Keputusan Diambil

Bukan Putri yang memacu mobil ini melintasi pintu gerbang

Bukan Putri yang memacu mobil ini melintasi pintu gerbang

Sebuah Porsche 911 Turbo berwarna jingga meluncur cepat, keluar dari pintu gerbang utama Istana Jonggol. Roda-rodanya sempat menimbulkan suara berdecit. Para petugas keamanan istana tahu bahwa Putri sedang bergegas menuju sirkuit untuk menyalurkan hobi balapnya.

Sementara itu, di bagian lain istana, seorang perempuan tukang sapu tampak membersihkan dedaunan yang gugur di bawah sebuah pohon di dekat pagar terluar istana. Tiba-tiba, tukang sapu yang memakai topi caping itu menaiki pagar istana setinggi tiga meter dan melompat keluar. Dia telah mempersiapkan sebuah tali untuk itu.

Sensor di atas pagar pun menanggap gerakan yang mencurigakan. Alarm berbunyi di kantor keamanan istana dan di ruang pribadi Raja Jonggol. Sekelompok pengawal istana segera meluncur ke sumber masalah. Tapi, setelah beberapa waktu penyisiran, tak ditemukan adanya penyusup.

Si tukang sapu telah jauh meninggalkan istana dengan mengemudikan sepeda motor yang telah dipersiapkan di balik tembok istana. Di dalam kamarnya, Ratu Jonggol menitikkan air mata, sedangkan Raja hanya termenung. Suami-istri ini merasakan pukulan yang luar biasa di dalam batinnya. Sebab, sehari sebelumnya, Putri Jonggol mengirimkan surat yang isinya singkat saja: “Bila alarm berbunyi, kuberikan peluk dan ciumku untuk Ayah dan Mama yang selalu kucintai. Putrimu akan kembali saat dia merasa tepat waktunya untuk kembali.”

Rupanya, sang putri telah memilih fleksibilitas, setidaknya untuk saat ini. Dia merasa apa yang disarankan ayahandanya adalah pilihan yang benar, setidaknya untuk saat ini. Sang putri yakin bahwa sikap orang tuanya didasarkan pada cinta.

Tidak seorang pun di Istana yang tahu ke mana tukang sapu itu pergi. Tidak juga Raja dan Ratu. Anak tercintanya kini telah jauh. Sendiri. Tidak ada yang akan mengenalinya sebagai Putri Jonggol. Dia tidak lagi memegang identitas yang sesungguhnya. Dia menjadi orang lain. Dan akan terus demikian untuk beberapa lama. Sampai tiba saatnya untuk kembali.

–berlanjut ke Cerita 7–

Advertisements