Pembalasan dari Raja Jonggol

The Tower Kemayoran

Tiga hari setelah peristiwa di private restaurant di hotel Mandarin Oriental Bangkok, Sang Raja mendapat sepucuk surat yang isinya meminta agar dirinya menemui seseorang di sebuah private restaurant di The Tower Kemayoran, salah satu gedung tertinggi di dunia yang dibangun pada 2014-2018. Artinya, Sang Raja dan tujuh pengawalnya harus kembali ke Tanah Air. Harap dengan senang hati memenuhi undangan ini. Demikian kalimat di akhir surat yang tanpa disertai identitas pengirim.

“Mereka mengundang kita lagi. Aku tak tahu apa yang kali ini mereka rencanakan. Tetapi, satu hal yang pasti, mereka percaya bahwa aku telah takluk. Aku menduga, mereka akan mulai mengendalikan diriku,” ujar Sang Raja.

“Apakah kita akan memenuhi undangan ini?” tanya kepala pengawal.

Raja terdiam. Lalu dia mulai berjalan ke sebuah meja di mana pusaka-pusaka Tanah Air diletakkan. Dia pun memegang benda-benda itu satu per satu.

“Mereka mengira telah menang, padahal sama sekali belum. Pertempuran yang sesungguhnya belumlah dimulai Ya, kita akan menemui mereka. Sudah saatnya untuk menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya!” tutur Sang Raja.

***

Lagi-lagi ‘Figure of Eight’ duduk mengitari sebuah meja bundar. Apakah private restaurant ini, atau bahkan menara kebanggaan Indonesia ini, juga sudah dikuasai kelompok pria bule tua yang berjumlah delapan orang? Hmm, yang jelas, Sang Raja tidak mau kecolongan lagi. Dipasanglah sebuah detektor detak jantung di cincin kirinya, juga sebuah detektor gerak bola mata di jam tangannya. Kedua alat itu akan memberi peringatan kepada Sang Raja, berupa getaran, bila degup jantung orang-orang di dekatnya bertambah cepat atau bola matanya bergerak liar. Itu adalah tanda-tanda seseorang akan menyerang. Dengan demikian, Sang Raja akan siap melakukan antisipasi.

“Selamat datang, Teman,” Mr. Pelican menyapa Sang Raja yang baru saja mendekati meja bundar. Sama seperti pertemuan pertama, seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri menyambut tamunya.

“Terima kasih dan selamat siang,” jawab Sang Raja.

“Engkau kini adalah sahabat kami. Dan kami merasa senang mendapat teman seperti dirimu,” ujar Mr. Pelican yang kali ini memimpin rekan-rekannya, sedangkan Tuan Bangau lebih banyak diam dengan sikap berwibawanya.

“Aku juga senang mengenal kalian. Tetapi, untuk apa aku diundang ke sini?” ujar Sang Raja.

“Kita akan mulai melakukan beberapa pekerjaan di Indonesia. Dan karena engkau adalah tokoh di negeri ini, maka kami akan meminta pendapatmu,” jawab Mr. Pelican.

“Tentang apa?”

“Tentang bagaimana agar kita memiliki sahabat yang menjadi presiden di negeri ini. Maksud saya, tentang bagaimana membantumu agar dapat menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden.”

“Bukankah teman kita sudah banyak yang menjadi tokoh penting di negeri ini, misalnya menjadi menteri atau pimpinan perusaaan besar nasional?”

“Memang benar. Tetapi, kami memerlukan teman seorang presiden di sini, sebagaimana kami memilikinya di banyak negara lain.”

“Bagaimana cara kalian melakukan itu?”

“Tentu dengan cara yang terbaik. Kita akan mengikuti pola yang ada sekarang, sehingga memiliki legitimasi yang kuat. Tetapi, kami akan melakukan lobby internasional agar dirimu memiliki citra yang kuat di mata dunia. Bukankah di dalam negeri engkau akan mudah mendapat dukungan?”

Raja terdiam sesaat. Menghela napas pelan. Lalu berkata dengan mantap, “Benar. Tetapi, apakah kalian sudah sepakat dengan prinsip spiritualitas yang kami junjung tinggi?”

Mr. Pelican tersentak. Orang-orang lain di meja bundar pun tak kalah terkejut.
“Maksudmu?” tukas Mr. Pelican.

“Maksudku, aku tidak dapat memimpin negeri ini hanya dengan rasionalitas semata. Kami memiliki spritualitas yang tidak dapat kami abaikan begitu saja.”

Serempak punggung anggota ‘Figure of Eight’ terlepas dari sandaran kursinya. Mereka merasakan ada yang kurang beres. “Mengapa darah ini gagal? Bukankah terhadap orang lain selalu berhasil? Apakah waktu itu kau sudah membaca kertasmu dengan benar?” cerocos Tuang Bangau diarahkan kepada Mr. Pelican.

Belum sempat Mr. Pelican menjawab, Tuan Bangau sudah mengeluarkan poci perak dari sakunya, membuka tutupnya, lalu mengguncang-guncangkannya, dan siap untuk menyiramkan isinya ke arah Sang Raja.

Bersamaan dengan tanda getar pada cincin dan jam tangannya, Sang Raja memasang topeng Gadjah Mada di wajahnya. Sedangkan tangan kirinya telah memegang gagang Kujang Prabu Siliwangi, dan tangan kanannya menggenggam tongkat komando patih Gadjah Mada. Sepersekian detik kemudian, darah kental melompat di udara dan mendarat di topeng yang menutupi wajah Sang Raja. Timbul suara desis seperti ular, lalu asap hitam tipis mengepul dari permukaan topeng. Topeng yang selama berpuluh tahun diperebutkan klaim lokasi keberadaannya oleh pemda Bali dan Jawa Timur ini tampak mewakili ketenangan pemakainya. Dan aura dari benda bersejarah itu, serta bunyi desis yang ditambah asap hitam di permukaannya, membuat para lelaki kulit putih itu terkesima.

Para lelaki tua bule masih duduk di tempatnya masing-masing. Wajah mereka seperti menanti sesuatu terjadi. Sejurus kemudian, di tengah kevakuman itu, Sang Raja menarik tongkat dari pinggang kanannya dan menunjuk satu per satu wajah ‘Figure of Eight’. Sesaat setelah itu, mereka tampak kaku seperti patung.

Sayangnya, belum sempat giliran Mr. Pelican mendapat hipnotis, lelaki itu sudah meninggalkan ruangan dengan begitu cepat. Sang Raja memutuskan untuk membiarkan hal itu dengan asumsi para pengawalnya akan mengejar dan menangkapnya.

“Darah yang menempel di topeng ini adalah simbol kejahatan yang paling besar dalam sejarah manusia. Sebuah pengkhianatan terhadap cinta dan kasih sayang, meskipun kalian tidak menyadarinya. Dan kalian telah memanfaatkannya untuk tujuan yang egois. Mungkin ada niat baik bagi kemanusiaan di dalam pikiran kalian, tetapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya adalah juga sebuah kejahatan. Itulah mengapa kita memerlukan spiritualitas agar tidak tersesat di dalam tujuan yang menghalalkan cara. Itulah kompromi yang sempat kutanyakan pada kalian sebelumnya. Tetapi, kalian enggan berkompromi. Sekarang, aku minta, atas nama kebajikan yang diwariskan Tuhan ke dalam batin setiap manusia, jadilah kalian manusia yang menghayati rasa dan hati. Semua ucapanku akan selalu kalian ingat dan akan mengubah diri kalian…,” ujar Sang Raja sambil mengitari meja bundar dan menempelkan Kujang ke kepala setiap anggota ‘Figure of Eight’.

Berlanjut ke cerita 17

Advertisements

Cerita 12: Pertemuan di Bangkok

Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung

Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.

Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.

“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.

Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”

“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.

“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”

“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”

Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.

Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota ‘Figure of Eight’ duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.

“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.

“Mereka menunggu kita di luar rumahnya…” ujar seorang yang lain.

“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani…” komentar yang lain lagi.

“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita…” cetus seorang yang lainnya.

“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”

Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”

Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.

Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota ‘Figure of Eight’ pun kembali berkumpul.

“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.

“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.

“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.

“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.

Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.

Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV– untuk ikut campur.

Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.

‘Figure of Eight’ telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.

–berlanjut ke cerita 13–

Teknologi Sudah Canggih, Mengapa Bermain Senjata Kuno?

Kujang Siliwangi. Sanggup patahkan baja. Orang bule takluk?

Kujang Siliwangi. Sanggup patahkan baja. Orang bule takluk?

Ruang peraduan ini sangat indah. Seluruh dindingnya dilapisi kain warna putih dan merah jambu yang disinari lampu di baliknya. Sedangkan langit-langitnya merupakan layar plasma raksasa tempat bermainnya ribuan cahaya berwarna-warni. Juga layar bagi televisi dan film. Tidak ada tempat tidur di ruangan itu. Sebab, seluruh lantainya adalah matras empuk dengan bahan lembut. Ini benar-benar sebuah ruangan tanpa furniture atau perlengkapan lain. Ini adalah ruang tidur yang sempurna. Di atas matras yang lebar itu, sepasang suami istri berbaring berdampingan.

“Ayah, di atas meja besar di depan ruang ini ada beberapa benda kuno. Apakah Ayah ingin menyampaikan sesuatu kepada Mama berkaitan dengan benda-benda itu?” Permaisuri memulai percakapan.

“Iya, Mama. Benda-benda itu berkaitan dengan masa depan kita. Ayah berharap, dengan melihat benda-benda itu, pikiran Mama akan tergiring ke arah yang sebelumnya tidak terduga. Sebuah alam pikiran yang paralel dengan rasionalitas yang kita gunakan selama ini,” ujar Sang Raja.

“Maksud Ayah, agar Mama melirik dunia spiritualitas kuno yang saat ini cenderung dilupakan orang?”

“Tidak persis seperti itu, Mama. Bukankah Mama selama ini juga mempraktekkan spritualitas kuno dengan shalat lima waktu? Ayah hanya ingin Mama mengetahui makna dari pengumpulan benda-benda itu. Sesuatu yang secara langsung akan berkaitan dengan Mama…”

“Naluri Mama mengatakan bahwa akan terjadi hal besar…”

“Benar Mama. Lawan-lawan kita tengah bergerak dengan kekuatan besar untuk menaklukkan kita. Mereka datang dengan senjata yang diduga sangat merusak. Tetapi, ini sebatas hipotesa, karena kita belum mengetahui persis senjata itu akan bekerja seperti apa. Namun, kepala keamanan mengatakan bahwa senjata itu berasal dari dunia spiritualitas kuno…”

“Apakah mereka sudah bosan menyerang kita dengan senjata modern?”

“Benar Mama. Mereka bosan karena tidak pernah berhasil dengan senjata modern. Selain itu, kali ini mereka tidak lagi mengirim orang suruhan, melainkan melakukannya dengan tangan mereka sendiri. Senjata modern bisa menimbulkan ekses yang tidak mereka inginkan, serta dapat mengundang perhatian pihak lain, bahkan kepolisian atau militer. Mereka jelas menghindari kemungkinan seperti ini, mengingat kerahasiaan mereka, serta pihak-pihak lain di belakangnya, yang begitu dijaga.”

“Mereka akan membunuh kita dengan tangan mereka sendiri… Sungguh berat beban mereka…”

“Mereka tidak akan membunuh semudah itu, Mama…”

“Benarkah? Mengapa?”

“Sebab, putri kita pergi tanpa diketahui keberadaannya, termasuk oleh mereka. Membunuh kita tidak akan menyelesaikan persoalan di mata mereka, karena putri kita masih hidup dan tetap dapat meneruskan kejayaan istana kita. Lain halnya bila kita dibunuh dan putri kita dikuasai mereka, maka istana ini akan dijadikan alat yang sangat efektif untuk memperluas pengaruh mereka, terlebih lagi di negara kita pengaruh istana ini cukup kuat…”

“Oh, Putriku… engkau memang sangat mulia…”

“Ya, Mama… Anak kita berpikir dan mengambil sikap yang sangat tepat…”

“Jadi, yang akan mereka lakukan sekarang adalah tidak membunuh kita, lalu apa?”

“Mereka ingin mengendalikan kita. Itulah target mereka saat ini. Bahkan, mungkin, kita akan dijadikan bagian dari mereka, karena lebih menguntungkan bila kita ada di pihak mereka…”

“Tapi, Ayah, mengapa tidak kita saja yang kali ini bersikap agresif dan menyerang mereka?”

“Itulah yang akan kita lakukan sekarang, Mama. Kita akan menghadang mereka di tempat lain, bukan di sini. Kita serang mereka di Bangkok…”

“Lantas, benda-benda kuno itu, apa kaitannya dengan semua ini?”

“Itu semua adalah persiapan kalau-kalau prediksi kita tentang senjata dari dunia spiritualitas kuno benar-benar mereka gunakan. Kita memiliki senjata-senjata yang sangat hebat dari dunia spiritualitas nenek moyang kita sendiri…”

“Sungguh ironis ya, Ayah… Ketika kita sudah sampai kepada pencapaian teknologi yang sangat tinggi, bahkan bisa memodifikasi cuaca, ternyata kita akan bertempur dengan senjata-senjata kuno…”

“Benar, Mama. Memang ironis. Tetapi, demikianlah pertempuran yang akan kita hadapi. Sebuah pertempuran yang bukan ditujukan untuk membunuh, tetapi untuk menaklukkan. Senjata-senjata modern tidak bisa digunakan untuk menaklukkan pikiran dan jiwa kita. Itulah inti soalnya. Mereka benar-benar ingin menaklukkan kita dengan tuntas, yakni menjadikan jiwa dan pikiran kita seperti mereka…”

“Apakah ini pertempuran yang akan kita menangkan, Ayah?”

“Sulit untuk menjawabnya, Mama… Tetapi, kita harus yakin pada kebenaran yang kita miliki…”

***

Sambil menanti kantuk datang, Raja Jonggol kemudian mengisahkan riwayat beberapa senjata kuno. “Topeng Gajah Mada merupakan perwujudan jiwa ksatria Majapahit yang memegang teguh prinsip kebenaran. Dengan topeng di wajah, seorang ksatria tidak mudah terkejut, takut, atau gembira sehingga terlena. Selain itu, topeng itu mengisyaratkan kepercayaan yang tinggi yang dapat diembankan kepada si pemakai topeng. Raja Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit suka berbicara kepada Gajah Mada yang memakai topeng, sebab Hayam Wuruk merasa tidak berbicara kepada seseorang, melainkan kepada suatu institusi kepercayaan. Itulah makna filosofis topeng Gajah Mada. Sedangkan kemampuan fisik topeng ini sudah teruji di berbagai peperangan dan penaklukkan wilayah dari Sabang sampai Irian Jaya, serta dari selatan Jawa hingga kepulauan Filipina, termasuk Malaysia dan Thailand. Bahan bajanya lebih kuat ketimbang pedang samurai pada masanya. Bahan baku bajanya tidak dibentuk dengan peleburan, melainkan dengan pemanasan dan tempaan yang berlapis-lapis, sehingga topeng itu seperti pemadatan lempengan besar baja menjadi hanya sebesar wajah manusia.

Dengan topeng inilah, Gajah Mada tidak pernah benar-benar dikenali wajahnya. Ia pun menjadi figur sejarah yang misterius, semisterius asal usulnya, juga semisterius makamnya yang tidak pernah diketahui keberadaannya. Di masa kini, berbagai wilayah di Indonesia mengklaim menjadi tempat makan patih hebat itu. Misalnya, provinsi Bali, provinsi Jawa Timur, provinsi Jawa Tengah, bahkan provinsi Lampung pun ikut-ikutan mengklaim menjadi tempat peristirahatan terakhir Gajah Mada.

Sayangnya, klaim-klaim itu tidak didukung bukti arkeologis yang kuat. Justru bukti-bukti arkeologis yang banyak ditemukan di situs arkeologi Trowulan yang dianggap sebagai pusat kerajaan Majapahit, sempat disalahgunakan untuk menggambarkan figur gajah mada. Seperti kita ketahui, sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, wajah pria tangguh itu digambarkan oleh pelukis Henk Ngantung, kelahiran Bogor tahun 1921, dengan imajinasinya sendiri dan hasilnya dimuat di berbagai buku pelajaran sekolah. Imajinasi itu berawal dari penemuan sebuah patung di situs Trowulan yang dispekulasikan sebagai penggambaran sosok Gajah Mada. Padahal, patung itu belum tentu menggambarkan sang mahapatih. Namun, karena saat itu adalah masa awal kemerdekaan dan Indonesia memerlukan figur yang dapat membangkitkan rasa nasionalisme, maka sosok Gajah Mada harus dapat dilihat wujudnya, bukan hanya didengar namanya. Lukisan Henk Ngantung pun diterima sebagai penggambaran resmi patih Gajah Mada.

Bagaimana wajah yang sebenarnya dari sang pengucap Sumpah Palapa itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi, setidaknya, dimensi dan bentuk topengnya dapat menggambarkan pemiliknya. Topeng ini tidak terlalu besar. Artinya, Gajah Mada memiliki tubuh berukuran rata-rata. Namun, yang jelas, dari warna perak topeng itu dan profilnya yang tampan, Gajah Mada bukanlah orang yang menyeramkan, melainkan orang yang penuh keagungan,” papar Raja Jonggol panjang lebar.

“Bagaimana kita berhasil mendapatkan topeng itu?” tanya Sang Permaisuri.

“Tentu melalui riset betahun-tahun yang telah aku lakukan sejak pertama kali menekuni arkeologi. Belakangan para ilmuwan kita membantu dengan teknologi termutakhir. Dan ternyata topeng itu tidak pernah terkubur di dalam tanah sebagaimana prediksi yang selama ini ada. Topeng itu disimpan dengan baik oleh sekelompok pewaris pusaka Majapahit yang sangat merahasiakan diri mereka. Dan ketika menyadari bahwa keberadaannya telah diketahui oleh Istana Jonggol, mereka menghubungiku dan kami bertemu. Setelah menyepakati beberapa hal, seperti menjaga kerahasiaan mereka, kami pun bersahabat. Bahkan, topeng Gajah Mada kemudian dipinjamkan kepada kita, setelah mereka mengetahui duduk persoalan yang akan kita hadapi dengan lawan-lawan kita. Demikian pula dengan tongkat komando mahapatih Gajah Mada, itu pun kita meminjamnya dari mereka,” ujar Raja Jonggol.

“Bagaimana dengan Kujang Prabu Siliwangi?” tanya Sang Permaisuri yang semakin ingin tahu.

Macan Putih kerap jadi simbol kesaktian Prabu Siliwangi

Macan Putih kerap jadi simbol kesaktian Prabu Siliwangi

“Kujang merupakan senjata yang dipakai raja-raja Pajajaran secara turun temurun dalam berbagai peperangan. Dibuat pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi, yakni di masa jayanya kerajaan Pajajaran, dalam kurun 1.474-1.513, senjata yang berbentuk khas ini diwariskan kepada raja-raja selanjutnya. Awalnya merupakan benda pusaka yang lebih ditekankan makna filosofisnya, yakni menyimbolkan kepemimpinan yang kuat dan bijaksana, namun kemudian senjata itu banyak digunakan dalam pertempuran. Sebab, setelah Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja mangkat, raja penggantinya mulai banyak menghadapi serangan-serangan pasukan Islam. Sebagai contoh, Prabu Surawisesa yang memerintah dalam kurun 1.513-1.527 atau sekitar 14 tahun, menghadapi peperangan tak kurang dari 15 kali. Keadaan perang ini juga dialami oleh penggantinya, Prabu Ratu Dewata (1.527-1.535). Bahkan, penggantinya, Sang Ratu Saksi yang memerintah dalam kurun 1.535-1.543, meninggal di medan perang. Raja-raja selanjutnya, yakni Prabu Ratu Carita dan Prabu Seda pun tak luput dari peperangan dengan Islam. Dan pada masa Prabu Seda inilah, sekitar tahun 1.559-1.579, kerajaan Pajajaran akhirnya runtuh dan digantikan oleh kerajaan Islam dari Banten…” papar Raja Jonggol.

“Apakah kujangnya direbut pasukan Islam?” tanya Sang Permaisuri.

“Itulah Mama, dalam berbagai situasi, biasanya ada orang-orang yang dapat melakukan hal-hal yang berjasa. Ketika keraton Pajajaran yang megah dengan 330 tiang yang masing-masing diameternya sekitar 1 meter dihancurkan, ada empat kerabat istana yang sempat menyelamatkan beberapa benda pusaka, seperti mahkota Prabu Siliwangi yang terbuat dari emas, serta kujang pusaka itu. Keempat orang itu adalah Sanghyang Hawu atau Embah Jaya Perkosa, Batara Pancar Buana atau Terong Peot, Sanghyang Kondang Hapa, dan Batara Dipati Wiradijaya atau Nanganan. Benda-benda itu kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di kerajaan Sumedanglarang. Sampai kini, berbagai pusaka tersebut masih tersimpan di museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Dari keturunan raja Sumedang inilah kita mendapatkan kujang sakti yang akan kita gunakan untuk menghadapi lawan-lawan kita,” tutur Raja Jonggol.

Berlanjut ke Cerita 11a