Kesadaran Seorang Raja

Masjid tempat Raja Jonggol mendapat inspirasi

Melihat rajanya dilempari sesuatu dan tak sadarkan diri, kepala pengawal Jonggol yang memantau dari ruang CCTV sangat tersentak. Dalam sepersekian detik dia sempat terkesima, namun kemudian segera memerintahkan via komunikasi radio kepada enam anak buahnya yang sejak awal dimintanya menjaga di dekat private restaurant untuk mencegah siapa pun keluar dari ruangan itu. “Jangan biarkan mereka meninggalkan ruangan!” teriaknya kepada anak buahnya.

Kepala pengawal segera mengarahkan tubuhnya untuk keluar dari ruang CCTV guna membantu anak buahnya. Namun, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di tengkuknya. Sayangnya, pukulan itu terlalu lunak bagi seorang kepala pengawal kerajaan Jonggol. Dia pun menoleh dan melihat kepala keamanan hotel, seorang bule, yang sejak tadi menemaninya di ruang CCTV sudah siap mengayunkan satu pukulan lagi. Dengan gerakan menangkis ala silat, pukulan itu dapat dinetralisir. Dan kini giliran kepala pengawal Jonggol yang melayangkan sebuah tendangan maut ke ulu hati lawannya. “Hekkk!” terdengar suara dari mulut kepala keamanan hotel, lalu dia jatuh tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya.

Jawara kerajaan Jonggol ini segera meninggalkan ruangan dan berlari menuju lift untuk naik ke private restaurant. Setiba di lantai yang dituju, dia segera melihat perkelahian massal yang sedang terjadi antara enam anak buahnya dan enam lawan yang semuanya berseragam anggota keamanan hotel. Perkelahian semuanya berlangsung tanpa senjata apa pun, hanya tangan kosong. Agaknya, kedua belah pihak benar-benar menjaga agar konflik ini tidak tercium pihak mana pun. Masing-masing pihak hanya bertujuan melumpuhkan dan bukan membunuh. Namun, karena untuk urusan seperti ini para pengawal Jonggol sudah sangat terlatih, maka meski cukup sulit, enam lawan itu dapat dilumpuhkan.

Jawara Jonggol kemudian mendobrak pintu private restaurant. Tetapi, betapa terkejutnya dia ketika mendapati meja bundar telah nyaris kosong. Tak ada lagi ‘Figure of Eight’. Yang tertinggal di dekat meja hanya Sang Raja. Tak bisa lagi menahan emosinya, jawara Jonggol langsung memeluk Sang Raja yang terduduk lesu dengan tatapan mata kosong. Tangis pengawal berbadan kekar itu nyaris meledak, namun saat itu juga dia memerintahkan anak buahnya agar merintis jalan keluar dari Mandarin hotel dan membawa Sang Raja ke Conrad hotel. “Pasti ada pintu keluar rahasia di ruangan ini sehingga kalian bisa lolos. Awas! Kami akan membalas apa yang telah kalian lakukan! Sampai kapan pun, kerajaan Jonggol tidak bisa menerima perlakuaan ini!” geram sang jawara.

Di kamar khusus di Conrad hotel, jawara Jonggol membaringkan rajanya di tempat tidur. Sesungguhnya, sang jawara tidak tahu pasti apakah yang dilakukannya sudah benar atau tidak. Yang diikutinya hanyalah perintah rajanya agar tidak memberitahukan kepada siapa pun segala yang terjadi di Bangkok, termasuk kepada permasuri di Jonggol. Dia hanya duduk di samping tempat tidur, sambil memegang tangan tuannya yang masih menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Perlahan air mata meleleh di pipi sang jawara. Dia teringat peristiwa belasan tahun lalu, ketika pada suatu malam bertemu dengan seorang lelaki bertubuh sedang di kegelapan kawasan Tanah Abang. Dia mengeluarkan pisau lipat dan mengancam lelaki itu agar memberinya uang. Saat itu, dia begitu pening dengan rengekan anaknya yang kehabisan susu, serta makian istrinya yang selalu mencela pekerjaannya sebagai preman. Tanpa diduganya, lelaki itu memberinya banyak uang, lebih banyak dari yang dibayangkannya bila menodong seseorang. Bahkan, lelaki itu mengajaknya duduk di tepi jalan dan mengatakan dapat membantunya lebih dari sekadar uang, bila bersedia menjadi temannya. Tentu saja, si preman menyambut ajakan persahabatan itu, meski awalnya sempat khawatir kalau-kalau lelaki itu adalah polisi. Dan peristiwa itu adalah satu babak hidupnya yang paling sering dikenangnya. Si preman yang bertubuh tinggi besar dengan kulit kehitaman dan rambut keriting, namun wajahnya tampan, kini tengah menitikkan air mata menatap wajah si lelaki yang terbaring dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba, di pikirannya tercetus suatu ide. Dia segera mengambil Al Qur’an dan mulai membaca surat Al Ikhlas, surat yang disukai Sang Raja, berulang-ulang. Selama sekitar satu jam, dia melakukan itu. Katakanlah bahwa Allah itu Mahaesa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Allah tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.

Tiba-tiba Sang Raja terbatuk-batuk. Setelah itu matanya terpejam, tak lagi terbuka dengan tatapan kosong. Kali ini, ia seperti sedang tertidur. Melihat hal ini, jawara Jonggol merasakan hadirnya harapan. Dia pun kembali membuka Al Qur’an dan membaca surat Al Baqarah ayat 255 atau yang lebih dikenal dengan ‘ayat kursi’.

Setelah sekitar dua jam tertidur, Sang Raja terbangun. Di dekat tempat tidur, ketujuh pengawalnya berdiri mengitarinya. Sang Raja tersenyum. Seluruh pengawal pun bersorak dan menguacapkan ‘alhamdulillah’.

“Aku mendengar surat-surat yang engkau bacakan, Pengawalku,” ujar Sang Raja, “Namun, saat itu aku tidak dapat menguasai diriku. Seluruh tubuhku tak dapat kugerakkan. Bahkan, untuk berbicara atau memejamkan mata pun aku tak sanggup. Sampai kemudian aku melihat gambaran anak kecil yang pernah aku temui di masjid Al Aqsa. Anak itu mengajakku ke suatu bagian di masjid itu dan menyuruhku menyentuh tembok yang ditunjukknya. Setelah itu, aku mulai bisa merasakan lagi tubuhku. Dan setelah itu aku tertidur.”

Berlanjut ke cerita 15

Cerita 12: Pertemuan di Bangkok

Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung

Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.

Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.

“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.

Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”

“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.

“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”

“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”

Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.

Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota ‘Figure of Eight’ duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.

“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.

“Mereka menunggu kita di luar rumahnya…” ujar seorang yang lain.

“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani…” komentar yang lain lagi.

“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita…” cetus seorang yang lainnya.

“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”

Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”

Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.

Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota ‘Figure of Eight’ pun kembali berkumpul.

“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.

“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.

“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.

“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.

Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.

Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV– untuk ikut campur.

Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.

‘Figure of Eight’ telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.

–berlanjut ke cerita 13–

  • Calendar

    • July 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search