Membuka Tabir Ancaman

Di taman inilah Permaisuri membuka rahasia

Di taman inilah Permaisuri membuka rahasia

Ratu Jonggol sedang menikmati udara pagi di kebun raya di belakang Istana. Perempuan berkulit putih, berwajah teramat cantik, dan bertubuh tinggi semampai itu menggamit pinggang anaknya, seorang putri mahkota yang berumur 23 tahun, Putri Jonggol, anak semata wayang Raja dan Ratu Jonggol. Sang Putri, yang juga berkulit putih dan berwajah lebih cantik, dengan tubuh semampai yang sedikit lebih tinggi ketimbang ibunya, pun merangkul pundak Ratu Jonggol. Sambil berjalan pelan-pelan, kedua perempuan itu berbincang tentang sesuatu yang teramat rahasia.

“Ayahmu beberapa tahun belakangan selalu berpesan agar Mama semakin kuat menjagamu. Awalnya Mama tak mengerti mengapa Ayahmu berkata demikian. Tapi, kemarin dia mengatakan sesuatu yang jadi alasannya, meski sangat mengejutkan.”

“Apa yang dikatakannya, Ma? Apakah berkaitan dengan yang aku rasakan belakangan ini? Pengawalku bertambah banyak, Ma. Itu belum termasuk yang aku tahu mengawalku secara diam-diam. Aku pikir pasti Ayah telah memerintahkan mereka.”

“Benar anakku. Itu berhubungan dengan yang dikatakannya kemarin. Tapi, biarkan Mama membuka payung ini dulu dan memakainya di atas kepala kita, walau tidak sedang hujan. Payung yang dibuat para ilmuwan Jonggol ini berfungsi mencegah penyadapan percakapan yang dilakukan oleh satelit, sekaligus menghilangkan orang yang ada di bawahnya dari objek pandang satelit.”

Mereka kemudian duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon asam yang besar, sambil tetap memegang payung.

“Anakku, dirimu tidak aman sebagai anak Raja Jonggol. Ada pihak yang ingin menyingkirkanmu dari muka bumi.”

Putri agak terkejut. Tapi, ia menguasai diri. “Mengapa, Ma? Tolong beri penjelasan yang dapat aku terima…”

“Kedudukanmu sebagai pewaris Istana Jonggol-lah yang jadi penyebabnya. Menurut Ayahmu, ada pihak yang ingin menyudahi kiprah Istana Jonggol sampai batas kehidupannya. Maksudnya, sepeninggal Ayahmu kelak, Istana Jonggol akan dikekang segala perkembangannya. Bahkan, mungkin akan ditutup aktivitasnya.”

“Kenapa ada ide seperti itu, Ma? Bukankah Istana Jonggol berbuat baik untuk kemuliaan masyarakat?”

“Itulah yang oleh Ayahmu belum benar-benar dimengerti. Tetapi, yang pasti, Ayahmu telah berkali-kali berhadapan dengan upaya pembunuhan dirinya dan penghancuran Istana Jonggol, namun selalu berhasil dicegah oleh 99 pengawalnya. Ayahmu belakangan mengetahui ini semua berkaitan dengan sebuah kelompok persaudaraan besar dunia yang sejak dua ribu tahun lalu berusaha mengendalikan dunia. Kelompok ini sekarang mengatur arah peradaban manusia melalui lembaga-lembaga dunia, perhimpunan negara-negara, perbankan, LSM, dan media massa, agar sepenuhnya sesuai keinginan mereka, yakni melahirkan tata dunia baru yang tunduk kepada kekuatan tunggal.”

Wajah Putri penuh ekspresi tanya. “Siapa mereka itu, Ma?”

“Karena sifat mereka amat rahasia, maka tidak bisa dipastikan siapa mereka. Tapi, para ilmuwan Jonggol sepakat bahwa asal muasal pemikiran mereka muncul di masa para malaikat masih rajin menurunkan ajaran-ajarannya kepada manusia. Nenek moyang kelompok ini adalah mereka yang menentang para malaikat itu. Mereka meyakini suatu prinsip bahwa nasib manusia di bumi semestinya ditentukan oleh manusia sendiri, bukan oleh malaikat yang, menurut mereka, justru menciptakan masalah besar di bumi. Mereka menuduh malaikat sebagai penyebab pertikaian antar-manusia karena telah menurunkan agama-agama yang berlainan. Permusuhan antara Islam dan Kristen telah menimbulkan banyak peperangan yang menyebabkan kematian jutaan manusia. Itu belum termasuk permusuhan Yahudi dengan Kristen dan Yahudi dengan Islam. Semua agama itu diajarkan oleh malaikat.”

“Lantas mengapa mereka ingin menghancurkan kita?”

“Karena mereka menganggap cepat atau lambat Istana Jonggol akan memiliki pengaruh yang luas. Dan mereka berprinsip tak boleh ada dua kekuatan di dunia ini, karena akan timbul kekacauan. Mereka ingin menjadi kekuatan tunggal selamanya. Perlu kau ketahui, Anakku, orang-orang seperti mereka terbiasa menyikapi segala sesuatu secara preventif. Mereka adalah orang-orang yang selalu waspada dan selalu siap membela kepentingannya. Mereka tidak pernah mau kecolongan dan selalu memperhitungkan segala sesuatunya jauh ke depan…”

“Tetapi, mereka menghalalkan segala cara…”

“Ya benar. Dan mereka telah berhasil meruntuhkan berbagai kekuatan lain di dunia ini sejak berabad-abad lalu. Beberapa pemimpin dunia telah dibunuhnya, atau setidaknya dikendalikan oleh mereka. Bahkan, sanak keluarganya yang berpotensi memimpin dengan cara yang berbeda dengan yang mereka harapkan, pun dibunuh.”

“Apa yang harus kita lakukan, Ma?”

“Anakku, besok pagi Ayahmu akan berbicara kepadamu…”

–berlanjut ke Cerita 4–

  • Calendar

    • July 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search