Kesadaran Seorang Raja

Masjid tempat Raja Jonggol mendapat inspirasi

Melihat rajanya dilempari sesuatu dan tak sadarkan diri, kepala pengawal Jonggol yang memantau dari ruang CCTV sangat tersentak. Dalam sepersekian detik dia sempat terkesima, namun kemudian segera memerintahkan via komunikasi radio kepada enam anak buahnya yang sejak awal dimintanya menjaga di dekat private restaurant untuk mencegah siapa pun keluar dari ruangan itu. “Jangan biarkan mereka meninggalkan ruangan!” teriaknya kepada anak buahnya.

Kepala pengawal segera mengarahkan tubuhnya untuk keluar dari ruang CCTV guna membantu anak buahnya. Namun, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di tengkuknya. Sayangnya, pukulan itu terlalu lunak bagi seorang kepala pengawal kerajaan Jonggol. Dia pun menoleh dan melihat kepala keamanan hotel, seorang bule, yang sejak tadi menemaninya di ruang CCTV sudah siap mengayunkan satu pukulan lagi. Dengan gerakan menangkis ala silat, pukulan itu dapat dinetralisir. Dan kini giliran kepala pengawal Jonggol yang melayangkan sebuah tendangan maut ke ulu hati lawannya. “Hekkk!” terdengar suara dari mulut kepala keamanan hotel, lalu dia jatuh tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya.

Jawara kerajaan Jonggol ini segera meninggalkan ruangan dan berlari menuju lift untuk naik ke private restaurant. Setiba di lantai yang dituju, dia segera melihat perkelahian massal yang sedang terjadi antara enam anak buahnya dan enam lawan yang semuanya berseragam anggota keamanan hotel. Perkelahian semuanya berlangsung tanpa senjata apa pun, hanya tangan kosong. Agaknya, kedua belah pihak benar-benar menjaga agar konflik ini tidak tercium pihak mana pun. Masing-masing pihak hanya bertujuan melumpuhkan dan bukan membunuh. Namun, karena untuk urusan seperti ini para pengawal Jonggol sudah sangat terlatih, maka meski cukup sulit, enam lawan itu dapat dilumpuhkan.

Jawara Jonggol kemudian mendobrak pintu private restaurant. Tetapi, betapa terkejutnya dia ketika mendapati meja bundar telah nyaris kosong. Tak ada lagi ‘Figure of Eight’. Yang tertinggal di dekat meja hanya Sang Raja. Tak bisa lagi menahan emosinya, jawara Jonggol langsung memeluk Sang Raja yang terduduk lesu dengan tatapan mata kosong. Tangis pengawal berbadan kekar itu nyaris meledak, namun saat itu juga dia memerintahkan anak buahnya agar merintis jalan keluar dari Mandarin hotel dan membawa Sang Raja ke Conrad hotel. “Pasti ada pintu keluar rahasia di ruangan ini sehingga kalian bisa lolos. Awas! Kami akan membalas apa yang telah kalian lakukan! Sampai kapan pun, kerajaan Jonggol tidak bisa menerima perlakuaan ini!” geram sang jawara.

Di kamar khusus di Conrad hotel, jawara Jonggol membaringkan rajanya di tempat tidur. Sesungguhnya, sang jawara tidak tahu pasti apakah yang dilakukannya sudah benar atau tidak. Yang diikutinya hanyalah perintah rajanya agar tidak memberitahukan kepada siapa pun segala yang terjadi di Bangkok, termasuk kepada permasuri di Jonggol. Dia hanya duduk di samping tempat tidur, sambil memegang tangan tuannya yang masih menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Perlahan air mata meleleh di pipi sang jawara. Dia teringat peristiwa belasan tahun lalu, ketika pada suatu malam bertemu dengan seorang lelaki bertubuh sedang di kegelapan kawasan Tanah Abang. Dia mengeluarkan pisau lipat dan mengancam lelaki itu agar memberinya uang. Saat itu, dia begitu pening dengan rengekan anaknya yang kehabisan susu, serta makian istrinya yang selalu mencela pekerjaannya sebagai preman. Tanpa diduganya, lelaki itu memberinya banyak uang, lebih banyak dari yang dibayangkannya bila menodong seseorang. Bahkan, lelaki itu mengajaknya duduk di tepi jalan dan mengatakan dapat membantunya lebih dari sekadar uang, bila bersedia menjadi temannya. Tentu saja, si preman menyambut ajakan persahabatan itu, meski awalnya sempat khawatir kalau-kalau lelaki itu adalah polisi. Dan peristiwa itu adalah satu babak hidupnya yang paling sering dikenangnya. Si preman yang bertubuh tinggi besar dengan kulit kehitaman dan rambut keriting, namun wajahnya tampan, kini tengah menitikkan air mata menatap wajah si lelaki yang terbaring dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba, di pikirannya tercetus suatu ide. Dia segera mengambil Al Qur’an dan mulai membaca surat Al Ikhlas, surat yang disukai Sang Raja, berulang-ulang. Selama sekitar satu jam, dia melakukan itu. Katakanlah bahwa Allah itu Mahaesa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Allah tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.

Tiba-tiba Sang Raja terbatuk-batuk. Setelah itu matanya terpejam, tak lagi terbuka dengan tatapan kosong. Kali ini, ia seperti sedang tertidur. Melihat hal ini, jawara Jonggol merasakan hadirnya harapan. Dia pun kembali membuka Al Qur’an dan membaca surat Al Baqarah ayat 255 atau yang lebih dikenal dengan ‘ayat kursi’.

Setelah sekitar dua jam tertidur, Sang Raja terbangun. Di dekat tempat tidur, ketujuh pengawalnya berdiri mengitarinya. Sang Raja tersenyum. Seluruh pengawal pun bersorak dan menguacapkan ‘alhamdulillah’.

“Aku mendengar surat-surat yang engkau bacakan, Pengawalku,” ujar Sang Raja, “Namun, saat itu aku tidak dapat menguasai diriku. Seluruh tubuhku tak dapat kugerakkan. Bahkan, untuk berbicara atau memejamkan mata pun aku tak sanggup. Sampai kemudian aku melihat gambaran anak kecil yang pernah aku temui di masjid Al Aqsa. Anak itu mengajakku ke suatu bagian di masjid itu dan menyuruhku menyentuh tembok yang ditunjukknya. Setelah itu, aku mulai bisa merasakan lagi tubuhku. Dan setelah itu aku tertidur.”

Berlanjut ke cerita 15

Advertisements

Cerita 13 Pertempuran

Poci darah Yesus (ilustrasi) yang disiramkan ke Raja Jonggol

Seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri ketika Raja Jonggol telah mendekati meja. Tuang Bangau lantas mempersilakan Sang Raja duduk. Kini meja telah dikelilingi sembilan orang yang semuanya duduk dengan sopan, meski aura ketegangan tak bisa disembunyikan.

“Anda adalah pemimpin yang penuh keberanian…” ujar Tuan Bangau. Ucapan ini disampaikan dengan nada yang mengisyaratkan bahwa Sang Raja berada dalam kondisi terancam.

“Kalian semua adalah orang-orang yang lebih berani…” jawab Sang Raja dengan nada yang tak kalah berbobot. Kalimat ini pun membuat ‘Figure of Eight’ cukup merasa bahwa diri mereka mendapat lawan sepadan.

“Kami minta Anda untuk bekerja sama dengan kami, membangun tatanan dunia yang lebih baik,” ujar Tuan Bangau.

“Apakah kita telah memiliki pandangan yang sama tentang tatanan dunia yang lebih baik itu?” jawab Sang Raja.

“Marilah kita bicarakan masalah itu,” cetus Tuan Bangau. Dalam hal ini, dia mendapat “angin” untuk menggiring pikiran Sang Raja pada ide-ide kelompoknya. Sang Raja menyadari hal ini, namun membiarkannya.

“Silakan…” ujar Sang Raja.

“Baiklah. Kita, manusia, adalah makluk yang mandiri. Kita diciptakan dengan kemampuan untuk mengendalikan diri kita sendiri. Karena itu, kita berhak menentukan tatanan kehidupan secara mandiri, tanpa campur tangan siapa pun. Anda melihat, campur tangan pihak luar telah melahirkan peperangan dan kesengsaraan pada peradaban manusia sepanjang sejarahnya. Agama-agama dari makhluk yang bernama malaikat telah memisah-misahkan manusia, bahkan saling bermusuhan dan membunuh…”

“Bagaimana dengan agama-agama buatan manusian sendiri? Bukankah juga menimbulkan permusuhan di antara manusia?”

Tuan Bangau menjawab, “Yang kami persoalkan sesungguhnya bukan agamanya, melainkan spriritualitasnya. Spiritualitas semua agama lahir dari ketakutan manusia terhadap alam dan hal-hal yang belum dapat dipahaminya secara rasional. Perlu Anda ketahui, bila spiritualitas dari malaikat tidak menyesatkan manusia, kami pun tidak mempersoalkannya. Tetapi, kenyataannya, semua agama, baik yang buatan manusia ataupun malaikat, tidak banyak membantu dalam mencapai kemajuan manusia. Anda bisa melihat, segala kemajuan yang kita capai sekarang ini adalah hasil rasionalitas. Segala macam ilmu dan teknologi yang bermanfaat bagi manusia berasal dari rasionalitas. Bahkan, Anda sendiri mampu memimpin masyarakat Anda dengan teknologi, bukan dengan spiritualtias, apalagi dogma agama.”

Sang Raja sedikit tertegun, namun kemudian berkata, “Bukankah kemandirian manusia yang Anda maksud juga telah digunakan manusia untuk memilih? Dalam hal ini, memilih beragama atau tidak. Anda bisa melihat ada manusia yang memilih tidak beragama, bahkan tidak ber-Tuhan, selain manusia yang bergama. Perlu Anda sadari, beragama atau tidak adalah hak manusia untuk memilihnya, sesuai kemandirian akal dan budinya. Menurut saya, malaikat atau siapa pun sudah telanjur menyebarkan agama kepada manusia, dan ini tidak bisa dicegah lagi. Sekarang tinggal manusia sendiri yang menggunakan haknya untuk memutuskan memilih agama atau tidak. Contohnya, Anda memilih tidak beragama, sedangkan saya memilih beragama. Mengapa kita tidak saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai?”

Sampai sejauh ini, Tuan Bangau dan anggota ‘Figure of Eight’ lainnya menjadi terdiam. Wajah-wajah mereka tetap tampak tenang, namun ketegangan semakin memuncak yang terlihat dari sorot mata mereka.

“Hidup berdampingan secara damai adalah impian semu dalam hal ini. Bagaimana bisa damai bila ketika kami meminum alkohol maka kalian mengutuk kami? Bagaimana bisa damai bila pola hubungan seks kami kalian jadikan alasan untuk melempari pelakunya dengan batu hingga mati? Dan masih banyak lagi pertentangan-pertentangan yang tidak dapat dicari solusinya. Selamanya, agama akan menghambat hubungan antar-manusia,” tutur Tuan Bangau.

Sang Raja menimpali, “Mengapa Anda begitu yakin bahwa rasionalitas adalah hal terbaik bagi manusia? Bukankah rasionalitas juga menghasilkan permusuhan antar-manusia? Sebagai contoh, sistem keuangan adalah salah satu mesin permusuhan yang paling dahsyat saat ini. Selain itu, manusia menjadi lebih berpotensi untuk bertikai karena adanya teknologi senjata. Itu belum termasuk pengorbanan kemanusiaan demi kepentingan teknologi atau industri.”

“Kami yakin bahwa rasionalitas pada akhirnya akan membahagiakan seluruh manusia, sejauh syaratnya terpenuhi.”

“Apa syaratnya?”

“Hilangnya seluruh spiritualitas kuno dari muka bumi.”

Tidak ada kompromi?

“Tidak.”

“Kalau begitu, saya tidak bisa bergabung dengan Anda semua.”

“Kami pun tidak akan membiarkan Anda terus menyebarkan keyakinan Anda.”

“Apa yang akan Anda lakukan?”

Hening. Tak ada lagi yang bersuara di ruangan itu. Kali ini, wajah-wajah ‘Figure of Eight’ berubah menjadi tegang. Tiba-tiba, Tuang Bangau mengeluarkan sebuah poci kecil, mengguncang-guncangkannya, membuka tutupnya, lalu menyiramkan isinya ke wajah Raja Jonggol, sambil berteriak, “Ini warisan spiritualitas kuno yang dijaga selama berabad-abad oleh orang yang meyakininya, sekarang akan menaklukkan dirimu. Ini darah Yesus!”

Raja Jonggol tak sempat mengelak. Darah kental yang sudah berusia ribuan tahun itu pun menerpa wajahnya. Saat itu juga, Sang Raja tak sadarkan diri. Mr. Pelican kemudian menyeka wajah Sang Raja sehingga bersih, lalu menegakkan kepala Sang Raja hingga posisi duduknya sempurna. Mr. Pelican kemudian mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya. Dia lalu membacakan sesuatu dalam bahasa Indonesia, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.” Kalimat itu dibacanya hingga tujuh kali.

“Setelah sadar nanti, dia akan menjadi pengikutmu yang setia Mr. Pelican. Apa pun yang engkau katakan, akan dipatuhinya. Peliharalah dia baik-baik dan jadikan dia bidak kita yang paling berharga di dunia timur,” papar Tuan Bangau dengan nada lega dan puas. “Wild Rose dan Letter of the Death telah berfungsi dengan baik,” imbuhnya.

Tuan Bangau pun memberi tanda dengan bahasa tubuh agar ‘Figure of Eight’ meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Sang Raja sendirian hingga tersadar. Wajah mereka terlihat senang sekali. Terlebih Mr. Pelican yang senyum alamiahnya semakin kentara.

berlanjut ke cerita 14

Cerita 12: Pertemuan di Bangkok

Di sinilah awal pertempuran nasib dunia berlangsung

Kepala pengawal Istana Jonggol tahu bahwa lawan-lawan Sang Raja adalah pria-pria tua yang berasal dari Eropa. Apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat juga dapat diciumnya, karena sesungguhnya kepala pengawal telah “berinteraksi” dengan kelompok rahasia itu selama beberapa tahun belakangan. Orang-orang suruhan kelompok itu telah beberapa kali melancarkan serangan, dan sebagian ada yang tertangkap. Dari merekalah diperoleh informasi untuk dianalisis. Meski mereka berusaha membunuh dirinya sendiri saat tertangkap, toh ada yang bisa “diselamatkan”. Kepala pengawal juga berteori bahwa agresivitas pria-pria tua itu belakangan meningkat karena mereka merasa keberadaan dirinya sudah terdeteksi oleh Istana Jonggol.

Kini, ketika kepala pengawal tahu bahwa pria-pria tua itu akan melakukan sesuatu dengan datang ke timur dan harus mencegat pria-pria tua itu di Bangkok, ia merasakan suatu tantangan besar. Wajah-wajah mereka tentu belum dikenalnya. Demikian pula dengan nama-nama mereka.

“Bila kita ingin mengetahui macan mana yang menyukai daging bakar, maka kita harus menaruh daging bakar di kandang mereka. Macan yang memakannya berarti menyukainya,” ujar kepala pengawal kepada enam anak buah terbaiknya. Mereka mengerti maksud kalimat kiasan itu.

Kemudian salah seorang berkata, “Bagaimana cara menaruh Sang Raja di hadapan mereka?”

“Karena mereka itu tidak kita kenali, berarti kita anggap mereka itu adalah semua orang. Kita harus menampilkan Sang Raja di depan semua orang di Bangkok, juga Singapura, tempat pesawat mereka mendarat pertama kali. Orang yang berkepentingan dengan Sang Raja pasti akan tertarik dan mendatanginya,” jawab kepala pengawal.

“Bagaimana bila mereka menduga ini hanya pancingan?”

“Selama Sang Raja benar-benar ada di Bangkok, mereka tidak akan pergi dari sana.”

Selanjutnya di koran-koran Singapura dan Thailand muncul iklan perhelatan seminar tentang arkeologi Indonesia di Conrad Hotel, Bangkok, dengan pembicara Dr. Pandujaya Putrawisesa yang tak lain adalah Sang Raja. Topik seminar tentang arkeologi dipilih karena itu memang keahlian akademisnya sebagai dosen.

Di sebuah kamar suite Orchard Hotel, Singapura, delapan anggota ‘Figure of Eight’ duduk melingkari sebuah meja bundar. Di meja itu terdapat beberapa koran lokal dan koran Thailand.

“Aku yakin ini cara mereka untuk memancing kita memperlihatkan diri,” cetus Mr. Pelican.

“Mereka menunggu kita di luar rumahnya…” ujar seorang yang lain.

“Cukup cerdik, tetapi terlalu berani…” komentar yang lain lagi.

“Aku tidak menduga mereka memiliki keyakinan yang demikian kuat untuk menghadapi kita…” cetus seorang yang lainnya.

“Kita tidak boleh terbawa ke dalam permainannya!” geram Mr. Pelican,
“Kita harus tetap menutup diri, hingga mereka tidak sabar menunggu kita dan kembali ke rumahnya.”

Suasana hening. Tidak ada yang bicara lagi. Namun, tiba-tiba Tuan Bangau angkat bicara. “Benar. Kita tunggu. Aku ingin mengetahui sejauh apa mereka berkeyakinan untuk melawan kita.”

Tidak ada kejadian apa pun dalam seminar arkeologi yang digelar di Bangkok. Juga tidak ada tanda-tanda serangan atau pendekatan lain. Namun, Sang Raja tidak kehilangan kesabaran. Bahkan, dia kemudian muncul di televisi-televisi lokal Thailand dalam acara talk show tentang arkeologi Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Sang Raja pun menandatangani kerja sama ekskavasi situs kuno dengan Universitas Chulalongkorn. Situs itu diduga berkaitan dengan interaksi kerajaan Majapahit dengan kerajaan lokal di Ayodhyapura (Ayuthia di pedalaman Thailand) pada abad ke-14 sampai ke-15.

Mengetahui bahwa Raja Jonggol justru akan semakin lama berada di Thailand, para anggota ‘Figure of Eight’ pun kembali berkumpul.

“Sampai kapan kita menghindar?” ujar seorang di meja bundar.

“Apakah kita tidak tampak seperti pengecut di mata lawan kita?” cetus yang lainnya.

“Saya kira, dia sudah membuka diri sedemikian rupa di luar rumahnya dan itu sebenarnya tindakan yang melecehkan kita,” ungkap yang lainnya lagi.

“Baiklah. Kita sudah menunggu. Dan kita tidak pernah tahu akan menunggu sampai kapan lagi. Aku kira, mungkin inilah saatnya, saat untuk membuktikan bahwa keyakinan dapat memenangkan hati dan pikiran kita. Dan bila ini adalah saatnya, maka mari kita lakukan niat kita dengan sebaik-baiknya,” tutur Tuan Bangau. Kali ini, Mr. Pelican memilih diam dan mendengar. Wajahnya masih tampak seperti sedang tersenyum.

Pagi hari, ketika Sang Raja tengah memimpin ekskavasi, datang sepucuk surat. Isinya mengundang Sang Raja untuk makan malam di private restaurant Hotel Mandarin Oriental, Bangkok. Harap dengan senang hati menerima undangan ini. Tanpa ada identitas pengirim.

Sang Raja datang memenuhi undangan itu. Kepala keamanan Raja Jonggol sebelumnya telah memberi tahu kepala keamanan hotel bahwa Raja Jonggol tengah makan malam di situ. Kegiatan di private restaurant itu pun mendapat pengawasan yang cukup. Artinya, tidak mungkin terjadi pertempuran dengan senjata modern atau kegiatan kekerasan lain. Karena hal itu akan mengundang petugas keamanan hotel –memantau via CCTV– untuk ikut campur.

Sang Raja menyandang mahkota khas Arjuna dari wayang orang Jawa dan baju zirah Hayam Wuruk, serta tongkat komando patih Gadjah Mada di pinggang kanan, dan Kujang Parbu Siliwangi di pinggang kiri. Tak ketinggalan, topeng mahapatih Gadjah Mada tergantung di dadanya, siap untuk dikenakan.

‘Figure of Eight’ telah menunggu di meja, yang lagi-lagi berbentuk bundar. Ada satu kursi kosong, yang sengaja disediakan untuk Raja Jonggol. Tidak ada senyum di wajah mereka. Namun, jelas tampak garis-garis kematangan dalam kedewasaan pada ekspresi mereka. Melihat wajah Mr. Pelican, spontan Raja Jonggol membalas dengan senyuman.

–berlanjut ke cerita 13–

Rajah Khan yang Pilu

Salah satu wanita yg sering bertegur sapa denganku di Hunza

Salah satu wanita yg sering bertegur sapa denganku di Hunza

Aku melihatnya hanya sebagai seorang lelaki Hunza yang polos. Hasrat kelelakian khas pria Asia Tengah –yang menurutku mungkin mirip dengan karakter lelaki Timur Tengah– telah membuatnya mendekati diriku. Aku wanita cantik –tanpa bermaksud takabur– dan juga seksi. Yup, cuma sebatas itu pemahamanku tentang hubunganku dengan Rajah Khan. Ada gula, ada semut. Ada wanita berpenampilan menarik, ada pria yang mendekati. Aku juga perlu teman di negeri asing, dan Rajah perlu wahana untuk menyalurkan jiwa lelakinya. Selesai.

Tetapi, rupanya, kali ini, aku terlalu dangkal dalam berpikir. Mungkin karena sesungguhnya akulah yang polos. Ya, mungkin aku memang polos dan tolol! Dan Rajah adalah seorang pria rumit yang sukses dengan misinya. Rajah bukanlah pria yang berpikir dengan benda di antara dua pangkal pahanya, sebagaimana yang selama ini aku sangkakan padanya. Aku telah salah menduga. Aku bodoh!

Betapa tidak! Ketika aku tiba dari Kashgar, dan menyelinap diam-diam ke penginapanku di Hunza, jantungku nyaris lepas karena ada seorang lelaki yang telah menungguku di dalam kamar. Dialah Rajah. Aku berpikir dia akan melampiaskan rasa cintanya yang selama ini diucapkannya, secara membabi buta, kasar, dan biadab. Aku merasa akhirnya tiba juga hari tanpa kemujuran itu. Aku pun siap untuk berkelahi melawan dia. Hidup atau mati. Tiba pula saat di mana ilmu jiu-jitsu yang aku pelajari selama di Indonesia untuk digunakan. Aku tak pernah bisa diperkosa! Itu sumpahku.

Tapi, tiba-tiba suara lembut yang biasa kudengar itu keluar dari bibirnya. “Maafkan aku karena menerobos kamarmu. Tapi, aku harus melakukannya. Kita harus bicara…”

Tubuhku yang siaga, tiba-tiba melunak. Otot-ototku mengendur kembali. “Ada apa Rajah?” tanyaku dengan suara lembut juga. Aku berusaha makin melunakkan suasana, agar situasi terkendali.

“Aku tahu kepergianmu ke Kashgar. Aku juga tahu kau menjumpai siapa dan apa yang kau bicarakan,” tutur Rajah.

Hah?! Gawat! Rajah mata-mata militer China?! Mata-mata musuh Jonggol?! Matilah aku. Seketika mataku langsung menelisik ke luar lewat jendela kamarku, kalau-kalau sejumlah intel China atau siapa pun telah datang dan siap menangkapku. Ternyata tak ada siapa-siapa. Hanya puncak Rakaposhi yang tampak selalu bersalju begitu indahnya. Aku beringsut dari posisiku berdiri mendekat ke arah jendela. Aku siap untuk melompat keluar. Pintu bukanlah jalur yang akan kutempuh, karena pasti di baliknya telah siap sejumlah orang untuk meringkusku.

“Tenanglah… aku ada di pihakmu…,” tiba-tiba suara Rajah memecah kesunyian. “Kami akan membantumu… Duduklah…”

Duduk?! Aku tetap berdiri. Dan Rajah pun bicara lagi. “Sudah lama aku menanti saat ini, untuk bicara dengan seorang yang seharusnya mengetahui siapa diriku, dan dapat bekerja sama denganku…”

Aku sedikit tercengang. Kali ini Rajah kelihatan berbeda, dia lebih serius, sekaligus misterius. Tapi, aku tetap diam, sambil waspada, dan penasaran tentang siapa dirinya.

Rajah melanjutkan, “Aku tahu tentang adanya orang kuat di Indonesia, di Jonggol, yang banyak melakukan terobosan penting untuk dunia Islam. Aku juga mendengar sekarang pihaknya sedang dilanda masalah besar dalam bentuk penyakit misterius. Aku juga ingin bilang bahwa sudah lama kami ingin berkomunikasi dengannya, meski belum terwujud. Tapi, terus terang aku tak menyangka salah satu kunci penting Jonggol ada di sini, di depanku.”

Sampai di sini aku belum menangkap inti dari pembicaraan Rajah. Tapi, melihat wajahnya yang masih siap meneruskan kata-katanya, aku pun tetap diam.

“Aku memang selama ini memantau dirimu, siang dan malam. Setiap kegiatan dan perilakumu tak luput dari pengamatan. Termasuk kepergianmu ke Kashgar. Dari pemantauan di Kashgar itulah kami tahu siapa dirimu dan memutuskan untuk melindungi sekaligus bekerja sama dengan pihakmu.”

Mulai terasa jelas arah pembicaraan Rajah. Dia ingin melindungi dan bekerja sama dengan aku. Dan untuk kedua kalinya dia menggunakan pronomina kami, yang berarti Rajah tidak sendirian dalam hal ini.

Sayangnya, Rajah kemudian kelihatan tak akan melanjutkan kalimat-kalimatnya. Dia sepertinya memancing diriku untuk menanggapi. Tapi, aku memilih diam juga. Aku menguji moralnya. Bila dia jujur dan sungguh-sungguh, maka pembicaraan ini akan berlanjut dengan baik. Tapi, bila dia punya niat kurang baik, maka sedikit demi sedikit akan terkuak.

Dan mungkin Rajah jujur, karena dia melanjutkan ucapannya. “Kami akan membantumu untuk bisa keluar dari Pakistan dan kembali ke negaramu. Tentu saja, setelah engkau meramu obat sebagaimana yang disarankan arkeolog Prancis di Kashgar. Cepat atau lambat, musuh Jonggol akan menemukanmu di sini, karena militer China juga sudah tahu siapa sesungguhnya dirimu. Setiap konfirmasi intelijen yang dilakukan militer China akan mengungkap identitasmu yang sesungguhnya, hingga tercium oleh musuh Jonggol yang telah menyebar penyakit misterius itu.”

Yup, akhirnya terungkap juga hal konkret dari rangkaian ucapan Rajah. Dan terus terang itu adalah tawaran yang menarik bagiku. Tetapi, apakah dia begitu sukarela membantuku, tanpa imbalan?

Aku bertanya, “Lalu apa yang harus kuperbuat untukmu bila aku bersedia kau bantu untuk keluar dari Pakistan?”

Rajah menghela napas. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan dilipat di dada. Suatu bahasa tubuh yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Kami hanya ingin engkau selamat dan kembali ke negerimu. Itu saja. Sukar dipercaya? Perlu kau tahu, suatu saat nanti kami akan datang ke Jonggol dan bicara dengan kalian tentang banyak hal. Tapi, rencana itu tak akan berhasil jika engkau tidak selamat. Rencana kami untuk bekerja sama dengan pihakmu akan gagal bila penyakit misterius yang menyerang Jonggol tidak segera diatasi. Selain itu, bila engkau tertangkap atau mati oleh musuh Jonggol, rencana kami juga bisa batal, sebab engkau adalah penerus kepemimpinan kaummu. Karena itu, keselamatan dirimu adalah berkah bagi kami,” bebernya.

Tapi, bagaimana aku bisa mempercayainya? Apakah Rajah bersih dari musuh Jonggol? Atau justru dia akan menggiringku ke mulut harimau?

Di tengah kebimbanganku, Rajah bicara lagi. “Catherine…,” dia memulainya dengan menyebut namaku, sebagaimana biasanya bila dia merayuku. Kali ini aku merasa Rajah yang “asli” sudah kembali. “Kalau kami adalah musuh Jonggol, maka aku tak akan bicara panjang lebar padamu. Kami akan langsung meringkusmu sejak tadi. Engkau tidak dikenal di sini. Orang-orang di sini melihatmu hanyalah seorang turis.”

Ah, benar juga Rajah. Dia sepertinya jujur. Dan aku mulai sedikit mempercayainya. Seketika itu juga aku teringat hal-hal “aneh” yang kutangkap dari Rajah selama beberapa bulan aku di Hunza. Berbagai hal yang semula hanya kuanggap sebagai ekspresi dirinya. Seperti misalnya, dia suka gonta-ganti potongan rambut, makan dengan tangan kanan tapi di kesempatan lain dengan tangan kiri, dan menghilang bila aku ingin jumpa dan datang sesukanya. Bahkan, pernah suatu ketika aku melihat di sekujur lengannya terdapat bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk. Aku mengira dia terkena penyakit kulit, tetapi beberapa hari kemudian tangannya kembali mulus.

Aku memang terlalu polos dalam memandang Rajah. Aku telah “tertipu” oleh sikap manisnya kepadaku. Ternyata dia adalah “seseorang”. Aku sekarang tahu dia adalah orang yang memiliki tugas penting untuk kaumnya. Bahkan, mungkin dia juga seorang pembuat konsep, sekaligus operator lapangan dari rencana kaumnya.

Setelah aku menyetujui rencana pelarianku untuk keluar dari Hunza, aku dan Rajah pun kembali ke suasana yang biasa kami lalui, rileks dan mengalir bagai air sungai di Jonggol yang permai.

Dia sempat berkata, “Kematian ayahku telah membuat ibuku menjauhkan aku dari kegiatan yang pernah digelutinya bersama ayahku. Dan ibuku berhasil. Dia benar-benar telah ‘menghilangkan’ dirinya. Tidak ada yang mencari atau menghubunginya sama sekali. Menurut perkiraanku, ibuku dianggap hanyalah seorang istri, murni istri, dari seorang pejuang. Tidak lebih. Sampai kini, dia benar-benar tidak dianggap siapa-siapa,” papar Rajah. Lalu ia melanjutkan dengan nada masgul, “Tapi, aku sebagai anaknya, telah mengkhianati tekad ibuku untuk hidup sebagai orang biasa. Dan ibuku tidak tahu apa yang telah kulakukan selama ini…”

Rupanya, Rajah adalah seorang ‘pejuang kaumnya’. Pejuang yang melawan penindasan pihak lain yang dianggapnya sebagai kejahatan. Pihak yang mungkin sama dengan yang sekarang mengancam Jonggol.

–Berlanjut ke cerita 12–

  • Calendar

    • September 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Search