Malaikat Gabriel Telah Terbangun

Salah satu jalan di Kashgar. Jonas menanti Gabriel di kota ini.

Salah satu jalan di Kashgar. Jonas menanti Gabriel di kota ini.

Desa Karimabad di lembah Hunza baru saja usai diramaikan oleh sebuah pesta pernikahan, ketika aku kembali dari Kashgar. Pesta pernikahan yang meriah, karena diiringi bunyi-bunyi petasan, mirip pesta kawin orang Betawi. Aku menyelinap cepat ke penginapanku, agar Rajah tak segera menemuiku. Aku khawatir dia bertanya macam-macam, karena memang aku memilih untuk merahasiakan kepergianku ke Kashgar.

Tiga hari aku berada di Kashgar, kota kuno di barat laut China, untuk keperluan arkeologi. Kota ini merupakan bagian penting dari ‘Jalur Sutra’ yang aktif ribuan tahun lalu. Aku juga punya kepentingan khusus di sana, menemui seseorang yang pernah berjumpa ayahku di Jakarta bertahun-tahun lalu, dalam suatu pertemuan arkeolog internasional. Waktu itu, aku diajak ayahku menemaninya, dan dikenalkan kepada Michel Jonas, seorang arkeolog Prancis yang bermukim di Kashgar.

Sebenarnya aku tak yakin soal keamananku bila menemui Jonas. Bagaimana pun, aku merasa harus curiga kepada siapa pun –terlebih orang Barat– yang hidup “tidak konvensional” di negeri orang. Mengapa ada seorang doktor dari Prancis yang tidak menikah, tidak banyak menulis buku, tidak banyak menulis jurnal ilmiah, hidup menyepi di kota seperti Kashgar, tapi dihormati di kalangan arkeolog dunia? Orang seperti ini sangatlah mungkin telah berafilisasi dengan suatu kelompok tertentu.

Tapi, aku yakin dia memiliki ‘sesuatu’. Karena rasa ingin tahuku yang besar –lebih tepatnya kepentingan– maka kuberanikan diri menemuinya. Yang pasti, ayahku tidak pernah mengindikasikan hal buruk tentang Jonas. Biasanya, bila ayahku tidak berkenan terhadap seseorang, dia akan berbicara dengan nada yang mengindikasikan hal itu. Tentang Jonas, ayahku bicara dengan nada biasa saja.

Ayahku pernah bercerita –di dalam mobil, sepulang dari pertemuan arkeolog di Jakarta itu– bahwa Jonas adalah arkeolog yang paling beruntung. Dia menemukan benda arkeologi yang sangat bernilai, yang sebelumnya tidak pernah diduga keberadaannya.

Selain bahtera nabi Nuh, ada satu lagi benda bersejarah yang pernah dicari seluruh arkeolog di dunia ini, yaitu talbut atau peti bertangkai yang digunakan nabi Musa untuk menyimpan sepuluh perintah Tuhan. Kedua benda itu sudah berhasil ditemukan dan keduanya sekarang menjadi milik pemerintah Israel. Memang, arkeolog negeri itu yang menemukan keduanya. Tapi, Jonas “berhasil” menemukan “benda” yang lebih dahsyat!

Dalam suatu ekskavasi di Kashgar, berkaitan dengan risetnya soal ‘Jalur Sutra’ yang dianggapnya belum tuntas, Jonas justru membuat kehebohan ketika menemukan sebuah peti tanah –bukan emas, perak, perunggu– yang di dalamnya bersemayam sesosok tubuh mirip manusia. Jonas mengatakan kepada para koleganya bahwa itu adalah malaikat Gabriel. Semula tidak ada yang percaya padanya. Setiap ditanya bagaimana bisa yakin kalau itu adalah malaikat? Apalagi bisa tahu itu adalah Gabriel? Bukankah malaikat ada banyak? Jonas hanya menjawa singkat, “Aku tahu.” Tentu saja, Jonas juga mempelajari berbagai kajian sejarah agama-agama langit, termasuk dari sudut pandang arkeologi.

Barangkali, karena peti tanah itu tidak bisa diangkat dari tempatnya, bahkan dengan crane yang paling kuat sekalipun, juga lantaran peti tanah itu tak bisa di-cuil sedikitpun, dengan bor bermata intan sekalipun, para arkeolog akhirnya mulai mempercayai keyakinan Jonas.

Arkeolog tua itu telah membangunkan malaikat yang paling “akrab” dengan manusia, karena sering menyampaikan wahyu Tuhan. Tidak ada penjelasan ilmiah yang benar-benar bisa dipercaya mengapa Gabriel memilih tidur di Bumi. Mengapa pula dia memilih Kashgar? Mengapa bukan di Karimabad, Hunza, yang lebih nyaman? Mengapa pula dia memakai peti tanah? Sampai hari ini, Jonas selalu duduk di dekat peti itu, siang maupun malam. Dia yakin Gabriel akan kembali. Dan Jonas sudah siap dengan sikap dan pertanyaan. Dia yakin akan lebih siap. Tidak seperti pertemuan pertama yang hanya berlangsung beberapa detik. Jonas hanya mendapat sebuah dorongan di dada kirinya, yang sampai sekarang meninggalkan bekas telapak tangan enam jari. Warnanya hitam seperti hangus dan tidak bisa dihilangkan. Sedetik kemudian, Gabriel menjadi seberkas cahaya dan menghilang dari pandangan. Pertemuan singkat itu, telah membuat Jonas merenung sampai hari ini. Dia selalu bertanya ke mana malaikat itu pergi, dan akankah dia kembali ke petinya. Pertanyaan yang belum terjawab.

Aku tentu bukan orang pertama yang mendatangi Jonas. Mungkin aku orang yang kesekian belas. Ya, hanya sekian belas, karena memang ‘peristiwa Jonas’ tidak pernah menjadi konsumsi publik. Itu adalah rahasia besar dunia. Pemerintah China menjaga ketat Jonas dan situs ditemukannya peti tanah itu, sekaligus membiarkan Jonas apa adanya. Mungkin, pemerintah China berharap bisa mendapat keuntungan dari peti itu, dan juga dari aktivitas Jonas, sebagaimana Israel mendapat keuntungan yang luar biasa dari talbut dan bahtera nabi Nuh. Israel tidak pernah kalah dalam perang semenjak memiliki dua benda tersebut.

Aku diterima Jonas dan dibiarkan otoritas setempat karena memang Jonas masih mengingat diriku. Dia bahkan menyebutku ‘flower from Jakarta’ ketika berjabat tangan. Rupanya dia ingat pertemuan kami bertahun lalu yang terjadi di Jakarta. Itu adalah perjalanan terakhir Jonas keluar dari Kashgar, setelah pertemuan dengan Gabriel. Kala itu, dia merasa perlu hadir di forum arkeolog dunia untuk mengungkapkan fakta dan analisis soal peti tanah yang ditemukannya.

Seketika itu juga aku sadar bahwa sapaan Jonas itu akan menimbulkan masalah. Otoritas setempat mengenaliku dari paspor Singapura sebagai Catherine Lee. Dan setiap ucapan Jonas pasti disadap oleh militer China. Cepat atau lambat, identitasku yang sesungguhnya sebagai putri Jonggol akan diketahui. Dan waktuku yang singkat di tempat Jonas kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sebelum aku lekas-lekas kembali ke Jonggol. Pasti akan ada pengejaran terhadap diriku setelah munculnya kalimat ‘flower from Jakarta’ itu. Kelompok yang memusuhi istana Jonggol tentu akan segera tahu keberadaanku.

  • **

Seminggu sebelum kuputuskan untuk menemui Jonas, aku secara tak sengaja melihat liputan televisi Pakistan tentang wabah nyamuk yang kebal pestisida dan obat pembasmi lainnya. Setiap orang yang digigit akan terkena penyakit batuk berdahak darah yang belum bisa terobati. Dan wabah itu terjadi di Jonggol, Indonesia! Aku menangis mengetahui hal itu. Tapi, tentu tangisku tidak kulakukan di depan Rajah, yang menemaniku menonton televisi. Rajah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berkali-kali berujar, “Ya Allah akbar, ya Allah akbar! Mengapa ada musibah seperti itu?!” Pria ini tidak tahu sama sekali bahwa prahara itu terjadi di RUMAH ku… “Singapura dekat dengan Indonesia. Bagaimana kalau wabah itu sampai ke negerimu yang mungil itu? Apakah Singapura bisa bertahan?” tanya Rajah dengan polos. Aku hanya diam dan berusaha tersenyum.

  • **

“Tuan Jonas, Anda tahu maksud kedatanganku ke sini?” ujarku. Aku sengaja mengawali dialog dengan bertanya seperti ini untuk mengukur kemampuannya. Kalau dia tak bisa menjawab dengan benar, aku akan segera kembali ke Karimabad, dan terus ke Islamabad untuk pulang ke Tanah Air. Buat apa aku berlama-lama dengan arkeolog tak berguna? Bukankah aku dikejar waktu dan dikejar kelompok jahat yang ingin menghancurkan hidupku? Bukankah Jonggol membutuhkan bantuan segera untuk mengatasi masalah wabah misterius? Lagipula, aku merasa kepalang basah. Identitasku sebentar lagi akan terungkap karena sapaan Jonas ‘flower from Jakarta’ tadi. Biarkan otoritas China yang merekam obrolanku dengan Jonas mengetahui identitasku. Toh, aku sudah siap dengan langkah taktisku selanjutnya.

“Hmm… ayahmu sedang dalam masalah, bukan?” ujarnya sambil menggaruk-garuk rambut gimbalnya. Dia pasti merasakan gatal di kepala dan sekujur tubuhnya, karena nyaris tidak pernah mandi. Dia yakin Gabriel akan kembali dan dia tidak mau melewatkan momen itu. Dia berada di dekat peti, siang-malam, dan tertidur di sampingnya.

Jonas melanjutkan, “Nyamuk-nyamuk itu bukan berasal dari mana pun. Hanya ada satu tempat di mana aku pernah menemukan nyamuk seperti itu…”

Aku berusaha tenang. Mengatur napas. Aku tak mau terlihat seperti orang panik dan terburu-buru. Ekspresi wajahku kubuat datar.

Akhirnya Jonas meneruskan sendiri kalimatnya. “Di Giza sampai hari ini masih ada nyamuk seperti itu. Tapi, akan mati kalau kena sinar matahari langsung. Mengapa yang di Jonggol tidak mati oleh matahari?”

Ah, tentu saja dia bingung soal daya tahan nyamuk ganas itu. Dia bukan ahli serangga. Namun, dia menyebut muasalnya dari Giza, sebuah piramid terbesar di Mesir. Ini sebuah informasi yang konkret.

“Mungkinkah nyamuk dari Giza berkembang dan beradaptasi dengan matahari langsung?” tanyaku. Ah, bodohnya aku. Mengapa aku bertanya seperti itu pada seorang arkeolog. Bukankah aku sendiri yang seorang entomologist (ahli serangga)? Ah, rupanya, pikiranku sudah terlalu lama berkutat di arkeologi dan mulai melupakan ilmu sarjanaku di IPB.

Jonas diam. Aku tahu dia mengaggapku keseleo lidah. Tapi, biarlah. Tiba-tiba dia bicara dengan nada yang lebih berat. “Nyamuk Giza hidup karena spirit kekhawatiran, bahkan mungkin kebencian. Para raja yang dimakamkan di Giza enggan berinteraksi penuh dengan pihak lain, apalagi berinteraksi secara tulus. Karena itulah, mereka merekayasa nyamuk yang akan membuat orang kapok mengutak-atik makam mereka. Dalam kematian pun mereka masih merasa sebagai raja.”

Tiba-tiba, secara spontan, aku berkata. “Kekhawatiran, kebencian, dan pamrih hanya bisa ditaklukkan dengan kemurnian dan ketulusan, bukan?”

Mata Jonas sedikit membelalak. Inilah kali pertama dia tidak terlihat mengantuk, lalu berkata, “Benar. Cobalah engkau cari mata air yang paling suci di lembah Hunza, juga buah yang paling suci di sana. Padukan keduanya. Mungkin bisa membuat nyamuk Giza enggan mendekat…”

Aku kemudian memegang tangan Jonas. Kuucapkan terima kasih atas penerimaannya terhadap diriku, juga idenya. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Dia tampak seperti anak lelaki kecil yang sedih karena akan ditinggal kerabatnya pulang. Aku memahami perasaannya. Tidak ada yang lebih melelahkan dalam hidup ini kecuali menanti. Dan Jonas menanti “seseorang” yang tak kunjung datang. Ketika ada tamu yang pergi pun, beban hati Jonas bertambah berat. Maafkan aku, Jonas. Aku harus kembali ke Jonggol. Semoga saja, sedikit kontakmu dengan Gabriel bertahun-tahun lalu, telah membuatmu punya linuwih, sehingga idemu manjur untuk mengalahkan nyamuk Giza yang kejam.

  • **

Sesampai di Karimabad aku tak bisa menyaksikan seutuhnya pesta perkawinan khas setempat yang mirip pesta kawin Betawi. Padahal, ini salah satu peristiwa budaya lokal yang ingin aku ikuti prosesinya. Aku hanya mendapat “ujung” prosesi pernikahan, yakni bunyi-bunyi petasan. Ini adalah penanda bahwa mempelai wanita telah sah menjadi istri seorang pria, dan diboyong ke rumah keluarga si pria. Bersama si mempelai wanita, ikut diboyong pula perabot rumah tangga, seperti televisi, kasur, ranjang, karpet, dan lemari. Wanita yang barang bawaannya banyak, akan dipandang tinggi oleh keluarga mempelai pria. Di halaman rumah si pria, bahkan digelar tari-tarian untuk menyambut wanita yang tengah berbahagia itu.

Aku membayangkan Rajah. Dia beberapa hari lalu mengajak aku menikah. Ide gila itu sekarang terasa menggelitik, manakala melihat senyum bahagia di wajah si mempelai wanita. Bagaimana pun, aku wanita normal yang ingin menikah, dan usiaku pun cukup dewasa. Namun, setelah dipikir-pikir, lamaran Rajah jadi tak masuk akal. Bagaimana aku dipandang oleh keluarganya, karena aku di sini sebatang kara dan tak punya perabot berondong petong seperti si mempelai wanita itu?

Lagipula, aku harus segera meninggalkan Hunza. Tak lama lagi, akan ada orang yang mencariku di sini. Aku tak mau masalahku merembet kepada Rajah yang polos (setidaknya sampai hari ini dia tampak polos dan jujur). Bukan cuma itu, aku juga belum yakin dengan perasaanku pada Rajah. Mungkin aku cuma perlu teman di negeri asing ini, sehingga aku mau dekat dengan dia. Ataukah Rajah juga cuma membual cinta kepadaku? Entahlah…

Berlanjut ke Cerita 10

Advertisements
  • Calendar

    • September 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Search