Tuan Bangau

Carcassonne dari udara. Di sini Tuan Bangau rancang operasinya.

Carcassonne dari udara. Di sini Tuan Bangau rancang operasinya.

_Carcassonne siang itu berlangit cerah. Hawa kawasan selatan Prancis yang beraroma mediterania terasa kental dari embusan anginnya yang harum. Entah dari mana asalnya wangi di dalam udara ini. Angin berembus tidak terlalu dingin. Mirip angin di kawasan Puncak, Bogor.

Carcassonne, sebuah kota kuno yang berdiri sejak 100 SM dan mulai dikelilingi benteng sejak abad ke-12, sekarang dijadikan situs wisata oleh pemerintah Prancis. Di dalam benteng yang masih dijaga keutuhan bentuknya itu, terdapat puluhan hotel dan restoran, serta toko-toko cinderamata. Orang-orang mengunjungi Carcassone untuk menikmati sebuah lansekap kota tua yang dikelilingi benteng. Bangunan-bangunan, jalan-jalan, gang-gang, dan menara-menara pengawas di sudut-sudut benteng konon masih sama dengan keadaan di masa lalunya. Dari kejauhan, Carcassone didominasi menara-menara pengawas dengan atap kerucut, serta tembok-tembok panjang yang di atasnya disediakan cerukan bagi pasukan pemanah. Di masa Perang Salib, kota ini jadi salah satu tempat persinggahan pasukan Eropa yang bergerak menuju Jerusalem.

Di sebuah kamar presidential suite Hotel de La Cite, salah satu hotel termewah di dalam benteng, seorang lelaki kulit putih duduk membaca buku. Rambutnya sudah memutih dan hanya sedikit menutupi kepalanya yang sebagian besar telah tampak kulitnya. Meski usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, lelaki ini tidak berkaca mata.

Di lobby hotel, seorang pria separuh baya terburu-buru menaiki tangga menuju lantai dua. Setelah tiba di depan pintu kamar presidential suite, segera dia menekan bel. Lelaki tua yang ada di dalam kamar beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
“Mengapa engkau lebih cepat datang?” tanya si lelaki tua.
“Maaf, Tuan Bangau, saya memutuskan datang lebih awal karena merasa perlu menyampaikan informasi yang tidak boleh ditunda.”
“Katakan apa informasinya…”
“Anak Elang Timur tidak lagi bersama induknya. Dia pergi entah ke mana, seperti hilang ditelan bumi. Informan kita di sana mengatakan anak Elang itu menghilang sejak beberapa minggu lalu. Tetapi, saya menduga kepergiannya sudah terjadi sejak berbulan-bulan yang lalu…”

Wajah Tuan Bangau sedikit memerah. “Mengapa kita bisa kehilangan jejaknya?!” Nada kalimatnya gusar, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia lalu berkata, “Tiga hari dari sekarang, segara kumpulkan seluruh Burung-Burung di kamar ini. Katakan pada mereka, Tuan Bangau telah memutuskan kondisi darurat!”

Setelah si pria separuh baya keluar dari kamar, Tuan Bangau termenung di dekat jendela yang menghadap ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan penjara dan tempat para tahanan digantung. Hanya ada ekspresi dingin di wajahnya yang sudah banyak dihiasi garis dari lipatan kulit. Sorot matanya menerawang jauh. Di tangan kanannya, ada selembar foto seorang perempuan cantik yang tengah berpose di depan sebuah mobil balap, Putri Jonggol.

Berlanjut ke Cerita 9