Pembalasan dari Raja Jonggol

The Tower Kemayoran

Tiga hari setelah peristiwa di private restaurant di hotel Mandarin Oriental Bangkok, Sang Raja mendapat sepucuk surat yang isinya meminta agar dirinya menemui seseorang di sebuah private restaurant di The Tower Kemayoran, salah satu gedung tertinggi di dunia yang dibangun pada 2014-2018. Artinya, Sang Raja dan tujuh pengawalnya harus kembali ke Tanah Air. Harap dengan senang hati memenuhi undangan ini. Demikian kalimat di akhir surat yang tanpa disertai identitas pengirim.

“Mereka mengundang kita lagi. Aku tak tahu apa yang kali ini mereka rencanakan. Tetapi, satu hal yang pasti, mereka percaya bahwa aku telah takluk. Aku menduga, mereka akan mulai mengendalikan diriku,” ujar Sang Raja.

“Apakah kita akan memenuhi undangan ini?” tanya kepala pengawal.

Raja terdiam. Lalu dia mulai berjalan ke sebuah meja di mana pusaka-pusaka Tanah Air diletakkan. Dia pun memegang benda-benda itu satu per satu.

“Mereka mengira telah menang, padahal sama sekali belum. Pertempuran yang sesungguhnya belumlah dimulai Ya, kita akan menemui mereka. Sudah saatnya untuk menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya!” tutur Sang Raja.

***

Lagi-lagi ‘Figure of Eight’ duduk mengitari sebuah meja bundar. Apakah private restaurant ini, atau bahkan menara kebanggaan Indonesia ini, juga sudah dikuasai kelompok pria bule tua yang berjumlah delapan orang? Hmm, yang jelas, Sang Raja tidak mau kecolongan lagi. Dipasanglah sebuah detektor detak jantung di cincin kirinya, juga sebuah detektor gerak bola mata di jam tangannya. Kedua alat itu akan memberi peringatan kepada Sang Raja, berupa getaran, bila degup jantung orang-orang di dekatnya bertambah cepat atau bola matanya bergerak liar. Itu adalah tanda-tanda seseorang akan menyerang. Dengan demikian, Sang Raja akan siap melakukan antisipasi.

“Selamat datang, Teman,” Mr. Pelican menyapa Sang Raja yang baru saja mendekati meja bundar. Sama seperti pertemuan pertama, seluruh anggota ‘Figure of Eight’ berdiri menyambut tamunya.

“Terima kasih dan selamat siang,” jawab Sang Raja.

“Engkau kini adalah sahabat kami. Dan kami merasa senang mendapat teman seperti dirimu,” ujar Mr. Pelican yang kali ini memimpin rekan-rekannya, sedangkan Tuan Bangau lebih banyak diam dengan sikap berwibawanya.

“Aku juga senang mengenal kalian. Tetapi, untuk apa aku diundang ke sini?” ujar Sang Raja.

“Kita akan mulai melakukan beberapa pekerjaan di Indonesia. Dan karena engkau adalah tokoh di negeri ini, maka kami akan meminta pendapatmu,” jawab Mr. Pelican.

“Tentang apa?”

“Tentang bagaimana agar kita memiliki sahabat yang menjadi presiden di negeri ini. Maksud saya, tentang bagaimana membantumu agar dapat menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden.”

“Bukankah teman kita sudah banyak yang menjadi tokoh penting di negeri ini, misalnya menjadi menteri atau pimpinan perusaaan besar nasional?”

“Memang benar. Tetapi, kami memerlukan teman seorang presiden di sini, sebagaimana kami memilikinya di banyak negara lain.”

“Bagaimana cara kalian melakukan itu?”

“Tentu dengan cara yang terbaik. Kita akan mengikuti pola yang ada sekarang, sehingga memiliki legitimasi yang kuat. Tetapi, kami akan melakukan lobby internasional agar dirimu memiliki citra yang kuat di mata dunia. Bukankah di dalam negeri engkau akan mudah mendapat dukungan?”

Raja terdiam sesaat. Menghela napas pelan. Lalu berkata dengan mantap, “Benar. Tetapi, apakah kalian sudah sepakat dengan prinsip spiritualitas yang kami junjung tinggi?”

Mr. Pelican tersentak. Orang-orang lain di meja bundar pun tak kalah terkejut.
“Maksudmu?” tukas Mr. Pelican.

“Maksudku, aku tidak dapat memimpin negeri ini hanya dengan rasionalitas semata. Kami memiliki spritualitas yang tidak dapat kami abaikan begitu saja.”

Serempak punggung anggota ‘Figure of Eight’ terlepas dari sandaran kursinya. Mereka merasakan ada yang kurang beres. “Mengapa darah ini gagal? Bukankah terhadap orang lain selalu berhasil? Apakah waktu itu kau sudah membaca kertasmu dengan benar?” cerocos Tuang Bangau diarahkan kepada Mr. Pelican.

Belum sempat Mr. Pelican menjawab, Tuan Bangau sudah mengeluarkan poci perak dari sakunya, membuka tutupnya, lalu mengguncang-guncangkannya, dan siap untuk menyiramkan isinya ke arah Sang Raja.

Bersamaan dengan tanda getar pada cincin dan jam tangannya, Sang Raja memasang topeng Gadjah Mada di wajahnya. Sedangkan tangan kirinya telah memegang gagang Kujang Prabu Siliwangi, dan tangan kanannya menggenggam tongkat komando patih Gadjah Mada. Sepersekian detik kemudian, darah kental melompat di udara dan mendarat di topeng yang menutupi wajah Sang Raja. Timbul suara desis seperti ular, lalu asap hitam tipis mengepul dari permukaan topeng. Topeng yang selama berpuluh tahun diperebutkan klaim lokasi keberadaannya oleh pemda Bali dan Jawa Timur ini tampak mewakili ketenangan pemakainya. Dan aura dari benda bersejarah itu, serta bunyi desis yang ditambah asap hitam di permukaannya, membuat para lelaki kulit putih itu terkesima.

Para lelaki tua bule masih duduk di tempatnya masing-masing. Wajah mereka seperti menanti sesuatu terjadi. Sejurus kemudian, di tengah kevakuman itu, Sang Raja menarik tongkat dari pinggang kanannya dan menunjuk satu per satu wajah ‘Figure of Eight’. Sesaat setelah itu, mereka tampak kaku seperti patung.

Sayangnya, belum sempat giliran Mr. Pelican mendapat hipnotis, lelaki itu sudah meninggalkan ruangan dengan begitu cepat. Sang Raja memutuskan untuk membiarkan hal itu dengan asumsi para pengawalnya akan mengejar dan menangkapnya.

“Darah yang menempel di topeng ini adalah simbol kejahatan yang paling besar dalam sejarah manusia. Sebuah pengkhianatan terhadap cinta dan kasih sayang, meskipun kalian tidak menyadarinya. Dan kalian telah memanfaatkannya untuk tujuan yang egois. Mungkin ada niat baik bagi kemanusiaan di dalam pikiran kalian, tetapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya adalah juga sebuah kejahatan. Itulah mengapa kita memerlukan spiritualitas agar tidak tersesat di dalam tujuan yang menghalalkan cara. Itulah kompromi yang sempat kutanyakan pada kalian sebelumnya. Tetapi, kalian enggan berkompromi. Sekarang, aku minta, atas nama kebajikan yang diwariskan Tuhan ke dalam batin setiap manusia, jadilah kalian manusia yang menghayati rasa dan hati. Semua ucapanku akan selalu kalian ingat dan akan mengubah diri kalian…,” ujar Sang Raja sambil mengitari meja bundar dan menempelkan Kujang ke kepala setiap anggota ‘Figure of Eight’.

Berlanjut ke cerita 17

Advertisements
  • Calendar

    • November 2017
      M T W T F S S
      « Mar    
       12345
      6789101112
      13141516171819
      20212223242526
      27282930  
  • Search