Misteri dan Cinta di Peluk Hunza

Anak-anak Hunza. Rajah kerap bermain dengan mereka.

Anak-anak Hunza. Rajah kerap bermain dengan mereka.

_Aku adalah perawan suci. Hingga usiaku yang mendekati 25 tahun ini, tak sejengkal tubuhku yang pernah dijamah laki-laki. Beberapa teman dekat pria kumiliki semasa kuliah, tapi bukan pacar. Aku terlalu kagum pada ayahku, dan terlena oleh pesonanya. Tak ada laki-laki lain yang bisa memikat hatiku, karena kumenganggap mereka tak sehebat ayahku.

Sekarang aku jadi punya sedikit “masalah” karena kekurangpengalamanku pada soal asmara. Di tempat “antah berantah” ini, yang jauh dari kampung halaman, aku menghadapi situasi yang merepotkan. Hunza bukanlah tempatku. Di sini aku hanya melarikan diri dari ancaman kelompok yang ingin menghancurkan keluargaku. Aku tidak merasa ada ikatan emosi yang kuat dengan tempat yang dingin dan cuma dikelilingi gunung berpuncak salju ini.

Tapi, Rajah Khan membuatku berpikir ngawur. Dia selalu bilang bahwa aku ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidup dan mati di Hunza. Omongan macam apa ini. Tak masuk akal. Ya, sebab aku merasa jiwaku tetap tertinggal di Jonggol, kampung halamanku yang permai. Tapi, dia mengucapkannya dengan mimik wajah yakin, suara tanpa keraguan, dan bahasa tubuh bak perawi.

Rajah Khan cuma seorang pria asli Hunza –demikian pengakuannya– yang simpatik, tampan, dan pandai berbahasa Inggris. Sejak awal kedatanganku di Hunza, dia menjadi orang terdekatku, karena faktor bahasa tadi. Di samping itu, figurnya yang simpatik membuatku merasa aman.

Aku menyelidiki asal-usul dan keluarganya, karena aku memang harus melakukannya, demi keamananku. Rajah –demikian aku memanggilnya– adalah anak seorang petani buah apricot. Ayahnya telah meninggal dunia sejak Rajah dalam kandungan ibunya. Sebab kematiannya tak jelas, menurut Rajah sendiri. Sedangkan pekerjaan Rajah sendiri sehari-hari “tidak ada”. Dia hanya datang dan pergi kepadaku sesukanya, tanpa aku tahu apa yang dilakukannya sebelum menemuiku.

Kemisteriusan Rajah tentu mengkhawatirkanku. Aku tentu saja merasa harus mencurigainya. Tapi, yang membuat aku lebih repot adalah sikapnya. Dia, setidaknya di mataku yang kurang pengalaman ini, seolah sudah menjadi pacarku. Pandangan matanya, ekspresi wajahnya, dan nada suaranya seolah dia adalah kekasihku! Aku terkadang kurang nyaman dengan ini, tapi aku juga memerlukan Rajah! Di negeri asing ini aku, bagaimana pun, hanyalah seorang perempuan yang juga asing. Aku perlu teman. Dan aku membiarkan Rajah terus mengumbar sikap manisnya setiap hari. Dia jatuh cinta padaku? Atau cuma seorang playboy Hunza yang sedang beraksi?

Beruntung, dia sama sekali tak pernah mencampuri urusan arkeologiku. Aku pikir karena dia tidak paham, jadi gensi bicara soal purbakala. Masalahnya cuma soal romantika itu tadi. Dan terus terang aku bingung.

Musababnya, setelah dua bulan di Hunza, Rajah sempat mengatakan ingin menikahiku! Gila! Apa-apaan ini?! Batinku bergejolak. Ini orang sungguh-sungguh cinta atau jangan-jangan ingin menguasai hidupku. Jangan-jangan dia hanya pria tampan yang dikirim untuk menaklukanku. Apakah pelarianku ke Hunza tercium oleh musuh-musuh istana Jonggol?

Berlanjut ke Cerita 8

Advertisements