Putri Dihadapkan pada Pilihan Sulit

IMF, salah satu alat 'mereka' untuk menguasai dunia

IMF, salah satu alat 'mereka' untuk menguasai dunia

Rak-rak buku di ruang kerja Raja Jonggol pagi itu tampak bersinar, memantulkan cahaya lampu. Sehari sebelumnya, rak-rak kayu jati yang tingginya menyentuh langit-langit ruangan itu dibersihkan. Setiap hari Minggu memang dilakukan perawatan perpustakaan pribadi Raja.

Sebuah meja besar, juga dari jati, dengan anggun menempati bagian tengah ruangan yang seluas lapangan bola voli. Di atas meja itu, bertengger tiga unit komputer portabel, foto-foto keluarga, alat-alat tulis, sebuah mesin ketik kuno (properti Raja semasa menjadi mahasiswa), serta tiga ponsel.

Berlatar belakang lukisan candi Borobudur yang megah, Raja duduk di kursi dekat meja itu. Dari kejauhan, kepalanya tampak bagai kepala Buddha yang sedang bersemedi di puncak Borobudur. Dia tengah menunggu seseorang. Tak ada suara apa pun. Ruangan yang keseluruhanya tampak lengang itu seperti membekukan lantai dan dinding marmernya.

“Langkahkan kakimu ke dalam ruangan ini, Anakku tercinta…,” sejurus kemudian sang raja berbicara. Dia tahu ada seseorang di depan pintu.

“Baik Ayah. Tapi, apakah aku masih akan kau beri buah ceri itu?”

“Naiklah ke pohonnya. Ayah menjagamu di bawah…”

“Aku akan ambilkan buah itu untukmu juga, Ayah…”

Raja menekan sebuah tombol di mejanya dan pintu ruangan terbuka. Lalu masuklah seorang wanita cantik-tinggi-langsing dengan langkah tegas tetapi anggun. Tak lama kemudian dia mencium tangan ayahandanya dan mendapat hadiah kecupan di kening serta pelukan. Setelah percakapan singkat tadi, raja yakin inilah putrinya, putri semata wayangnya yang sejak dilahirkan selalu dijaganya. Percakapan itu tidak pernah direncanakan, melainkan sebuah spontanitas. Hanya memori di antara ayah dan anak itulah yang dapat menghasilkan dialog seperti itu. Memori akan keakraban di masa lalu yang tak pernah dilupakan. Bila sang putri tiba-tiba berkata, “Ayah, gendong aku,” maka sang raja akan menjawab, “Apakah kakimu terlalu lemah untuk menopang tubuhmu?” Ini adalah dialog yang di masa lalu sering terjadi di antara keduanya. Dan di masa sekarang, ketika ancaman terhadap keluarga Istana Jonggol cukup kuat, memori masa lalu itu menjadi ‘sandi identitas’ yang penting.

“Sudah kau baca surat dariku?”

“Sudah, Ayah. Beberapa jam ini aku terus memikirkannya. Apakah itu berkaitan dengan apa yang dikatakan Mama kemarin?”

“Benar, Putriku. Surat itu adalah bahan pemikiran awal yang ayah berikan kepadamu, sebelum kita membicarakan beberapa pilihan saat ini.”

“Pilihan apa, Ayah?”

“Putriku, ancaman terhadap Istana Jonggol dari hari ke hari kian kuat. Semakin kita berhasil melakukan sesuatu atau memperluas pengaruh, maka serangan demi serangan yang menimpa kita makin besar. Yang terakhir, rekening kita di sebuah bank di Swiss dicoba dihapus. Demikian pula dengan rekening kita di bank dalam negeri. Selain itu, jaringan komputer para ilmuwan Jonggol dicoba disadap. Empat menara cuaca dicoba diganggu. Dan aku dicoba dibunuh untuk yang kesekian kalinya.”

“Ayah…”

“Putriku, kepala keamanan kita kemarin melaporkan prediksinya bahwa tak lama lagi sasaran ancaman itu adalah dirimu dan Mamamu. Sebenarnya, sudah sejak lama ayah mengkhawatirkan hal ini. Dan sekarang karena dirimu telah dewasa, Ayah akan mendiskusikan langkah-langkah untuk menyelamatkan dirimu.”

“Bagaimana dengan Mama?”

“Mamamu memutuskan untuk selalu bersama Ayah, apa pun yang terjadi…”

Ekspresi wajah putri menegang. “Maksud Ayah? Bukankah aku juga harus selalu bersama Ayah?”

“Tidak, Putriku. Engkau bisa pergi dari istana ini atau tetap berada di sini. Tetapi, ayah menyarankan agar engkau pergi.”

“Ayah!”

“Putriku, pergilah ke tempat yang bahkan ayahmu tidak mengetahuinya. Dan suatu ketika kembalilah ke sini ketika kau merasa saatnya sudah tiba…”

“Ayah bilang bahwa aku punya pilihan!”

“Benar, Anakku. Sekarang apa pilihanmu…”

Lama sang putri terdiam. Dia menyadari telah dihadapkan pada pilihan yang sulit. Terlintas pula di pikirannya bahwa ayahnya tengah mengujinya. Menguji mentalnya untuk mengambil keputusan yang berat. Sang putri akhirnya mengatakan sesuatu yang dianggapnya paling benar.

“Aku memilih tetap di sini. Aku ingin melindungi Ayah dan juga Mama. Aku ingin melindungi Istana Jonggol.”

Kali ini, raja yang terdiam lama. Entah apa yang ada di benaknya. Namun, kemudian dia berkata.

“Anakku, engkau masih ingat isi surat ayah tadi pagi?”

“Ya, Ayah…”

“Apakah sikap tegas dan kesetiaanmu adalah pilihan terakhirmu? Ataukah engkah masih memiliki fleksibilitas?”

Sang Putri terhenyak. Rupanya, tulisan tentang malaikat dan setan yang diberikan ayahnya telah menjadi begitu berarti saat ini. Dia enggan disamakan dengan setan yang tak bisa berkompromi. Tetapi, dia juga enggan bersikap fleksibel dan meninggalkan orang-orang yang teramat dicintainya.

Tiba-tiba suara sang raja memecah kesunyian.

“Anakku, lakukan apa yang seharusnya engkau lakukan. Jangan ragu untuk bertindak. Kebenaran tidak sulit dicapai…”

Sang Raja meninggalkan ruangan besar itu, sambil menyerahkan secarik kertas kepada anak tercintanya. Sang Putri tertinggal sendirian, terdiam di tengah dinding dan lantai pualam yang dingin… Ia lalu membaca tulisan pada kertas yang diberikan ayahandanya.

Pada awalnya, manusia memandang banyak hal dengan spiritualitas, namun ketika ilmu pengetahuan berkembang, rasionalitas mulai bergerak secara paralel dengan spiritualitas. Namun, belakangan, rasionalitas tidak lagi bergerak paralel, melainkan menerjang spiritualitas. Sebab, di dalam dunia modern, rasionalitas kemudian melahirkan kapitalisme, sebuah “ideologi” yang menjadi napas utama pergerakan manusia saat ini. Kapitalisme, di dalam kehidupan sehari-hari, diwakili oleh sistem keuangan, sistem informasi, benda-benda produksi, dan benda konsumsi yang menopang kehidupan.

Kapitalisme tidak leluasa menerima spiritualitas, sebab spiritualitas, dalam hal ini agama, dapat menghambat perkembangan kapitalisme. Agama dapat melarang penjualan produk-produk tertentu, agama dapat melarang arus informasi tertentu, bahkan agama dapat menjauhkan manusia dari uang dan barang. Bila agama berkembang pesat, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kemandegan industri, informasi, dan sistem keuangan yang ada saat ini. Bila ini terjadi, akan muncul ketidakstabilan, bahkan kekacauan, pada dunia.

Rasionalitas dan kapitalisme –dua nilai yang dianggap universal– diemban dengan sangat kuat oleh dunia Barat. Mereka menjadi pilar nilai-nilai itu, sekaligus mengembangkannya ke seluruh penjuru dunia. Berkaitan dengan ini pula, Barat berpikir bahwa nilai-nilai tersebut harus selalu berada dalam kondisi aman. Untuk itu, Barat berusaha mengeliminasi pihak-pihak yang dianggap membahayakan nilai universal itu, misalnya agama-agama dan kekuatan lain yang masih memegang prinsip agama.

Agama Islam, sebagai contoh, dianggap oleh Barat sebagai kekuatan terbesar yang membahayakan nilai universal Barat. Maka, negara-negara berpenduduk Muslim diserang secara militer, bila tidak dapat ditaklukkan dengan cara lain, seperti diplomasi. Sedangkan Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, ditaklukkan dengan pola ekonomi-utang yang melilit, pemburukan (disgrace) citranya di mata dunia, dan pemecahbelahan (disintegration).

Kondisi dunia yang seperti itulah yang harus kita sadari, Anakku…

–berlanjut ke Cerita 6–

Advertisements