Asal Usul “Darah Yesus”

Judas mencium Yesus, namun Yesus tahu akan terjadi penghianatan

“Apa yang sebenarnya terjadi di private restaurant itu, Sang Raja?” tanya kepala pengawal.

“Kami melakukan perang pemikiran hingga akhirnya tidak dicapai kesepakatan. Mereka ingin agar kita bergabung dengan kelompoknya. Namun, karena aku menolak, mereka kemudian menggunakan cara lain. Dan apa yang mereka melakukan sebenarnya merupakan upaya pembunuhan mental yang sangat ampuh,” ujar Sang Raja.

“Tetapi, mengapa itu tidak berhasil?”

“Mereka melakukan kesalahan fatal yang tidak disadari. Darah yang disiramkan kepadaku sesungguhnya bukan darah Yesus sebagaimana yang disebutkan lelaki yang tampak paling tua. Darah Yesus tidak pernah tertumpah. Yesus dijaga dengan baik oleh Tuhan. Ketika tentara Romawi yang menjajah Yerusalem mencari seorang pengkotbah yang dianggap telah merongrong kewibawaan Romawi, ada seorang murid Yesus yang berkhianat dan memberi tahu lokasi Yesus dan murid-muridnya berada. Namun, tentara Romawi tidak mengenal wajah Yesus. Jangan pernah membayangkan suasana di masa itu seperti sekarang di mana telah ada televisi atau surat kabar yang dapat menampilkan wajah seorang tokoh sehingga dikenal luas. Saat itu adalah masa kuno. Bahkan, malam hari pun begitu gelap karena cahaya listrik tentu belum ada. Dalam penggerebekan oleh tentara Romawi, Yesus diselamatkan oleh Tuhan dengan ketidakhadirannya di tempat dia biasa mengajar murid-muridnya. Justru si murid pengkhianat, yang muncul dalam suasana penggerebekan itu, dikira Yesus oleh tentara Romawi, karena wajahnya memang mirip dengan Yesus. Murid-murid Yesus pun sempat menujuk dia ketika tentara Romawi bertanya yang mana Yesus. Ingat, pada masa itu, terlebih di malam hari, cahaya sangat minim.”

Para pengawal mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lalu Sang Raja melanjutkan, “Jadi, yang ditangkap oleh tentara Romawi adalah si murid pengkhianat. Namanya, Judas Iskariot. Malam itu dia disiksa luar biasa, sehingga wajahnya rusak. Dan keesokan harinya dia diseret ke bukit yang bernama Golgota untuk disalib, setelah sebelumnya siksaannya ditambah. Orang-orang yang melihat peristiwa penyaliban menganggap orang yang disalib adalah Yesus yang selama ini hanya mereka dengar namanya. Bahkan, ibunda Yesus, yakni ibu Maria dan teman wanita Yesus, yakni Maria Magdalena, mengira orang yang disalib adalah Yesus, meski kemudian mengetahui kebenarannya. Dan pada saat Judas sudah terpancang di kayu salib, ada seorang yang bersimpati dan menampung darah yang menetes dari tubuhnya. Orang itu mengira itu adalah darah Yesus, pengkhotbah yang menyebarkan ajaran cinta kasih.”

“Jadi, darah yang disiramkan kepada Sang Raja adalah darah Judas?”

“Benar. Tetapi, aku tak mengira darah pengkhianat itu pun memiliki efek yang membuatku kehilangan kesadaran. Aku menduga, darah yang sudah berusia ribuan tahun itu telah mengandung racun, selain kekuatan kahat dari pemiliknya.”

“Terlepas dari soal dampak darah Judas yang sudah kita atasi, saya ingin tahu bagaimana nasib Yesus sendiri?” tanya kepala pengawal.

“Yesus mengetahui peristiwa penggerebekan dan penyaliban itu, termasuk kesalahan anggapan orang tentang dirinya yang dikira sudah mati di kayu salib. Dan dia memutuskan untuk tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa dirinya masih hidup. Namun, hasratnya untuk menyebarkan ajarannya masih terlalu kuat, sehingga sekitar tiga hari setelah terjadinya penyaliban atas Judas, dia muncul di muka umatnya. Tak pelak, hal ini mengundang anggapan bahwa Yesus bangkit dari kematiannya. Terlebih lagi, sebelum Yesus muncul, mayat Judas hilang dari tempat penyimpanannya. Sampai hari ini, hilangnya mayat ini terus menjadi misteri dan dibicarakan di berbagai kajian akademis arkeologi dan sejarah teologi di seluruh dunia. Ada yang berteori bahwa simpatisan Yesus, yang mengira itu mayat Yesus, telah mencurinya dan menguburkannya secara layak di tempat yang dianggap lebih pantas.”

Sang Raja melanjutkan, “Mendengar kabar kebangkitan Yesus, tentara Romawi kembali melakukan pencarian. Tetapi, pada saat itu, Yesus telah memutuskan untuk meninggalkan Yerusalem dan menyebarkan ajaran cinta kasihnya di tempat lain. Hingga saat ini, para arkeolog dan ahli sejarah belum dapat memastikan ke mana perginya Yesus. Ada yang menduga dia pergi ke daerah yang sekarang disebut Syiria dan ada pula yang menganggap Yesus menuju selatan Prancis. Namun, ajaran Yesus di Yerusalem justru semakin berkembang, bahkan kemudian Romawi sendiri tertarik dengan ajaran itu. Sedangkan di tempat barunya, Yesus kembali mendapatkan murid-murid. Perlu kalian ketahui pula, kepada murid-muridnya itu, Yesus mengungkapkan bahwa dia melihat suatu visi di masa depan, yakni akan adanya seorang guru dari tanah Arab yang akan menyebarkan ajaran yang mirip dengan ajarannya, bahkan menyempurnakannya. Guru itu ternyata adalah Muhammad SAW. Itulah mengapa di dalam sejarah Islam dikatakan bahwa suatu ketika di masa muda Muhammad ada pendeta Kristen yang berpesan kepada teman-teman Muhamad agar melindungi Muhammad karena dia memiliki pertanda khusus, yakni di saat matahari terik, awan-awan bergerak di atasnya sehingga melindungnya dari panas. Pendeta itu berpandangan demikian berdasarkan riwayat yang diceritakan leluhurnya, sejak ratusan tahun sebelumnya.”

“Beruntung Sang Raja selamat dari kekejian darah Judas…” cetus seorang pengawal.

“Ya, benar. Mentalku kini sudah pulih sama sekali. Tetapi, yang aku tidak mengerti, mengapa para lelaki tua di private restaurant itu yakin kalau darah Yesus dapat melumpuhkan mentalku? Aku justru berpikir sebaliknya, jika yang mengenai tubuhku adalah darah Yesus, maka efeknya justru akan baik bagiku. Agaknya mereka berpikir bahwa spiritualitas yang aku anut adalah oposisi dari spiritualitas yang disebarkan Yesus. Sungguh pikiran yang keliru dan dangkal. Mereka tidak tahu bahwa spiritualitas Yesus seirama dengan spiritualitas Muhammad, yakni sama-sama menjunjung cinta kasih.”

Berlanjut ke Cerita 16

Advertisements

Cerita 12: Pertemuan di Bangkok

Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung

Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.

Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.

“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.

Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”

“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.

“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”

“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”

Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.

Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota ‘Figure of Eight’ duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.

“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.

“Mereka menunggu kita di luar rumahnya…” ujar seorang yang lain.

“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani…” komentar yang lain lagi.

“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita…” cetus seorang yang lainnya.

“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”

Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”

Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.

Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota ‘Figure of Eight’ pun kembali berkumpul.

“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.

“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.

“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.

“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.

Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.

Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV– untuk ikut campur.

Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.

‘Figure of Eight’ telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.

–berlanjut ke cerita 13–