Atap di Langit

Keindahan langit malam masih bisa dinikmati di Jonggol

Keindahan langit malam masih bisa dinikmati di Jonggol

Sembilan ilmuwan yang bekerja di Istana Jonggol merupakan ahli-ahli pilihan dari berbagai bidang: fisika murni, matematika, astrofisika, bioteknologi, sosiologi, kimia, geologi, konstruksi, dan elektronika. Mereka digaji memadai oleh Raja Jonggol. Tujuan Raja Jonggol mengumpulkan mereka tak lain agar menghasilkan temuan-temuan yang dapat mensejahterakan rakyat. Kesejahteraan hanya bisa didapat melalui ilmu.

“Sebagaimana telah kita sepakati dalam diskusi kita terdahulu soal masyarakat Indonesia, salah satu sebab kekurangarifan sifat sebagian bangsa ini adalah karena tekanan alam. Matahari yang bersinar terik sepanjang tahun telah meningkatkan suhu di negeri ini hingga ke batas yang dapat menimbulkan perasaan gelisah, tertekan, letih, dan tidak nyaman. Keadaan ini sudah berlangsung selama ribuan tahun, yang kemudian menghasilkan karakter manusia yang mudah marah dan tidak tenang. Karakter seperti inilah yang kini melahirkan mental korup, rendah diri, dan malas berpikir positif,” papar Raja Jonggol kepada para ilmuwannya.

Lalu dia melanjutkan, “Karena suhu udara yang menjadi dasar masalahnya, maka kita harus memodifikasi suhu udara agar turun hingga batas di mana dapat menimbulkan rasa nyaman, kesegaran, dan produktivitas. Dalam diskusi kita terdahulu juga, kita sepakati bahwa suhu tersebut setara dengan suhu di musim semi di wilayah sub-tropis. Berdasarkan berbagai kesimpulan itu, terhitung sejak saat ini, saya memerintahkan kepada ilmuwan fisika untuk merealisasikan proyek modifikasi suhu udara di Indonesia. Untuk tahap awal, cakupan proyek dibatasi di wilayah Jonggol. Bila ini berhasil, barulah kemudian bisa dikembangkan untuk wilayah lain di Indonesia.”

Sembilan bulan kemudian, di empat sudut wilayah Jonggol telah berdiri empat menara besi setinggi 350 m, yang berarti lebih tinggi dibanding menara Eiffel di Paris, Prancis. Itulah empat menara cuaca yang bila dihubungkan dengan garis lurus akan membentuk bidang persegi panjang di atas seluruh wilayah Jonggol. Di puncak setiap menara terdapat pemancar gelombang hasil modifikasi ilmuwan fisika murni Jonggol, yang berfungsi mengurangi intensitas sinar matahari. Bila generator dihidupkan dan gelombang itu aktif, maka wilayah udara Jonggol hingga ketinggian 350 m dinaungi semacam atap persegi panjang. Dilihat dari bawah, atap itu berwarna kuning keemasan. Indah. Dan, setelah menara cuaca diuji-coba selama tiga bulan, udara di Jonggol berubah menjadi teduh dan sejuk. Suhu udara pun berkisar di 18—20 derajat Celcius. Memang, di wilayah Jonggol tepian, suhunya masih terpengaruh oleh suhu di luar Jonggol yang panas, namun intensitas sinar mataharinya tidak lagi menyengat kulit.

“Hari ini kita memasuki babak baru dalam kehidupan,” seru Raja Jonggol dalam peresmian empat menara cuaca, bersamaan dengan pembukaan pekan seni budaya Jonggol yang dihelat setiap tahun. “Sebuah babak di mana kita akan menikmati alam yang berbeda, alam yang lebih ramah dan menyenangkan hati.”

Rakyat mengelu-elukannya. Ribuan kepala menyemut di halaman Istana Jonggol. Mereka memakai jaket atau jas yang cocok untuk cuaca baru Jonggol. Kaum wanita bahkan bergaya lebih beragam lagi, karena sejak menara dibangun setahun lalu, mereka telah menciptakan mode-mode anyar untuk menyambut cuaca baru. Gaya berpakaian orang Jonggol kini berbeda dari masyarakat Indonesia di luar Jonggol.

Empat menara cuaca tidak aktif sepanjang hari. Menara-menara yang dicat dengan warna merah dan putih itu baru aktif pada pukul 10.00 pagi dan dinon-aktifkan pada pukul 16.00 sore. Dengan begitu, warga tetap bisa menikmati langsung mentari pagi dan sore, untuk kesehatan.

Setelah sukses modifikasi cuaca di Jonggol, pemerintah pusat meminta Raja Jonggol memodifikasi cuaca di Jakarta. Pemerintah pusat berharap, cuaca yang sejuk di Jakarta dapat meningkatkan kinerja masyarakat Ibu Kota. Dan yang lebih penting, menurunkan tingkat depresi mental. Bila penduduk Jakarta merasa nyaman dan tenang, diharapkan kondisi Indonesia lebih baik karena banyak sekali keputusan dari Jakarta yang mempengaruhi kehidupan di seluruh Nusantara.

–berlanjut ke Cerita 3–

Advertisements