaligus bekerja sama dengan pihakmu.”

Mulai terasa jelas arah pembicaraan Rajah. Dia ingin melindungi dan bekerja sama dengan aku. Dan untuk kedua kalinya dia menggunakan pronomina kami, yang berarti Rajah tidak sendirian dalam hal ini.

Sayangnya, Rajah kemudian kelihatan tak akan melanjutkan kalimat-kalimatnya. Dia sepertinya memancing diriku untuk menanggapi. Tapi, aku memilih diam juga. Aku menguji moralnya. Bila dia jujur dan sungguh-sungguh, maka pembicaraan ini akan berlanjut dengan baik. Tapi, bila dia punya niat kurang baik, maka sedikit demi sedikit akan terkuak.

Dan mungkin Rajah jujur, karena dia melanjutkan ucapannya. “Kami akan membantumu untuk bisa keluar dari Pakistan dan kembali ke negaramu. Tentu saja, setelah engkau meramu obat sebagaimana yang disarankan arkeolog Prancis di Kashgar. Cepat atau lambat, musuh Jonggol akan menemukanmu di sini, karena militer China juga sudah tahu siapa sesungguhnya dirimu. Setiap konfirmasi intelijen yang dilakukan militer China akan mengungkap identitasmu yang sesungguhnya, hingga tercium oleh musuh Jonggol yang telah menyebar penyakit misterius itu.”

Yup, akhirnya terungkap juga hal konkret dari rangkaian ucapan Rajah. Dan terus terang itu adalah tawaran yang menarik bagiku. Tetapi, apakah dia begitu sukarela membantuku, tanpa imbalan?

Aku bertanya, “Lalu apa yang harus kuperbuat untukmu bila aku bersedia kau bantu untuk keluar dari Pakistan?”

Rajah menghela napas. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan dilipat di dada. Suatu bahasa tubuh yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Kami hanya ingin engkau selamat dan kembali ke negerimu. Itu saja. Sukar dipercaya? Perlu kau tahu, suatu saat nanti kami akan datang ke Jonggol dan bicara dengan kalian tentang banyak hal. Tapi, rencana itu tak akan berhasil jika engkau tidak selamat. Rencana kami untuk bekerja sama dengan pihakmu akan gagal bila penyakit misterius yang menyerang Jonggol tidak segera diatasi. Selain itu, bila engkau tertangkap atau mati oleh musuh Jonggol, rencana kami juga bisa batal, sebab engkau adalah penerus kepemimpinan kaummu. Karena itu, keselamatan dirimu adalah berkah bagi kami,” bebernya.

Tapi, bagaimana aku bisa mempercayainya? Apakah Rajah bersih dari musuh Jonggol? Atau justru dia akan menggiringku ke mulut harimau?

Di tengah kebimbanganku, Rajah bicara lagi. “Catherine…,” dia memulainya dengan menyebut namaku, sebagaimana biasanya bila dia merayuku. Kali ini aku merasa Rajah yang “asli” sudah kembali. “Kalau kami adalah musuh Jonggol, maka aku tak akan bicara panjang lebar padamu. Kami akan langsung meringkusmu sejak tadi. Engkau tidak dikenal di sini. Orang-orang di sini melihatmu hanyalah seorang turis.”

Ah, benar juga Rajah. Dia sepertinya jujur. Dan aku mulai sedikit mempercayainya. Seketika itu juga aku teringat hal-hal “aneh” yang kutangkap dari Rajah selama beberapa bulan aku di Hunza. Berbagai hal yang semula hanya kuanggap sebagai ekspresi dirinya. Seperti misalnya, dia suka gonta-ganti potongan rambut, makan dengan tangan kanan tapi di kesempatan lain dengan tangan kiri, dan menghilang bila aku ingin jumpa dan datang sesukanya. Bahkan, pernah suatu ketika aku melihat di sekujur lengannya terdapat bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk. Aku mengira dia terkena penyakit kulit, tetapi beberapa hari kemudian tangannya kembali mulus.

Aku memang terlalu polos dalam memandang Rajah. Aku telah “tertipu” oleh sikap manisnya kepadaku. Ternyata dia adalah “seseorang”. Aku sekarang tahu dia adalah orang yang memiliki tugas penting untuk kaumnya. Bahkan, mungkin dia juga seorang pembuat konsep, sekaligus operator lapangan dari rencana kaumnya.

Setelah aku menyetujui rencana pelarianku untuk keluar dari Hunza, aku dan Rajah pun kembali ke suasana yang biasa kami lalui, rileks dan mengalir bagai air sungai di Jonggol yang permai.

Dia sempat berkata, “Kematian ayahku telah membuat ibuku menjauhkan aku dari kegiatan yang pernah digelutinya bersama ayahku. Dan ibuku berhasil. Dia benar-benar telah ‘menghilangkan’ dirinya. Tidak ada yang mencari atau menghubunginya sama sekali. Menurut perkiraanku, ibuku dianggap hanyalah seorang istri, murni istri, dari seorang pejuang. Tidak lebih. Sampai kini, dia benar-benar tidak dianggap siapa-siapa,” papar Rajah. Lalu ia melanjutkan dengan nada masgul, “Tapi, aku sebagai anaknya, telah mengkhianati tekad ibuku untuk hidup sebagai orang biasa. Dan ibuku tidak tahu apa yang telah kulakukan selama ini…”

Rupanya, Rajah adalah seorang ‘pejuang kaumnya’. Pejuang yang melawan penindasan pihak lain yang dianggapnya sebagai kejahatan. Pihak yang mungkin sama dengan yang sekarang mengancam Jonggol.

–Berlanjut ke cerita 12–

  • Calendar

    • July 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search