Mendengar Nama Rakaposhi

Sebuah sudut Changi

Sebuah sudut Changi

_Changi Airport berdenyut sebagaimana biasanya. Ramai. Tapi, terasa dingin, udaranya juga suasananya. Beruntung, warna-warna pastel dari karpet, dinding, langit-langit, dan lampunya menciptakan nuansa nyaman. Inilah bandara yang didesain semenyenangkan sebuah mal. Dan di Changi banyak terdapat toko-toko –dari yang menjual rokok, makanan, buku, sampai pakaian—yang bisa membuat orang merasa betah, menunggu penerbangan sambil berbelanja buah tangan atau sekadar ‘window shoping’.

Di salah satu tempat duduk, seorang perempuan tengah membaca buku. Rambutnya, berwarna coklat keemasan dan jatuh manis di atas bahu dan separuh punggungnya. Sebuah syal berwarna merah jambu dari bahan wool melilit lehernya. Kemejanya berwarna putih dan bagian atasnya sedikit terbuka, memamerkan sedikit dadanya yang putih cerah. Satu kakinya ditumpangkan di atas kaki lainnya, membuat kesan jenjang semakin nyata di kedua kakinya yang dibalut jeans biru muda.

Sesekali pandangannya menyapu ke sekelilingnya, namun sejurus kemudian dengan tenang ia kembali menatap halaman bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karangan Prof. Samuel P. Huntington. Buku ini –sebuah buku yang terbit pada 1996, ketika perempuan itu belum dilahirkan– menjabarkan teori tentang dunia yang diwarnai benturan kepentingan agama dan budaya, sambil memprediksi bagaimana akhir dari semua itu.

Menurut pengarangnya, setelah perang dingin usai, konflik di dunia akan muncul berdasarkan perbedaan agama dan kebudayaan, misalnya konflik Islam dengan Barat. Dan perempuan muda itu merasakan betapa konflik tersebut terus memanas, berpuluh tahun kemudian sejak buku itu terbit. Bahkan, mungkin pula, kepergiannya kali ini terkait dengan salah satu bagian dari konflik tersebut.

Tiba-tiba ia menutup bukunya. Lalu bergegas menuju gate 37, tempat di mana pesawat yang akan terbang ke Islamabad, Pakistan, telah menunggu dan penumpang sudah diperbolehkan untuk masuk ke pesawat. Perempuan itu hanya menyeret sebuah travel bag berukuran sedang, dan sebuah tas jinjing menggelayut di pundak kirinya.

Ruang penumpang first class tidak terisi penuh. Hanya ada seorang lelaki bule yang sibuk dengan ponselnya, dan seorang wanita tua berwajah timur tengah yang diam seperti patung. Perempuan muda yang mengenakan syal merah jambu pun memilih kembali mambaca bukunya.

“Nona Catherine, bolehkah saya bantu memasang sabuk keselamatannya?” seorang pramugari berbicara dalam bahasa Inggris ‘dialek Singapura’ memecah keheningan. Ia menjalankan rutinitasnya sebelum pesawat bergerak ke landas pacu.

“Tidak, terima kasih. Nanti saya pasang sendiri…,” jawab sang perempuan yang bernama Catherine itu.

“Adakah hal lain yang dapat saya bantu?” ujar pramugari Boeing 999 milik Singapore Airlines itu lagi.

“Saya ingin koran Indonesia yang terbit hari ini,” jawab Catherine.

Sejenak kemudian, koran yang diminta telah ada di tangannya. Salah satu berita utama koran itu berbunyi, ‘Bupati Jonggol Desak Mahkamah Konstitusi Tinjau UU Perlindungan Karya Intelektual’. Senyum simpul tersungging di bibir perempuan ini. Di dalam hatinya dia berkata, “Rupanya, Ayah tidak pernah puas untuk mengangkat derajat para ilmuwan di Indonesia setinggi-tingginya.”

Tiba-tiba di dalam dadanya berdesir rasa dingin. Rindunya pada kedua orang tuanya begitu mengiris hati. Ingin sekali dia sekadar ‘say hai’ kepada ayahanda dan mama tercintanya. Namun, ia sudah sejak berminggu-minggu lalu tidak lagi mengantongi ponsel. Ia sengaja memutus kontak dirinya dengan pihak mana pun, termasuk kedua orang tuanya, Raja dan Ratu Jonggol, serta seluruh sahabatnya. Ia sekarang benar-benar sendiri. Sendiri tanpa orang-orang yang mengenalnya. Bila pesawat ini jatuh dan ia wafat, maka jenazahnya tidak akan diantar pulang ke Jonggol, karena alamat di dalam paspor maupun identitas perempuan ini sudah berbeda. Nama Catherine Lee pun tak akan dikenal di Istana Jonggol.

***

Puncak Rakaposhi

Puncak Rakaposhi

_Pesawat mendarat dengan mulus di Islamabad International Airport. Catherine menjadi orang pertama yang keluar dari lambung pesawat. Ia tidak berniat mengantre bagasi karena sepanjang hidupnya, ia tidak pernah bepergian membawa barang terlalu banyak. Efisien dan efektif, begitu prinsipnya. Hanya dengan menyeret travel bag dan menjinjing sebuah tas, ia segera mendapatkan sebuah taksi, setelah selesai dengan urusan imigrasi yang singkat. Dimintanya si sopir mengarahkan kendaraannya ke Hotel Marriott di pusat kota Islamabad.

Belum juga sempat meletakkan pantatnya yang padat-berisi di atas sofa empuk di lobby hotel berbintang lima itu, seorang pria lokal separuh baya menyapanya.

“Andakah Nona Lee dari Singapura?”

“Mengapa Anda menanyakan itu kepada saya?”

“Karena saya ingin mengantarkan wanita secantik Anda ke puncak Rakaposhi yang indah…”

Si lelaki mengatakan kalimat ini dengan kaku. Tetapi, Catherine tersenyum, karena dapat memastikan bahwa pria ini adalah orang yang memang diperintah untuk menjemput dirinya oleh Lembaga Purbakala Hunza. Kalimat pujian itu adalah kalimat standar dari lembaga itu untuk menyambut arkeolog yang ingin melakukan penelitian di Hunza, tentu setelah sebelumnya mendapat izin dari lembaga itu. Bila arkeolognya berjenis kelamin pria, maka kalimatnya menjadi, “Kami ingin mengantar orang segagah Anda ke puncak Rakaposhi yang agung.”

Rakaposhi adalah sebuah gunung dengan puncak settinggi 7.788 m dari permukaan laut yang merupakan bagian dari rangkaian Himalaya. Letaknya di utara Pakistan dan begitu dipuja oleh masyarakat Hunza karena keindahannya. Salju di puncak Rakaposhi menghasilkan cahaya putih bercampur biru dan sedikit kemerahan bila terkena sinar bulan.

“Mari Nona Lee, seseorang telah menunggu Anda di Hunza yang indah…,” Faisal berkata sambil menyeret travel bag milik Cahterine. “Perjalanan akan cukup panjang Nona, sebaiknya Nona beristirahat saja di dalam mobil…”

Salah satu sudut Hunza

Salah satu sudut Hunza

_Berlanjut ke Cerita 7a dan masih akan berlanjut lagi, dengan kisah cinta yang berbahaya, karena berkaitan dengan orang yang paling dicari di seluruh dunia, dan di Cerita selanjutnya hingga Cerita 23 akan terjadi pertarungan Islam vs Kristen yang menggetarkan hati–

Advertisements