Cerita 9 Bergerak dari Carcassonne

Interior gereja Basilica Trier, Jerman Selatan

Interior gereja Basilica Trier, Jerman Selatan

_Delapan orang duduk mengitari sebuah meja bundar besar di dalam kamar presidential suite Hotel de La Cite. Semuanya memakai setelan jas lengkap dari merek-merek terkenal. Bahkan, motif dasi yang mereka pakai semuanya berwarna cerah. Sayangnya, gaya berpakaian yang mewah dan trendy itu tidak dapat menutupi ketuaan di wajah mereka yang rata-rata sebanding dengan Tuan Bangau, sekitar kepala tujuh. Yang termuda di antara mereka usianya sekitar lima puluh tahun. Dan dia biasa dipanggil dengan sebutan Mr. Pelican. Wajahnya selalu terlihat seperti sedang tersenyum, karena mulutnya yang agak lebar.

“Para saudaraku,” Tuan Bangau membuka percakapan, “Anak Elang telah memisahkan diri dari kerabatnya. Tidak ada dugaannku yang lain kecuali bahwa Elang Timur sedang merencanakan sesuatu dan memilih mengamankan anaknya terlebih dahulu. Dia melakukan itu lantaran ada rencana di baliknya.”

“Aku juga berpikir demikian. Tetapi, aku belum melihat kecenderungan yang mengarah ke suatu rencana besar dari Elang Timur. Informan kita di sana semakin mempertajam pengawasannya, tetapi tidak melaporkan sesuatu yang spesifik,” ujar Mr. Pelican.

Orang lain di meja bundar itu pun lebih kurang mengungkapkan pandangan senada.

“Baiklah,” Tuan Bangau kembali berbicara, “Dalam hal ini kita sepakat Elang Timur sedang merencanakan sesuatu yang belum kita ketahui. Persoalannya, kita tidak dapat berdiam diri dan kemudian mengetahui rencana Elang Timur ketika sudah terlambat. Aku meyakini filosofi bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Selama ini, kita sudah menyerang, meski belum efektif. Dan kita tidak boleh berhenti menyerang hingga berhasil. Firasatku mengatakan ada rencana besar dari Elang Timur yang akan menghantam kita bila kita tidak menghantamnya lebih dulu. Aku mengusulkan agar kita gunakan senjata andalan kita saat ini juga…”

Tiba-tiba hening. Tak ada yang bicara. Beberapa saat setelah frase ‘senjata andalan’ disebut, semuanya menahan napas. Mereka terkejut, sekaligus memang berharap senjata itu digunakan. Ada rasa penasaran, karena senjata itu belum pernah digunakan.

“Aku kira ini mungkin sudah waktunya…,” ujar seorang peserta meja bundar. Yang lain mengangguk-angguk. “Tetapi, bagaimana strategi serangan pamungkas ini?”

Tuan Bangau terdiam sejenak. Lalu dia menatap Mr. Pelican yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.

“Ideku,” ujar Mr. Pelican, “Kita bagi serangan ini ke dalam dua tim. Tim pertama dipimpin oleh Tuan Bangau, tugasnya membawa Wild Rose (Mawar Liar) ke arah timur hingga mencapai Bangkok. Di sana, tim pertama akan bertemu dengan tim kedua yang aku pimpin dan membawa The Letter of Death (Surat Kematian). Dari Bangkok, kita bersama-sama masuk ke istana Elang Timur secara halus. Setelah itu, tanpa ada pihak mana pun yang menyadarinya, Elang Timur dan seluruh pendukungnya akan menjadi bagian dari kita. Dunia pun kembali bebas dari ancaman.”

Tidak ada peserta meja bundar yang menentang ide Mr. Pelican. Artinya, rencana siap dilaksanakan. ‘The Figure of Eight’ –mereka menyebut diri mereka demikian— memang selalu kompak. Jarang sekali ada pertentangan di antara mereka. Kalau seseorang angkat bicara, maka esensinya selalu memperkaya pembicaraan rekan lainnya, begitu seterusnya hingga dicapai kesimpulan yang matang.

Keesokan harinya, di dalam sebuah gereja besar peninggalan Romawi di kota Trier, Jerman Selatan, seseorang dengan hati-hati menaiki dinding untuk mencapai tempat penyimpanan oregon (pipa-pipa besi yang berguna menggaungkan suara pengkotbah). Setibanya di atas, dia mengais-ngais sebuah bagian dinding di sela-sela oregon yang ditaruh berhimpitan. Kemudian dia mencongkel sebuah batu bata dan mengambil sesuatu di bawahnya. Sebuah poci kecil yang terbuat dari perak. Setelah menaruh kembali batu bata tadi di tempatnya, dengan hati-hati dia turun dari tempat oregon itu memakai tangga yang sama digunakannya ketika naik. “Wild Rose dalam perjalanan ke sarang burung,” ujar orang ini melalui telepon genggamnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, Mr. Pelican tengah berada di ruang perpustakaan gereja yang sama. Dia membuka-buka halaman sebuah buku tua yang cukup tebal. Buku bersampul kayu dengan warna cokelat tua itu tampak berdebu. Tempat penyimpanannya pun tidak terlindung. Tetapi kondisi buku itu masih baik, karena halaman-halamannya dibuat dari kulit binatang. Dengan hati-hati, Mr. Pelican menyalin sesuatu dari buku itu ke atas selembar kertas. Setelah selesai, dia mengembalikan buku itu ke tempatnya, lalu berjalan dengan tenang meninggalkan gereja.

Sebenarnya, orang yang mengambil Wild Rose, juga Mr. Pelican, tidak pernah datang ke gereja itu sebelumnya. Bahkan, mereka hampir tidak pernah masuk ke gereja di mana pun sepanjang hidupnya. Seluruh anggota ‘Figure of Eight’ sesungguhnya bukan orang yang suka datang ke gereja, apalagi mencintai gereja. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan gereja dan mengambil sesuatu dari tempat itu.

Malam harinya, ‘Figure of Eight’ kembali berkumpul di ruangan Tuan Bangau di Carcassonne. Di atas meja bundar, terdapat poci Wild Rose dan selembar kertas dari Mr. Pelican. Masing-masing dari kedelapan orang itu secara bergiliran memegang Wild Rose dan mengguncang-guncangkannya, sehingga terdengar suara cairan yang berkecipak di dalam poci itu. Kedelapan orang itu juga secara bergantian membaca tulisan di atas kertas milik Mr. Pelican, lalu masing-masing memberi tanda anggukan kepala yang berarti sejauh ini pengumpulan kedua senjata pamungkas berjalan dengan baik.

Keesokan harinya, sebuah Peugeot 909 Extreme, sebuah Mercedes-Benz E-888, sebuah Ferrari Enzo XII, dan sebuah Proton Perotiga, satu per satu keluar dari benteng Carcassonne dalam interval waktu sekitar lima menit. Mobil-mobil yang ditumpangi para anggota ‘Figure of Eight’ itu menuju bandara Montpellier untuk terbang ke bandara Charles de Gaulle di Paris, untuk kemudian melakukan penerbangan jarak jauh ke Bangkok.

Untuk sampai ke bandara Montpellier, keempat mobil itu masing-masing memilih rute yang berbeda. Mereka benar-benar memperhitungkan semuanya secara detail untuk menjaga kerahasiaan diri mereka, juga apa yang mereka lakukan. Bahkan, cara mereka menentukan jenis mobil yang digunakan pun cukup menarik, karena begitu beragam: dari mobil kecil kelas kacangan hingga mobil mewah kelas wahid. Siapa pun akan sulit untuk mengira bahwa penumpang Ferrari sebenarnya berkawan dengan penumpang Proton yang murahan.

Berlanjut ke Cerita 9a

Advertisements